Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa iman itu memiliki cabang-cabang yang banyak, sekitar tujuh puluh lebih. Cabang yang paling utama adalah ucapan "Lā ilāha illallāh", dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sifat malu (al-hayā') juga termasuk salah satu cabang iman yang penting. Ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya keyakinan dalam hati, tetapi juga mencakup ucapan dan perbuatan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal." (QS. Al-Anfāl [8]: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa iman bisa bertambah dan berkurang, sesuai dengan amal dan ketaatan seseorang.
Hadits:
Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ini terdapat dalam Sunan An-Nasa'i (no. 5005), juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 35) dan lainnya. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa iman memiliki cabang-cabang yang beragam.
Penjelasan Ulama:
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan iman itu terdiri dari keyakinan dalam hati, ucapan lisan, dan amalan anggota badan. Beliau berkata, "Iman memiliki cabang-cabang yang banyak, dan semua cabang itu adalah bagian dari hakikat iman."
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Madarij as-Salikin juga menegaskan bahwa iman mencakup perkataan dan perbuatan, dan bahwa malu termasuk cabang iman karena malu mendorong seseorang untuk meninggalkan kemaksiatan dan melakukan ketaatan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits agung yang menjelaskan hakikat iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Berikut penjelasan rincinya:
1. Makna "Iman memiliki tujuh puluh cabang lebih"
Angka tujuh puluh di sini bukanlah batasan pasti, tetapi menunjukkan banyaknya cabang iman. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, "Yang dimaksud dengan cabang-cabang iman adalah amal-amal ketaatan yang termasuk dalam keimanan." Ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya keyakinan hati, tetapi juga amal perbuatan.
2. Cabang iman yang paling utama: "Lā ilāha illallāh"
Ucapan ini adalah inti dari tauhid. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kalimat ini adalah kunci surga dan dasar diterimanya amal. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah berkata, "Kalimat ini adalah yang paling utama karena dengannya seseorang masuk Islam dan dengannya pula ia keluar dari kekafiran."
3. Cabang iman yang paling rendah: Menyingkirkan gangguan dari jalan
Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kebersihan dan kenyamanan umum. Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya membuat bab khusus tentang hal ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, "Bahkan menyingkirkan duri atau batu dari jalan adalah bagian dari iman, karena itu menunjukkan keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir."
4. Malu adalah cabang iman
Sifat malu (al-hayā') adalah akhlak mulia yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan buruk. Imam Ibn Rajab rahimahullah berkata, "Malu adalah cabang iman karena malu mencegah seseorang dari maksiat dan mendorongnya untuk melakukan kebaikan." Beliau juga menukil perkataan Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, "Malu dan iman selalu bersama; jika salah satunya hilang, yang lain pun ikut hilang."
Perbedaan pendapat di kalangan ulama:
Ada perbedaan tentang apakah malu termasuk fitrah atau hasil usaha. Namun, Imam Ibn Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa malu ada dua: malu bawaan (fitrah) dan malu yang diperoleh dari kesadaran beragama. Keduanya termasuk cabang iman jika digunakan untuk ketaatan.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah ﷺ melewati seorang lelaki dari kalangan Anshar yang sedang menasihati saudaranya tentang sifat malu. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Biarkanlah dia, karena sesungguhnya malu itu adalah bagian dari iman.'" (HR. Al-Bukhari no. 24 dan Muslim no. 36)
Kisah ini menunjukkan bahwa sifat malu adalah akhlak terpuji yang diajarkan Islam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam Kitab at-Tauhid menyebutkan bahwa malu adalah salah satu bukti kesempurnaan iman seseorang.
Kesimpulan Praktis
- Iman itu mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal perbuatan.
- Perbanyaklah mengucapkan "Lā ilāha illallāh" dengan pemahaman dan pengamalan yang benar.
- Jangan meremehkan amal kecil seperti menyingkirkan gangguan dari jalan, karena itu adalah cabang iman.
- Jagalah sifat malu dalam berpakaian, berbicara, dan bergaul, karena malu adalah bagian dari iman.
- Iman bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat, maka perbanyaklah amal shalih.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.