Penjelasan Hadits Nasa'i No. 4986 tentang Amal paling utama adalah iman, jihad, dan haji mabrur

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tiga amal yang paling utama menurut Nabi ﷺ: (1) iman yang bersih dari keraguan, (2) jihad yang tidak dicemari pengkhianatan terhadap harta rampasan (ghulul), dan (3) haji yang mabrur. Ketiganya menyatukan tauhid yang benar, keikhlasan dalam beramal, dan kesempurnaan ibadah kepada Allah. Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan ini bukan sekadar banyaknya amal, tetapi kemurnian niat dan kebersihan amal dari cacat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 4986), dari sahabat Abdullah bin Hubsy Al-Khats'ami رضي الله عنه. Hadits serupa juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dengan lafaz yang berdekatan, dan At-Tirmidzi menyebutkannya dalam bab keutamaan amal.

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan tiga amal tersebut:

Pertama — iman yang tidak diragukan:

QS. Al-Hujurat [49]: 15

﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ﴾

Terjemahan: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu-ragu, dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar."

Kedua — larangan ghulul (mengambil harta rampasan secara curang):

QS. Ali 'Imran [3]: 161

﴿وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَغُلَّ ۚ وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ﴾

Terjemahan: "Tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan). Barangsiapa berkhianat, maka ia akan datang membawa apa yang dikhianatinya itu pada hari kiamat."

Ketiga — haji mabrur:

QS. Al-Baqarah [2]: 197

﴿الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ﴾

Terjemahan: "Haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan haji pada bulan-bulan itu, maka tidak boleh rafats (berkata kotor), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam haji."

Penjelasan Rinci

1. Iman yang tidak diragukan (إِيمَانٌ لَا شَكَّ فِيهِ)

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa iman yang dimaksud adalah iman yang kokoh, bersih dari keraguan dan keraguan batin, serta disertai keyakinan yang mantap terhadap Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, dan takdir. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa iman yang sempurna adalah pokok segala amal — tanpa iman yang benar, amal tidak bernilai.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa iman memiliki tingkatan: keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal anggota badan. Iman yang "tidak diragukan" adalah iman yang disertai yaqin — keyakinan yang tidak goyah oleh syubhat (keraguan) maupun syahwat.

2. Jihad yang tidak ada ghulul di dalamnya (جِهَادٌ لَا غُلُولَ فِيهِ)

Ghulul artinya mengambil harta rampasan perang (ghanimah) sebelum dibagikan secara sah, atau berkhianat dalam urusan harta bersama. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ghulul termasuk dosa besar karena mengandung pengkhianatan terhadap amanah dan merugikan kaum muslimin.

Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa jihad yang sah adalah jihad yang ditegakkan di atas keikhlasan dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ, bukan untuk mencari harta, kedudukan, atau pamer. Maka "jihad tanpa ghulul" bermakna jihad yang bersih dari motif duniawi dan pengkhianatan.

3. Haji yang mabrur (حَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ)

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima Allah, ditandai dengan: ikhlas karena Allah, mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, tidak berbuat dosa selama ihram, dan tidak berbuat maksiat setelahnya. Ibnu Hajar menambahkan bahwa tanda haji mabrur adalah bertambahnya ketaatan dan akhlak yang lebih baik setelah haji.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri riya', tidak diikuti perbuatan dosa, dan membawa perubahan hati menuju ketakwaan.

Kesimpulan ulama: Ketiga amal ini saling berkaitan — iman adalah pondasi, jihad adalah bukti kesungguhan, dan haji adalah puncak ibadah yang menyatukan pengorbanan harta, waktu, dan jiwa. As-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman menegaskan bahwa keutamaan amal diukur dari kemurnian iman dan keikhlasan, bukan sekadar banyaknya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Hubsy Al-Khats'ami رضي الله عنه pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang amal yang paling utama, dan beliau menjawab dengan tiga hal di atas. Dalam riwayat lain, seorang sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama?" Beliau menjawab: "Iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya." Lalu ditanya lagi: "Lalu apa?" Beliau menjawab: "Haji yang mabrur." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hasan al-Bashri رحمه الله pernah berkata: "Iman bukanlah sekadar ucapan, bukan pula angan-angan, tetapi sesuatu yang tertanam di hati dan dibuktikan dengan amal." (dinukil oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya). Ini menunjukkan bahwa iman yang tidak diragukan akan melahirkan amal yang bersih dan pengorbanan yang tulus.

Kesimpulan Praktis

  1. Murnikan iman dari keraguan dengan belajar tauhid dan merenungi dalil-dalil Al-Qur'an dan sunnah.
  2. Jaga keikhlasan dalam setiap amal, terutama yang berkaitan dengan harta dan kepentingan bersama — jauhi ghulul (pengkhianatan amanah).
  3. Bersungguh-sungguh dalam beribadah, termasuk haji, dengan niat ikhlas dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
  4. Perbaiki diri setelah amal — tanda amal diterima adalah bertambahnya ketaatan, bukan kembali kepada maksiat.
  5. Rujuk ulama terpercaya untuk memahami hadits dan mengamalkannya dengan benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?