Penjelasan Hadits Nasa'i No. 482 tentang Keutamaan shalat Isya dan penundaannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah menunda shalat Isya hingga malam semakin gelap, dan ini menunjukkan bolehnya mengakhirkan shalat Isya. Sabda Nabi ﷺ "tidak ada yang shalat ini kecuali kalian" menunjukkan keutamaan penduduk Madinah saat itu karena mereka satu-satunya yang menegakkan shalat Isya berjamaah. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan shalat Isya dan betapa besar pahalanya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha, dalam Sunan An-Nasa'i no. 482, Kitab Shalat, Bab Keutamaan Shalat Isya. Sanad: Nashr bin Ali bin Nashr ← Abdul A'la ← Ma'mar ← Az-Zuhri ← Urwah ← Aisyah.

Teks hadits:

أَخْبَرَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ نَصْرٍ، عَنْ عَبْدِ الأَعْلَى، قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ أَعْتَمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِالْعِشَاءِ حَتَّى نَادَاهُ عُمَرُ رضى الله عنه نَامَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ. فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ "إِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ يُصَلِّي هَذِهِ الصَّلاَةَ غَيْرُكُمْ". وَلَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ يُصَلِّي غَيْرَ أَهْلِ الْمَدِينَةِ.

Ayat Al-Qur'an yang relevan — perintah menjaga shalat, termasuk shalat Isya:

QS. Al-Baqarah [2]: 238

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Terjemahan: "Peliharalah semua shalat(mu) dan shalat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk."

Hadits pendukung — dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Terjemahan: "Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan ulama dan kitab:

  • Imam An-Nasa'i — meriwayatkan hadits ini dalam Sunan-nya, Kitab Shalat.
  • Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) — perawi dalam sanad hadits ini, seorang tabi'in yang masyhur.
  • Imam An-Nawawi — menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim tentang keutamaan shalat Isya berjamaah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani — dalam Fathul Bari menjelaskan makna "tidak ada yang shalat kecuali kalian."
  • Ibnu Katsir — dalam tafsirnya menjelaskan tentang keutamaan menjaga shalat.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Kata "أَعْتَمَ" (a'tama) berasal dari kata "عتمة" yang berarti kegelapan malam. Maksudnya, Nabi ﷺ mengakhirkan shalat Isya hingga masuk waktu yang gelap, yaitu akhir waktu yang disunnahkan. Ini menunjukkan bahwa mengakhirkan shalat Isya hukumnya boleh dan bahkan pernah dilakukan Nabi ﷺ.

Pemahaman para ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya mengakhirkan shalat Isya selama tidak memberatkan jamaah. Beliau menyebutkan bahwa waktu terbaik shalat Isya adalah antara hilangnya syafaq (cahaya merah di ufuk) hingga sepertiga malam pertama.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "tidak ada yang shalat ini kecuali kalian" menunjukkan keutamaan khusus penduduk Madinah pada masa itu, karena mereka satu-satunya yang menegakkan shalat Isya secara berjamaah. Ini juga menunjukkan bahwa shalat Isya berjamaah memiliki keutamaan yang sangat besar.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap shalat Isya, dan bahwa beliau sengaja mengakhirkan untuk memberikan kesempatan kepada umatnya mendapatkan pahala lebih.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Para ulama berbeda pendapat tentang waktu terbaik shalat Isya:

  1. Pendapat pertama (mayoritas ulama termasuk Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Malik): Disunnahkan mengakhirkan shalat Isya hingga sepertiga malam pertama, selama tidak memberatkan jamaah. Dalilnya adalah hadits ini dan hadits-hadits lain yang serupa.
  2. Pendapat kedua (sebagian ulama): Lebih baik segera melaksanakan shalat Isya setelah masuk waktunya, berdasarkan hadits lain yang menunjukkan Nabi ﷺ biasanya shalat Isya di awal waktu.

Pendapat yang paling kuat: Mengakhirkan shalat Isya hingga sepertiga malam pertama adalah yang paling utama, selama tidak menimbulkan kesulitan bagi jamaah. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna.

Faedah lain dari hadits ini:

  • Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menunda shalat Isya untuk maslahat yang lebih besar, seperti menunggu jamaah berkumpul.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa menjaga shalat Isya berjamaah adalah tanda keimanan yang kuat, karena shalat ini berat bagi orang munafik.

Story Telling

Diceritakan bahwa pada suatu malam, Rasulullah ﷺ menunda shalat Isya hingga malam semakin gelap. Para sahabat menunggu dengan sabar, namun para wanita dan anak-anak sudah tertidur. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, yang dikenal tegas dan penuh perhatian, memanggil Nabi ﷺ dengan suara yang penuh kasih sayang: "Wahai Rasulullah, para wanita dan anak-anak telah tertidur."

Kemudian Nabi ﷺ keluar dari rumahnya, wajahnya bersinar dengan cahaya kenabian. Beliau bersabda dengan lembut: "Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang shalat ini (Isya) kecuali kalian." Pada saat itu, tidak ada penduduk di luar Madinah yang menegakkan shalat Isya berjamaah.

Aisyah radhiyallahu 'anha, yang meriwayatkan hadits ini, menyaksikan langsung kejadian tersebut. Beliau merasakan betapa besar keutamaan yang Allah berikan kepada penduduk Madinah saat itu, dan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap shalat Isya.

Hikmah: Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa shalat Isya berjamaah memiliki keutamaan yang sangat besar, dan bahwa menunggu jamaah berkumpul adalah sesuatu yang disyariatkan. Juga mengajarkan kesabaran para sahabat dalam menunggu Nabi ﷺ, dan kasih sayang Umar yang mengingatkan Nabi ﷺ karena khawatir para jamaah kelelahan.

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh mengakhirkan shalat Isya hingga sepertiga malam pertama, selama tidak memberatkan jamaah.
  2. Shalat Isya berjamaah memiliki keutamaan besar — Nabi ﷺ menyebutkan bahwa tidak ada yang shalat Isya saat itu kecuali penduduk Madinah, menunjukkan keutamaan khusus.
  3. Menjaga shalat Isya adalah tanda keimanan yang kuat — karena shalat ini berat bagi orang munafik.
  4. Saling mengingatkan dalam kebaikan — sebagaimana Umar mengingatkan Nabi ﷺ, kita juga hendaknya saling mengingatkan dalam kebaikan dengan cara yang lembut.
  5. Bersabar dalam menunggu shalat berjamaah — para sahabat menunggu Nabi ﷺ dengan sabar, dan ini adalah akhlak yang mulia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?