Penjelasan Hadits Nasa'i No. 5 tentang Anjuran bersiwak untuk kebersihan mulut dan keridhaan Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan bersiwak (menggosok gigi dengan kayu siwak) yang diajarkan Nabi ﷺ. Siwak bukan hanya sekadar membersihkan mulut, tetapi juga menjadi sebab Allah meridhai hamba-Nya. Karena itu, para ulama menganjurkan bersiwak terutama sebelum shalat, wudhu, membaca Al-Qur'an, dan pada waktu-waktu yang ditekankan dalam sunnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (Sunan An-Nasa'i no. 5, Kitab Thaharah, Bab Anjuran Menggunakan Siwak):

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:

«السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ»

Terjemahan: "Siwak adalah penyuci bagi mulut dan (sarana) yang mendatangkan keridhaan Rabb (Allah)."

Hadits pendukung dari Al-Bukhari dan Muslim (perawi: Abu Hurairah رضي الله عنه):

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

Terjemahan: "Kalau bukan karena memberatkan umatku, sungguh akan aku perintahkan mereka bersiwak pada setiap shalat." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ayat yang berkaitan dengan kebersihan dan keridhaan Allah:

QS. At-Taubah [9]: 108

﴿فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ﴾

Terjemahan: "Di dalamnya ada orang-orang yang suka membersihkan diri. Dan Allah mencintai orang-orang yang bersuci."

Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nasa'i meriwayatkan hadits ini dalam kitab Sunan-nya, menunjukkan perhatian beliau terhadap bab thaharah dan sunnah-sunnah yang sering dilupakan.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa siwak disyariatkan karena mengandung maslahat bagi mulut dan mendatangkan pahala.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa siwak termasuk sunnah yang ditekankan (sunnah muakkadah) dan memiliki keutamaan besar.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan manfaat siwak bagi kesehatan mulut dan gusi serta sebagai ibadah.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara bahasa dan syariat:

Kata "السِّوَاكُ" (as-siwak) secara bahasa berarti alat untuk menggosok gigi, biasanya dari ranting pohon arak (Salvadora persica). Secara syariat, siwak adalah ibadah membersihkan mulut dan gigi dengan alat tertentu, dengan niat mengikuti sunnah Nabi ﷺ.

Kata "مَطْهَرَةٌ" (matharah) berarti alat atau sarana penyucian. Maksudnya, siwak membersihkan mulut dari sisa makanan, bau tidak sedap, dan kotoran yang menempel pada gigi dan gusi.

Kata "مَرْضَاةٌ" (mardhah) berarti sesuatu yang mendatangkan keridhaan. Maksudnya, bersiwak menjadi sebab Allah meridhai hamba-Nya karena ia menjalankan perintah dan sunnah Nabi-Nya.

Pemahaman para ulama:

  1. Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan siwak yang menggabungkan dua maslahat: maslahat duniawi (kebersihan mulut) dan maslahat ukhrawi (keridhaan Allah). Beliau juga menyebutkan bahwa siwak disunnahkan pada setiap waktu, namun lebih ditekankan pada waktu-waktu tertentu.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama sepakat tentang disyariatkannya siwak. Beliau juga menjelaskan bahwa siwak termasuk sunnah yang sangat dianjurkan karena Nabi ﷺ hampir saja mewajibkannya kalau bukan karena kekhawatiran memberatkan umat.
  3. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa siwak memiliki manfaat besar bagi kesehatan: membersihkan gigi, menguatkan gusi, menghilangkan bau mulut, dan membantu pencernaan. Beliau juga menegaskan bahwa siwak adalah ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.
  4. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa kebersihan mulut sangat penting karena mulut digunakan untuk berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan berbicara yang baik. Karena itu, menjaga kebersihannya adalah bagian dari menjaga ibadah.

Waktu-waktu yang ditekankan untuk bersiwak:

Para ulama dari daftar yang disebutkan menjelaskan bahwa siwak sangat dianjurkan pada:

  • Setiap kali berwudhu
  • Sebelum shalat (sebagaimana hadits Abu Hurairah)
  • Ketika bangun tidur
  • Sebelum membaca Al-Qur'an
  • Ketika masuk rumah
  • Ketika bau mulut berubah

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah siwak disunnahkan bagi orang yang berpuasa setelah matahari tergelincir. Imam Asy-Syafi'i dan mayoritas ulama dari daftar menyatakan bahwa siwak tetap disunnahkan bagi orang berpuasa, baik pagi maupun sore, karena hadits ini bersifat umum. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Hajar dan An-Nawawi. Adapun sebagian ulama memakruhkan siwak setelah zawal (tergelincirnya matahari) bagi orang berpuasa dengan alasan menjaga bau mulut orang berpuasa, namun pendapat yang lebih kuat adalah tetap disunnahkan karena keumuman hadits.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Aisyah رضي الله عنها — istri Nabi ﷺ yang meriwayatkan hadits ini — adalah orang yang sangat memperhatikan sunnah siwak. Beliau menceritakan bahwa Nabi ﷺ ketika bangun malam, beliau menggosok mulutnya dengan siwak sebelum berwudhu dan shalat. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda bahwa siwak itu "mendatangkan keridhaan Allah" — menunjukkan bahwa ibadah yang tampak kecil seperti bersiwak pun bisa menjadi sebab Allah meridhai hamba-Nya. Ini mengajarkan kita bahwa Islam memperhatikan hal-hal kecil yang sering diabaikan, dan bahwa kebersihan adalah bagian dari ibadah.

Hikmah: Jangan meremehkan amalan kecil. Siwak yang tampak sederhana bisa menjadi sebab keridhaan Allah jika dilakukan dengan niat mengikuti sunnah Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersiwaklah dengan niat ibadah — bukan sekadar kebersihan, tetapi untuk mengikuti sunnah dan mencari keridhaan Allah.
  2. Utamakan bersiwak sebelum wudhu, shalat, dan membaca Al-Qur'an — karena waktu-waktu ini lebih ditekankan dalam sunnah.
  3. Gunakan siwak atau alat yang bisa menggantikannya (seperti sikat gigi) jika siwak tidak tersedia, dengan tetap menjaga niat mengikuti sunnah.
  4. Jangan remehkan amalan kecil — siwak adalah contoh bahwa amalan sederhana bisa mendatangkan keridhaan Allah.
  5. Jaga kebersihan mulut — karena mulut digunakan untuk berdzikir, membaca Al-Qur'an, dan berbicara yang baik.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?