Penjelasan Hadits Nasa'i No. 4994 tentang Hanya mukmin masuk surga dan hari Tasyriq untuk makan minum

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan bahwa Nabi ﷺ memerintahkan Bisyir bin Suhaim untuk menyerukan kepada manusia pada hari-hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) sebuah pengumuman penting: tidak ada yang masuk surga kecuali orang yang beriman (mukmin), dan hari-hari itu adalah hari makan, minum, dan berdzikir — bukan hari puasa. Hadits ini menegaskan dua hal: pentingnya iman sebagai syarat masuk surga, dan larangan berpuasa pada hari Tasyriq.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Baqarah [2]: 25

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Terjemahan: "Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai..."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, kitab Iman, dari jalur Bisyir bin Suhaim (seorang sahabat). Maknanya dikuatkan oleh hadits lain yang shahih, di antaranya hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah tentang larangan puasa pada hari Tasyriq, serta hadits Nubaisyah al-Hudzali yang diriwayatkan Muslim bahwa hari Tasyriq adalah hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa pengumuman pada hari Tasyriq mengandung penegasan bahwa iman adalah syarat mutlak masuk surga.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan bahwa hari Tasyriq adalah hari makan-minum, sehingga tidak boleh berpuasa kecuali bagi yang berhaji tamattu' yang tidak menemukan hadyu.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan hikmah hari Tasyriq sebagai hari kegembiraan dan dzikir setelah hari Arafah dan Idul Adha.

Penjelasan Rinci

Pertama: Makna "Tidak masuk surga kecuali mukmin"

Kalimat ini bukan berarti setiap mukmin pasti langsung masuk surga tanpa hisab, tetapi menunjukkan bahwa iman adalah syarat pokok untuk masuk surga. Orang kafir dan munafik yang mati dalam kekafiran tidak akan masuk surga sama sekali. Adapun seorang mukmin yang berdosa, ia berada di bawah kehendak Allah: bisa diampuni dan langsung masuk surga, atau disiksa terlebih dahulu lalu akhirnya masuk surga. Ini adalah pemahaman Ahlus Sunnah yang dijelaskan oleh Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibnu Qayyim dalam Madarij as-Salikin.

Kedua: Hikmah pengumuman di hari Tasyriq

Nabi ﷺ memerintahkan pengumuman ini pada hari Tasyriq karena hari-hari itu adalah hari berkumpulnya manusia di Mina setelah Idul Adha. Momen ini sangat tepat untuk menyerukan pokok agama, yaitu iman. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa dakwah tauhid dan iman adalah tugas utama para nabi, dan momen-momen besar seperti ini digunakan untuk menyampaikan pesan paling fundamental.

Ketiga: Hari Tasyriq adalah hari makan, minum, dan dzikir

Larangan puasa pada hari Tasyriq disepakati oleh para ulama, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain. Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Malik menyatakan haram berpuasa pada hari Tasyriq, kecuali bagi jamaah haji tamattu' yang tidak mampu menyembelih hadyu — sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 196. Imam Abu Hanifah juga melarangnya, meski ada rincian dalam kasus tertentu. Pendapat yang paling kuat adalah haram berpuasa pada hari Tasyriq secara umum, kecuali udzur syar'i bagi haji tamattu'.

Keempat: Kaitan iman dan amal

Hadits ini mengajarkan bahwa iman bukan sekadar ucapan, tetapi keyakinan hati yang membuahkan amal. Al-Hasan al-Bashri berkata bahwa iman adalah keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal perbuatan. Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak juga menegaskan hal serupa. Karena itu, seorang mukmin hendaknya menjaga imannya dengan amal saleh dan menjauhi dosa.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Bisyir bin Suhaim — seorang sahabat Nabi ﷺ — dipercaya oleh Rasulullah ﷺ untuk mengumumkan pesan agung ini di hadapan manusia pada hari-hari Tasyriq. Bayangkan, di tengah lautan jamaah haji yang sedang menikmati hari makan dan minum setelah Idul Adha, terdengar seruan: "Tidak masuk surga kecuali mukmin!" Seruan ini mengguncang hati para sahabat, mengingatkan mereka bahwa di balik nikmat dunia yang halal, ada tujuan akhir yang harus diperjuangkan — yaitu surga yang hanya diperuntukkan bagi orang beriman.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf sangat memperhatikan momen-momen seperti ini untuk memperkuat iman dan mengingatkan akhirat, tanpa melupakan nikmat dunia yang halal.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga dan kuatkan iman — karena iman adalah syarat utama masuk surga. Iman harus diwujudkan dengan keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal perbuatan.
  2. Jangan berpuasa pada hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah), karena hari-hari itu adalah hari makan, minum, dan dzikir — kecuali bagi jamaah haji tamattu' yang tidak mampu menyembelih hadyu.
  3. Manfaatkan hari Tasyriq untuk dzikir, takbir, dan syukur kepada Allah atas nikmat-Nya.
  4. Sampaikan pesan iman kepada keluarga dan masyarakat pada momen-momen berkumpul, sebagaimana Nabi ﷺ memerintahkan pengumuman ini pada momen besar.
  5. Jangan mudah menghakimi orang lain sebagai kafir atau munafik; serahkan penilaian iman kepada Allah, dan fokuslah memperbaiki diri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?