Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5007 tentang Hati Ammar dipenuhi iman

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memuji sahabat mulia Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu karena keimanannya yang sangat kuat dan meresap sampai ke tulang dan sendi-sendinya. Ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar ucapan, tetapi keyakinan yang mengakar dalam hati dan tampak dalam amal. Para ulama memakai hadits ini sebagai dalil bahwa iman itu bertingkat-tingkat dan bisa mengisi seluruh jiwa seseorang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab al-Iman wa Syara'i'uhu, Bab Fadhlu Ahlil Iman, dari 'Amr bin Syurahbil dari seorang sahabat Nabi ﷺ.

Teks hadits:

مُلِئَ عَمَّارٌ إِيمَانًا إِلَى مُشَاشِهِ

Terjemahan: "Ammar telah dipenuhi keimanan hingga ke tulang-tulangnya (sendi-sendinya)."

Kata "مُشَاشِهِ" (musyasyihi) berarti ujung-ujung tulang atau sendi-sendi tubuh. Maknanya: iman telah meresap ke seluruh tubuh Ammar, bukan hanya di lisan atau permukaan hatinya.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keimanan yang mengakar di hati:

QS. Al-Hujurat [49]: 14

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Terjemahan: "Orang-orang Arab Badui berkata: 'Kami telah beriman.' Katakanlah: 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah berislam.' Dan iman belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Ayat ini menunjukkan bahwa iman memiliki kedudukan yang lebih dalam daripada sekadar Islam secara lahir. Iman yang benar adalah yang masuk dan menetap di dalam hati — sebagaimana yang terjadi pada Ammar bin Yasir.

Penjelasan Rinci

Hadits ini dipahami oleh para ulama dalam beberapa sisi penting:

Pertama: Kedudukan Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu.

Ammar adalah salah satu sahabat yang paling awal masuk Islam, berasal dari keluarga yang disiksa di jalan Allah. Ibunya, Sumayyah, adalah syahidah pertama dalam Islam. Nabi ﷺ pernah memuji Ammar secara khusus. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa pujian Nabi ﷺ kepada Ammar menunjukkan keutamaan dan keimanan yang kokoh pada diri beliau.

Kedua: Makna "dipenuhi iman hingga ke tulangnya".

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah bentuk pujian yang sangat tinggi, menunjukkan iman yang sempurna dan meresap. Iman bukan hanya di lisan, tetapi telah menjadi bagian dari seluruh jasadnya — memengaruhi ucapan, perbuatan, dan seluruh gerak-geriknya.

Ketiga: Iman bertingkat-tingkat.

Ibn Taymiyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa iman itu bertingkat sesuai kadar keyakinan dan amal seseorang. Hadits ini menjadi dalil bahwa sebagian sahabat memiliki derajat iman yang lebih tinggi dari yang lain, dan Ammar termasuk yang sangat tinggi derajatnya.

Keempat: Kaitan dengan ayat Al-Hujurat 14.

As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat tersebut membedakan antara Islam lahiriah dan iman yang hakiki. Iman yang hakiki adalah yang masuk ke dalam hati, membuahkan amal saleh, dan menjadikan seseorang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ammar adalah contoh nyata dari iman yang telah masuk ke dalam hati hingga ke tulang.

Kelima: Perbedaan pendapat ulama tentang definisi iman.

Para ulama dari daftar yang disebutkan — seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad — sepakat bahwa iman itu mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal perbuatan. Yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat Ahlus Sunnah ini, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Taymiyyah, Ibn Rajab al-Hanbali, dan Ibnu Hajar. Hadits Ammar ini mendukung pandangan tersebut, karena iman yang "memenuhi" Ammar bukan hanya keyakinan di hati, tetapi juga tampak dalam amal dan perjuangannya.

Story Telling

Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu adalah salah satu kisah paling mengharukan dalam sejarah Islam. Beliau, ayahnya Yasir, dan ibunya Sumayyah adalah keluarga yang paling keras disiksa oleh kaum Quraisy karena keislaman mereka. Sumayyah radhiyallahu 'anha syahid di tangan Abu Jahal — wanita pertama yang mati syahid dalam Islam. Ammar sendiri disiksa dengan berbagai cara, namun imannya tidak pernah goyah.

Nabi ﷺ pernah melewati mereka saat disiksa dan bersabda: "Sabarlah, wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga." (Disebutkan oleh Ibn Katsir dalam kitabnya).

Ketika Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah, Ammar ikut serta dan menjadi salah satu tokoh penting. Beliau ikut dalam Perang Badar, Uhud, dan seluruh peperangan bersama Nabi ﷺ. Dalam Perang Siffin, beliau syahid di usia yang sudah lanjut. Hadits "Ammar dipenuhi iman hingga ke tulangnya" adalah bukti bahwa seluruh hidupnya — dari muda hingga syahid — adalah perjuangan iman.

Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa para salaf sering menjadikan Ammar sebagai teladan dalam keteguhan iman di tengah ujian.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi harus meresap ke dalam hati dan tampak dalam amal perbuatan.
  2. Hendaknya kita berusaha meningkatkan kualitas iman, karena iman itu bertingkat-tingkat.
  3. Keteguhan Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu dalam menghadapi siksaan adalah teladan bagi kita dalam menghadapi ujian hidup.
  4. Pujian Nabi ﷺ kepada Ammar menunjukkan bahwa keimanan yang kuat adalah kemuliaan yang paling tinggi.
  5. Hendaknya kita meneladani para sahabat dalam kesabaran, keteguhan, dan pengorbanan untuk Islam.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?