Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 4995 tentang Ciri muslim dan mukmin yang menjaga keamanan orang lain

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita dua hal penting: pertama, seorang Muslim adalah orang yang tidak menyakiti orang lain dengan lisan (ucapan) dan tangannya (perbuatan). Kedua, seorang Mukmin adalah orang yang membuat orang lain merasa aman terhadap darah dan harta mereka. Jadi, iman dan Islam bukan sekadar pengakuan di lisan, tetapi harus dibuktikan dengan akhlak yang mulia dan menjaga keamanan serta keselamatan sesama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam An-Nasa'i:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ، عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ " الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ "

Makna: Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang Muslim adalah orang yang selamat dari lisan dan tangannya, dan orang beriman adalah orang yang aman dari orang-orang atas darah dan harta mereka."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 2627) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Imam Al-Albani menilai hadits ini hasan shahih dalam Shahih An-Nasa'i.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hujurat [49]: 10

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."

Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan antar Mukmin adalah persaudaraan yang menuntut saling menjaga, bukan saling menyakiti.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua tingkatan:

  1. Tingkatan Islam (Muslim): Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa definisi Muslim dalam hadits ini adalah orang yang selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Ini adalah tingkatan minimal keislaman. Lisan bisa menyakiti melalui ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dusta, dan ucapan kasar. Tangan bisa menyakiti melalui pukulan, pencurian, atau perbuatan yang merugikan orang lain.
  2. Tingkatan Iman (Mukmin): Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa Mukmin adalah orang yang orang lain merasa aman kepadanya, terutama terhadap darah dan harta mereka. Ini tingkatan yang lebih tinggi, karena tidak cukup hanya tidak menyakiti, tetapi harus menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (saat menjelaskan hadits serupa) menegaskan bahwa menjaga lisan dan tangan adalah kewajiban setiap Muslim, dan ini termasuk cabang iman yang paling utama.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa iman yang benar akan mendorong pemiliknya untuk menjaga keamanan orang lain, karena iman itu tertanam di hati dan tercermin dalam perilaku.

Perbedaan antara Muslim dan Mukmin di sini bukan berarti dua golongan yang terpisah, tetapi menunjukkan tingkatan kesempurnaan. Setiap Mukmin adalah Muslim, tetapi tidak setiap Muslim mencapai tingkatan Mukmin yang sempurna.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan dari sahabat bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ ditanya, "Wahai Rasulullah, Muslim yang bagaimana yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa pertanyaan para sahabat tentang "siapa Muslim terbaik" dijawab Nabi ﷺ dengan akhlak, bukan dengan ibadah ritual semata. Ini mengajarkan bahwa ibadah kita kepada Allah harus dibarengi dengan akhlak yang baik kepada sesama.

Imam Al-Hasan al-Bashri pernah berkata, "Seorang Mukmin itu jika ia marah, kemarahannya tidak membuatnya keluar dari kebenaran. Dan jika ia ridha, keridhaannya tidak membawanya kepada kebatilan." Ini menunjukkan bahwa iman menjaga seseorang dari menyakiti orang lain, baik dalam keadaan marah maupun senang.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga lisan: Hindari ghibah, namimah, dusta, dan ucapan yang menyakiti. Jika tidak bisa berkata baik, lebih baik diam.
  2. Jaga tangan: Jangan mengambil hak orang lain, jangan memukul, dan jangan merusak harta atau kehormatan orang lain.
  3. Tumbuhkan rasa aman: Jadilah pribadi yang dipercaya orang lain. Tetangga, keluarga, dan teman harus merasa tenang dengan keberadaan kita.
  4. Perbaiki niat: Jadikan semua perilaku ini sebagai bentuk ibadah kepada Allah, bukan sekadar basa-basi sosial.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.