Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa shalat wusṭā (pertengahan) yang dimaksud dalam QS. Al-Baqarah [2]: 238 adalah shalat Ashar. Penjelasan ini berasal dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang mendengar langsung dari Nabi ﷺ. Ini adalah dalil yang kuat tentang keutamaan dan kewajiban menjaga shalat Ashar secara khusus.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur’an
Allah Ta’ala berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusṭā (shalat pertengahan). Berdirilah untuk Allah (dalam shalat) dengan khusyuk.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 238)
2. Hadits Riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
Dari Abu Yunus, maula (budak yang dimerdekakan) ‘Aisyah, ia berkata:
> أَمَرَتْنِي عَائِشَةُ أَنْ أَكْتُبَ لَهَا مُصْحَفًا، فَقَالَتْ: إِذَا بَلَغْتَ هَذِهِ الْآيَةَ فَآذِنِّي: {حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى}، فَلَمَّا بَلَغْتُهَا آذَنْتُهَا، فَأَمْلَتْ عَلَيَّ: {حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَصَلَاةِ الْعَصْرِ، وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ}، ثُمَّ قَالَتْ: سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.
“Aisyah menyuruhku menuliskan mushaf untuknya. Ia berkata: ‘Apabila engkau sampai pada ayat ini, beri tahulah aku: {Peliharalah semua shalat dan shalat wusṭā}.’ Ketika aku sampai padanya, aku memberitahunya, lalu ia mendiktekanku: ‘Peliharalah semua shalat dan shalat wusṭā, dan shalat Ashar, serta berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.’ Kemudian ia berkata: ‘Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.’”
(HR. An-Nasa’i, no. 472; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa’i)
3. Kaitan dengan Ulama
- Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menegaskan bahwa pendapat yang paling kuat di kalangan sahabat dan tabi’in adalah bahwa shalat wusṭā adalah shalat Ashar. Beliau menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah, dan juga dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Jabir, dan lainnya.
- Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Al-Majmu’ dan Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa jumhur ulama (mayoritas) dari kalangan sahabat dan tabi’in berpendapat bahwa shalat wusṭā adalah shalat Ashar. Beliau menguatkan pendapat ini dengan hadits ‘Aisyah di atas.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil yang jelas bahwa shalat Ashar adalah shalat yang sangat ditekankan penjagaannya, dan ia adalah shalat wusṭā.
Penjelasan Rinci
Para ulama berbeda pendapat tentang makna shalat wusṭā (shalat pertengahan). Namun, pendapat yang paling kuat dan didukung oleh banyak dalil, termasuk hadits ‘Aisyah di atas, adalah bahwa shalat wusṭā adalah shalat Ashar.
Mengapa disebut wusṭā (pertengahan)?
Beberapa ulama menjelaskan:
- Al-Hasan Al-Bashri (w. 110 H) dan Qatadah (w. 117 H) berpendapat bahwa shalat Ashar adalah pertengahan antara shalat malam (Isya’) dan shalat siang (Zhuhur), atau pertengahan antara shalat fardhu yang lima.
- Ibnu Rajab Al-Hanbali (w. 795 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa shalat Ashar adalah shalat yang berada di tengah-tengah waktu shalat siang dan malam, dan ia adalah shalat yang paling sering dilalaikan oleh manusia karena kesibukan duniawi.
Keutamaan Menjaga Shalat Ashar
Hadits ini menunjukkan perhatian khusus Nabi ﷺ dan para sahabat terhadap shalat Ashar. Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
> مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka gugurlah amalnya.”
(HR. Al-Bukhari, no. 553)
Pelajaran dari Riwayat ‘Aisyah
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sebagai Ummul Mu’minin dan salah satu sahabat yang paling paham Al-Qur’an dan Sunnah, meriwayatkan tambahan bacaan “wa shalatal ‘ashr” (dan shalat Ashar) sebagai penjelasan (tafsir) dari ayat tersebut. Ini menunjukkan bahwa:
- Sunnah Nabi ﷺ adalah penjelas bagi Al-Qur’an.
- Para sahabat sangat berhati-hati dalam menuliskan dan menyampaikan wahyu.
- Shalat Ashar memiliki kedudukan yang sangat agung.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Yunus, maula ‘Aisyah, bahwa ia diperintahkan menulis mushaf. Ketika sampai pada ayat “hafizhu ‘ala ash-shalawati wa ash-shalatil wustha”, ia memberitahu ‘Aisyah. Maka ‘Aisyah mendiktekannya dengan tambahan “wa shalatal ‘ashr” dan berkata: “Aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ.”
Kisah ini menunjukkan betapa telitinya ‘Aisyah dalam menjaga lafazh Al-Qur’an dan penjelasan dari Nabi ﷺ. Beliau tidak hanya menghafal, tetapi juga memastikan bahwa penjelasan sunnah tertulis bersama ayat agar tidak hilang atau disalahartikan. Ini adalah contoh adab seorang muslim terhadap ilmu dan wahyu.
Kesimpulan Praktis
- Jaga semua shalat fardhu, terutama shalat Ashar, karena ia adalah shalat wusṭā yang sangat ditekankan.
- Jangan sampai meninggalkan shalat Ashar karena ancamannya sangat besar, yaitu gugurnya amal.
- Teladani sikap ‘Aisyah dalam menjaga dan menyampaikan ilmu dengan benar.
- Gunakan waktu Ashar untuk beribadah dan menjauhi kesibukan dunia yang melalaikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.