Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita bahwa sebaik-baik amalan dalam Islam adalah dua perkara yang tampak sederhana namun sangat besar pahalanya: memberi makan (kepada yang membutuhkan) dan menebarkan salam kepada semua orang, baik yang kita kenal maupun tidak. Kedua amalan ini mencerminkan keimanan yang tulus, karena keduanya membutuhkan keikhlasan, keberanian untuk merendahkan diri, dan kecintaan kepada sesama muslim.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 5000) dari sahabat Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang serupa.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
QS. An-Nisa' [4]: 36
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
"Dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik."
QS. Al-Insan [76]: 8-9
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ﴿٨﴾ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا ﴿٩﴾
"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Seraya berkata), 'Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.'"
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan hadits ini. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim memasukkannya dalam kitab shahih mereka, menunjukkan kekuatan sanad dan keutamaannya. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan memberi makan dan menebarkan salam, serta bahwa keduanya adalah sarana untuk menumbuhkan kecintaan dan persaudaraan di antara kaum muslimin.
Penjelasan Rinci
Hadits ini datang sebagai jawaban atas pertanyaan seorang lelaki yang ingin mengetahui amalan Islam yang paling utama. Rasulullah ﷺ tidak menyebutkan shalat, puasa, atau zakat secara langsung, tetapi menyebutkan dua amalan yang berhubungan dengan hubungan sosial (mu'amalah) dan akhlak. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan keseimbangan antara hak Allah dan hak sesama manusia.
1. Memberi Makan (تُطْعِمُ الطَّعَامَ)
Memberi makan di sini bersifat umum, mencakup memberi makan orang miskin, tetangga, tamu, bahkan keluarga sendiri. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa memberi makan adalah salah satu bentuk sedekah yang paling utama karena ia memenuhi kebutuhan pokok manusia. Beliau juga menukil perkataan sebagian ulama salaf bahwa memberi makan lebih utama daripada memberi pakaian, karena makanan adalah kebutuhan yang terus-menerus.
Syeikh Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memuji orang-orang yang memberi makan karena mengharap wajah Allah, bukan karena ingin dipuji atau dibalas. Inilah adab dalam memberi: ikhlas dan tidak mengharap balasan.
2. Mengucapkan Salam (تَقْرَأُ السَّلَامَ)
Yang dimaksud adalah mengucapkan "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" kepada semua orang, baik yang dikenal maupun tidak. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa menebarkan salam adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan hukumnya fardhu kifayah jika dalam satu kelompok, namun sunnah mu'akkadah bagi setiap individu.
Hikmah mengucapkan salam kepada yang tidak dikenal adalah:
- Menumbuhkan rasa persaudaraan dan menghilangkan kecurigaan.
- Merendahkan hati dan melatih keberanian untuk memulai kebaikan.
- Menghilangkan permusuhan dan menanamkan rasa aman di antara sesama.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad bahwa para sahabat saling mengucapkan salam kepada anak-anak dan orang yang tidak mereka kenal, sebagai bentuk pengamalan hadits ini.
Perbedaan Pendapat Ulama:
Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud "memberi makan" adalah memberi makan orang miskin secara khusus, sementara sebagian lain mengatakan bersifat umum. Namun pendapat yang lebih kuat adalah umum, karena lafaz hadits tidak membatasi. Demikian pula dalam masalah salam, ada yang berpendapat bahwa salam hanya kepada sesama muslim, namun pendapat yang lebih hati-hati adalah mengucapkan salam kepada yang dikenal dan tidak dikenal dari kalangan muslimin, sebagaimana yang dipahami oleh Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah adalah seorang yang sangat dermawan. Beliau tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya. Suatu hari, seorang lelaki datang meminta makanan, dan Al-Hasan memberinya dengan wajah yang berseri-seri. Ketika ditanya mengapa beliau begitu gembira, beliau menjawab: "Bagaimana aku tidak gembira? Allah telah menjadikanku sebab untuk memenuhi kebutuhan saudaraku, dan aku telah mendengar firman Allah: 'Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin...'"
Kisah ini menunjukkan bahwa para salaf sangat memahami bahwa memberi makan adalah amalan yang dicintai Allah dan membawa kebahagiaan bagi yang melakukannya.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak memberi makan, terutama kepada orang yang membutuhkan, tetangga, dan tamu. Niatkan karena Allah, bukan karena ingin dipuji.
- Biasakan mengucapkan salam kepada siapa saja, baik yang dikenal maupun tidak. Ini adalah sunnah yang mudah namun besar pahalanya.
- Jadikan kedua amalan ini sebagai kebiasaan harian, karena keduanya adalah ciri orang beriman yang baik.
- Jangan meremehkan amalan kecil, karena bisa jadi amalan yang dianggap remeh oleh manusia justru sangat besar di sisi Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.