Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa amal yang paling utama adalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Iman bukan sekadar ucapan, tetapi keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal anggota badan. Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa iman adalah pondasi seluruh amal; tanpa iman, amal tidak bernilai di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 4985), dari jalur Az-Zuhri → Sa'id bin al-Musayyib → Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Sanad ini sangat kuat, karena Az-Zuhri dan Sa'id bin al-Musayyib termasuk imam besar Tabi'in yang disepakati keilmuannya.
Makna hadits ini dikuatkan oleh ayat:
QS. Al-Baqarah [2]: 177
وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ
"Tetapi kebajikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi."
QS. An-Nahl [16]: 97
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
"Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman, maka sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik."
Ayat ini menunjukkan bahwa amal saleh hanya bermanfaat jika disertai iman. Ini sejalan dengan hadits di atas.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ketika Nabi ﷺ ditanya tentang amal paling utama, beliau menyebut iman terlebih dahulu karena iman adalah syarat sahnya seluruh amal. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan bahwa penyebutan iman sebagai amal paling utama menunjukkan keutamaan pokok agama sebelum cabangnya.
Penjelasan Rinci
1. Kedudukan iman sebagai amal paling utama
Para ulama dari daftar yang disebutkan sepakat bahwa iman adalah ashlul a'mal (pokok segala amal). Sa'id bin al-Musayyib — perawi langsung hadits ini — termasuk Tabi'in yang paling keras menolak pemikiran yang memisahkan iman dari amal. Beliau menyatakan bahwa iman itu mencakup keyakinan hati, ucapan, dan perbuatan.
Az-Zuhri juga menegaskan hal serupa: iman bertambah dan berkurang, dan amal adalah bagian dari iman. Karena itu, ketika Nabi ﷺ menyebut "iman kepada Allah dan Rasul-Nya" sebagai amal paling utama, itu bukan berarti amal lain tidak penting, tetapi menunjukkan bahwa iman adalah sumber dan syarat diterimanya amal.
2. Iman kepada Allah dan Rasul-Nya
Iman kepada Allah mencakup:
- Mengenal Allah sebagai Rabb, Pencipta, Pemberi rezeki (tauhid rububiyah)
- Menyembah hanya kepada-Nya (tauhid uluhiyah)
- Meyakini nama dan sifat-Nya sebagaimana yang Dia dan Rasul-Nya tetapkan (tauhid asma wa sifat)
Iman kepada Rasul-Nya berarti:
- Membenarkan kerasulan beliau ﷺ
- Menerima seluruh berita yang beliau sampaikan
- Taat kepada perintah beliau dan menjauhi larangan beliau
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa iman adalah ruh bagi amal; sebagaimana jasad tanpa ruh adalah mati, demikian pula amal tanpa iman.
3. Mengapa bukan shalat, zakat, atau jihad?
Sebagian orang bertanya: mengapa Nabi ﷺ tidak menyebut shalat atau jihad? Jawabannya, karena pertanyaan itu tentang amal yang paling utama secara mutlak, dan yang paling utama adalah pokoknya terlebih dahulu. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa keutamaan amal bertingkat sesuai kedudukan iman di dalam hati. Semakin kuat iman, semakin bernilai amal.
4. Iman bertambah dan berkurang
Imam Ahmad bin Hanbal dan Al-Bukhari menegaskan bahwa iman itu ucapan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Ini berdasarkan banyak dalil, di antaranya QS. Al-Anfal [8]: 2 dan QS. Al-Fath [48]: 4.
5. Perbedaan pendapat
Sebagian ulama Murji'ah (di luar daftar kita) menyatakan iman cukup di hati saja. Namun Al-Hasan al-Bashri, Sufyan ats-Tsauri, dan Al-Awza'i — semuanya dari daftar ulama kita — menolak pandangan ini. Yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat Ahlus Sunnah: iman itu keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal anggota badan.
Story Telling
Diceritakan oleh Az-Zuhri dari Sa'id bin al-Musayyib, bahwa suatu hari seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya: "Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama?" Nabi ﷺ menjawab dengan tenang: "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya."
Dalam riwayat lain (juga dari Abu Hurairah), setelah itu lelaki tersebut bertanya lagi: "Lalu apa?" Nabi ﷺ menjawab: "Jihad di jalan Allah." Lalu: "Lalu apa?" Beliau menjawab: "Haji yang mabrur."
Ibnu Hajar menyebutkan bahwa urutan ini menunjukkan bahwa iman adalah pokok, sedangkan jihad dan haji adalah cabang yang keutamaannya mengikuti kekuatan iman seseorang. Sa'id bin al-Musayyib — yang meriwayatkan hadits ini — dikenal sebagai salah satu Tabi'in yang paling zuhud dan paling dalam ilmunya. Beliau pernah berkata: "Aku tidak pernah menyesali sesuatu kecuali hari yang tidak aku gunakan untuk menambah ilmu." Ini menunjukkan bahwa iman yang benar melahirkan semangat menuntut ilmu dan beramal.
Kesimpulan Praktis
- Jaga dan rawat iman sebagai prioritas utama, karena iman adalah pondasi seluruh amal.
- Pelajari tauhid — mengenal Allah dan Rasul-Nya — karena inilah inti iman.
- Iman bukan hanya di hati, tetapi harus tampak pada ucapan dan perbuatan.
- Tingkatkan iman dengan ketaatan, dan jauhi hal-hal yang menguranginya.
- Jangan meremehkan amal kecil, karena amal yang kecil bisa menjadi besar nilainya jika iman kuat.
- Belajar dari para ulama seperti Az-Zuhri, Sa'id bin al-Musayyib, dan para imam Ahlus Sunnah dalam memahami agama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.