Penjelasan Hadits Nasa'i No. 4998 tentang Balasan kebaikan dan ampunan bagi yang baik keislamannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan besarnya karunia Allah bagi orang yang masuk Islam lalu memperbaiki keislamannya: semua kebaikan yang pernah ia lakukan sebelum Islam tetap dicatat sebagai pahala, sedangkan semua keburukannya dihapus. Setelah itu, aturan pahala dan dosa berlaku: satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan satu keburukan dicatat satu saja, dan bisa diampuni Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Iman dan Syariatnya, Bab Baiknya Keislaman Seseorang, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu.

Makna hadits ini sejalan dengan firman Allah:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ

Terjemahan: "Dan barangsiapa menyerahkan wajahnya kepada Allah sedangkan dia berbuat kebaikan, maka sungguh ia telah berpegang pada tali yang sangat kuat." (QS. Luqman [31]: 22)

Juga firman Allah:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Terjemahan: "Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus keburukan-keburukan." (QS. Hud [11]: 114)

Dalil lain yang sangat dekat maknanya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ

Terjemahan: "Jika salah seorang dari kalian memperbaiki keislamannya, maka setiap kebaikan yang ia kerjakan dicatat sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits-hadits ini menunjukkan luasnya karunia Allah dan bahwa keislaman yang baik menjadi sebab dihapusnya dosa-dosa sebelumnya serta dilipatgandakannya pahala.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Keislaman yang baik menghapus dosa yang lalu.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ketika seseorang masuk Islam dengan keislaman yang benar — yaitu ikhlas, mengikuti sunnah, dan meninggalkan kesyirikan — maka dosa-dosa yang ia lakukan sebelum Islam diampuni. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang baru berhijrah menuju kebenaran.

Kedua: Kebaikan sebelum Islam tetap dicatat.

Ini menunjukkan bahwa amal baik yang dilakukan seseorang semasa jahiliyah — seperti sedekah, menolong orang, menyambung silaturahmi — tidak sia-sia. Allah mencatatnya sebagai kebaikan baginya. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ini adalah bagian dari keutamaan Islam yang datang menghapus keburukan dan mempertahankan kebaikan.

Ketiga: Setelah Islam, berlaku hukum pahala dan dosa.

  • Satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan bisa lebih, sesuai keikhlasan dan keadaan hamba.
  • Satu keburukan dicatat satu saja, kecuali jika Allah mengampuninya.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa perbedaan ini menunjukkan kemuliaan rahmat Allah: Dia melipatgandakan pahala tanpa batas, tetapi tidak melipatgandakan dosa. Bahkan satu dosa pun bisa diampuni dengan taubat, istighfar, atau kebaikan yang menyertainya.

Keempat: "Al-Qishash" dalam hadits ini.

Kata al-qishash di sini bukan berarti balasan setimpal yang menakutkan, tetapi menunjukkan bahwa setelah Islam, amal dihitung secara adil dan penuh rahmat. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa Allah menetapkan aturan yang sangat adil: kebaikan dilipatgandakan, keburukan tidak dizalimi.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Sebagian ulama seperti Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah menekankan bahwa "keislaman yang baik" mencakup kesungguhan dalam taat dan menjauhi larangan. Sedangkan Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak menekankan pentingnya keikhlasan dan mengikuti sunnah sebagai syarat "husnul Islam". Pendapat yang paling kuat adalah yang menggabungkan keduanya: keislaman yang baik adalah yang dibangun di atas ikhlas, ittiba' (mengikuti sunnah), dan istiqamah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang sangat menjaga ilmu dan meriwayatkan banyak hadits Nabi ﷺ. Beliau hidup hingga masa tabi'in dan menjadi rujukan dalam ilmu hadits.

Suatu ketika, ada seorang yang bertanya tentang nasib amal baiknya sebelum Islam. Maka Nabi ﷺ menjawab dengan hadits ini, menenangkan hati orang yang baru masuk Islam bahwa masa lalunya tidak sia-sia, dan bahwa Allah Maha Adil dan Maha Pengasih.

Imam Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dari Abu Hurairah, menunjukkan betapa pentingnya makna ini dalam bab keimanan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bagi yang baru masuk Islam: Bergembiralah, karena Allah menghapus dosa-dosa lama dan mencatat kebaikan-kebaikan lama.
  2. Bagi semua Muslim: Perbaikilah keislaman dengan ikhlas, mengikuti sunnah, dan istiqamah.
  3. Jangan putus asa dari rahmat Allah: Satu kebaikan dibalas berlipat-lipat, sedangkan satu dosa bisa diampuni.
  4. Perbanyak istighfar dan kebaikan: Karena kebaikan menghapus keburukan.
  5. Jauhi ghuluw (berlebihan) dan meremehkan dosa: Seimbangkan antara harapan (raja') dan rasa takut (khauf).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?