Penjelasan Hadits Nasa'i No. 4999 tentang Islam terbaik adalah yang menjaga lisan dan tangan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa keutamaan Islam yang paling utama adalah ketika seorang Muslim membuat Muslim lainnya merasa aman dan selamat dari gangguan lisan (ucapan) dan tangannya (perbuatan). Ini bukan berarti amal lain tidak penting, tetapi menunjukkan bahwa keselamatan orang lain dari gangguan kita adalah bukti nyata keislaman yang paling mendasar dan paling utama dampaknya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Iman dan Syariatnya, Bab Islam yang Mana yang Paling Utama, dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ: أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ؟ قَالَ: «تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ»

"Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi ﷺ: 'Islam yang mana yang paling baik?' Beliau bersabda: 'Engkau memberi makan, dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar makna hadits ini, Allah ﷻ berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

"Dan orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab [33]: 58)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ancaman keras bagi siapa saja yang menyakiti kaum mukminin dengan ucapan atau perbuatan tanpa sebab yang benar.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Para ulama menjelaskan bahwa pertanyaan "Islam yang mana yang paling utama?" adalah pertanyaan tentang amal Islam yang paling besar manfaatnya dan paling utama kedudukannya. Nabi ﷺ menjawab dengan menyebut keselamatan kaum Muslimin dari lisan dan tangan seseorang.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah: "Islam yang paling utama adalah sifat dan amal yang paling bermanfaat bagi kaum Muslimin secara umum." Beliau juga menyebutkan bahwa menyelamatkan Muslim lain dari lisan dan tangan mencakup:

  • Tidak mencela, tidak menggunjing (ghibah), tidak mengadu domba (namimah), tidak berdusta atas nama mereka
  • Tidak memukul, tidak menyakiti fisik, tidak merampas harta, tidak berbuat zalim

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan lisan dan tangan secara khusus karena keduanya adalah sumber gangguan yang paling banyak terjadi pada manusia. Lisan menyakiti dengan ucapan, tangan menyakiti dengan perbuatan. Beliau juga menukil bahwa sebagian ulama memahami hadits ini sebagai penjelasan bahwa keselamatan orang lain adalah buah dari keislaman yang benar.

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa seorang Muslim yang sejati adalah yang tidak mengganggu Muslim lainnya. Beliau mengaitkan dengan hadits lain: "Seorang Muslim adalah orang yang lisannya dan tangannya tidak menyakiti Muslim lainnya, dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." (HR. Al-Bukhari)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini adalah keutamaan yang bersifat nafi (menghilangkan gangguan) dan itsbat (menetapkan manfaat). Menghilangkan gangguan dari Muslim lain adalah amal yang sangat besar pahalanya, karena kezaliman terhadap Muslim adalah dosa besar.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama memahami bahwa hadits ini menunjukkan bahwa amal yang paling utama adalah meninggalkan gangguan, bukan melakukan amal tambahan. Namun Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini bukan berarti amal lain tidak utama, melainkan jawaban disesuaikan dengan kondisi penanya. Bisa jadi penanya adalah orang yang sering menyakiti orang lain, sehingga Nabi ﷺ menekankan hal ini. Atau bisa jadi ini adalah keutamaan yang paling umum dan paling mendasar.

Yang paling kuat — sebagaimana dijelaskan Ibnu Rajab — adalah bahwa hadits ini menunjukkan bahwa keselamatan kaum Muslimin dari gangguan kita adalah tanda keislaman yang benar dan merupakan amal yang paling utama manfaatnya bagi orang lain.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah, seorang ulama besar dari generasi tabi'ut tabi'in, pernah berkata tentang makna hadits ini. Beliau adalah seorang yang dikenal sangat lembut dan menjaga lisannya. Suatu ketika beliau ditanya tentang seorang yang banyak beribadah tetapi lisannya kasar kepada orang lain. Beliau menjawab bahwa ibadah yang banyak tidak bermanfaat jika seseorang masih menyakiti Muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, seorang tabi'in yang terkenal, pernah mengatakan: "Tidaklah seorang Muslim itu benar-benar Muslim sampai orang lain merasa aman dari lisannya dan tangannya." Beliau juga menegaskan bahwa tanda keislaman yang benar adalah ketika seseorang meninggalkan gangguan terhadap Muslim lainnya, baik dalam keadaan serius maupun bercanda.

Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah, seorang ulama besar abad ke-2 H, pernah ditanya: "Kapan seseorang disebut Muslim yang baik?" Beliau menjawab: "Ketika ia tidak menyakiti Muslim lainnya dengan lisan dan tangannya, dan ia memberikan manfaat kepada mereka sesuai kemampuannya."

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga lisan dari mencela, menggunjing, mengadu domba, berdusta, dan menyakiti perasaan Muslim lainnya.
  2. Jaga tangan dari memukul, merampas, menzalimi, dan menyakiti fisik Muslim lainnya.
  3. Sadari bahwa keislaman yang benar adalah ketika orang lain merasa aman dari gangguan kita, bukan hanya ketika kita rajin beribadah secara pribadi.
  4. Perbanyak manfaat bagi Muslim lainnya, karena hadits ini mengajarkan bahwa keselamatan orang lain dari gangguan kita adalah amal yang paling utama.
  5. Muhasabah diri: tanyakan pada diri sendiri, apakah lisan dan tangan kita sudah membuat Muslim lain merasa aman?

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?