Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5001 tentang Lima rukun Islam sebagai dasar agama

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa bangunan agama Islam berdiri di atas lima rukun utama: syahadat, shalat, zakat, haji, dan puasa Ramadan. Rukun-rukun ini adalah pondasi yang menjaga keutuhan iman dan amal seorang Muslim. Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma menjadikan hadits ini alasan untuk tidak serta-merta berangkat berperang, karena ia memahami bahwa menjaga pondasi Islam lebih utama. Para ulama Ahlus Sunnah memahami lima rukun ini sebagai dasar amal lahir yang menopang iman di dalam hati.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil utama adalah hadits ini sendiri, yang diriwayatkan oleh Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma dan dicatat oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Iman dan Rukunnya, Bab Berapa Pilar Islam Dibangun (no. 5001). Hadits semakna juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Ibn Umar, dan dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar serta sahabat lain.

Teks hadits:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصِيَامِ رَمَضَانَ

Terjemah ringkas: "Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadan."

Ayat yang menjadi landasan makna rukun-rukun ini antara lain:

QS. Al-Baqarah [2]: 43

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Terjemah: "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk."

QS. Al-Baqarah [2]: 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Terjemah: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa."

QS. Ali 'Imran [3]: 97

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Terjemah: "Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana."

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk hadits pokok (ushul) dalam bab iman dan rukun Islam. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama sepakat lima perkara ini adalah rukun Islam yang menjadi pondasi bangunan agama. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan Islam itu seperti bangunan yang memiliki tiang penopang; jika tiangnya roboh, bangunannya pun rusak.

Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menerangkan bahwa penyebutan "dibangun" memberi isyarat bahwa rukun-rukun ini saling menopang, bukan sekadar daftar amalan. Syahadat adalah pondasi keyakinan; shalat, zakat, puasa, dan haji adalah tiang-tiang amal yang menjaga keyakinan itu tetap tegak. Ibn Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa tauhid (isi syahadat) adalah asas seluruh agama, sedangkan amal-amal lain adalah konsekuensi dan penyempurnanya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa iman itu mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal anggota badan. Karena itu syahadat mencakup keyakinan dan ucapan, sedangkan shalat, zakat, puasa, dan haji adalah amal anggota badan yang menjadi bukti kejujuran iman. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Arba'in an-Nawawiyah menambahkan bahwa urutan penyebutan rukun ini menunjukkan tingkatan: syahadat paling utama, lalu shalat, zakat, puasa, dan haji — sesuai dengan kadar kewajiban dan keutamaannya.

Adapun sikap Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma yang menjawab dengan hadits ini ketika ditanya mengapa tidak berperang, para ulama menjelaskan bahwa beliau tidak sedang melarang jihad, melainkan mengingatkan bahwa menjaga rukun-rukun Islam yang wajib adalah prioritas. Ibn Rajab menyebutkan bahwa sebagian salaf lebih mengutamakan menunaikan kewajiban pokok daripada amalan sunnah yang tidak wajib. Ini bukan berarti meninggalkan jihad, karena jihad juga memiliki tempatnya ketika syaratnya terpenuhi di bawah kepemimpinan yang sah.

Perlu dicatat: hadits ini tidak menyebutkan bahwa rukun Islam hanya lima secara mutlak, tetapi lima ini adalah yang menjadi pondasi. Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits Jibril yang menyebutkan Islam, iman, dan ihsan, sehingga para ulama membedakan rukun Islam (amal lahir) dan rukun iman (keyakinan batin). Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menegaskan bahwa amal termasuk bagian dari iman, berbeda dengan sebagian kelompok yang mengeluarkan amal dari hakikat iman.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dan bertanya, "Mengapa engkau tidak ikut berperang?" Ibn Umar menjawab dengan menyebutkan hadits lima rukun Islam. Dalam riwayat lain, beliau dikenal sangat teliti dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ, sampai-sampai ia meneladani tempat-tempat berhenti Nabi ﷺ dalam perjalanan. Sikapnya ini menunjukkan bahwa seorang salaf lebih dahulu memastikan pondasi agamanya kokoh sebelum terjun ke medan yang membutuhkan izin dan syarat. Hikmahnya: jangan meremehkan kewajiban pokok, karena itulah yang menjadi penopang seluruh amal lainnya.

Kesimpulan Praktis

  • Jadikan lima rukun Islam sebagai prioritas utama dalam hidup: jaga tauhid, tegakkan shalat, tunaikan zakat, puasa Ramadan, dan berhaji bila mampu.
  • Pahami bahwa iman mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal anggota badan; jangan pisahkan amal dari iman.
  • Teladani sikap Ibn Umar radhiyallahu 'anhuma dalam mendahulukan kewajiban pokok dan berhati-hati dalam beramal.
  • Jangan meremehkan satu rukun pun, karena bangunan Islam bisa rusak jika tiangnya roboh.
  • Jika ada amalan sunnah yang ingin dikerjakan, pastikan kewajiban pokok sudah tertunaikan dengan baik.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?