Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang larangan membakar makhluk hidup, termasuk semut, meskipun makhluk tersebut mengganggu kita. Kisah ini juga menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya yang bertasbih kepada-Nya, dan bahwa membalas gangguan kecil dengan kehancuran besar adalah perbuatan yang sangat tercela di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat An-Nasa'i:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan):
> أَخْبَرَنَا وَهْبُ بْنُ بَيَانٍ، قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدٍ، وَأَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ " أَنَّ نَمْلَةً قَرَصَتْ نَبِيًّا مِنَ الأَنْبِيَاءِ فَأَمَرَ بِقَرْيَةِ النَّمْلِ فَأُحْرِقَتْ فَأَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِ أَنْ قَدْ قَرَصَتْكَ نَمْلَةٌ أَهْلَكْتَ أُمَّةً مِنَ الأُمَمِ تُسَبِّحُ "
Makna ringkas: Seekor semut menggigit salah seorang nabi, lalu nabi itu memerintahkan agar sarang semut dibakar. Maka Allah mewahyukan kepadanya: "Satu semut menggigitmu, lalu kamu membinasakan satu umat yang bertasbih kepada Allah?"
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3019) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz yang semakna.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman tentang semut dalam kisah Nabi Sulaiman 'alaihis salam:
QS. An-Naml [27]: 18
> حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ
"Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: 'Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.'"
Ayat ini menunjukkan bahwa semut adalah makhluk yang memiliki keistimewaan dan disebutkan dalam Al-Qur'an. Ini menegaskan bahwa semut bukan makhluk yang hina, melainkan makhluk yang bertasbih kepada Allah.
Kaitan dengan Ulama:
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (Kitab al-Birr wash-Shilah, Bab an-Nahyu 'an Qatlin Nahl wan-Naml) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan membakar makhluk hidup, dan bahwa membunuh semut dengan cara dibakar adalah perbuatan yang dilarang keras.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin juga menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran besar tentang larangan berlebih-lebihan dalam membalas, dan bahwa seorang mukmin tidak boleh menghancurkan banyak makhluk hanya karena gangguan kecil.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Larangan Membakar Makhluk Hidup
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil tegas tentang haramnya membakar makhluk hidup, baik manusia maupun hewan. Beliau berkata: "Para ulama telah bersepakat (ijma') tentang haramnya membakar hewan dengan api, baik hewan tersebut halal dimakan maupun tidak." Ini karena api adalah azab yang khusus Allah gunakan untuk menyiksa di akhirat, dan tidak boleh seseorang menyiksa dengan azab yang hanya milik Allah.
2. Kisah Nabi yang Terkena Gigitan Semut
Para ulama berbeda pendapat tentang nabi yang dimaksud dalam hadits ini. Sebagian ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah Nabi Musa 'alaihis salam, namun pendapat ini tidak tegas. Yang lebih penting adalah pelajaran dari kisah ini, bukan siapa nabi tersebut. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan betapa Allah murka terhadap perbuatan yang melampaui batas dalam membalas gangguan.
3. Semut Adalah Makhluk yang Bertasbih
Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa segala sesuatu bertasbih memuji-Nya:
QS. Al-Isra' [17]: 44
> تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa semua makhluk bertasbih kepada Allah dengan cara yang Allah ajarkan kepada mereka, meskipun kita tidak memahami cara tasbih mereka. Semut termasuk makhluk yang bertasbih ini.
4. Pelajaran tentang Adab Membalas Gangguan
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam membalas gangguan. Jika seseorang diganggu oleh seekor semut, maka cukup membunuh semut yang mengganggu tersebut atau menghindarinya, bukan membakar seluruh sarangnya. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keadilan dan proporsionalitas dalam segala hal.
5. Kisah Ini Juga Menunjukkan Bahwa Nabi Tersebut Tidak Dihukum Keras
Penting untuk dipahami bahwa nabi yang melakukan perbuatan ini tidaklah keluar dari kenabiannya, dan ini adalah ijtihad beliau yang kemudian ditegur oleh Allah. Ini menunjukkan bahwa para nabi adalah manusia biasa yang bisa berijtihad, namun Allah menjaga mereka dari kesalahan besar dalam perkara agama. Teguran Allah ini menjadi pelajaran bagi umatnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Sulaiman 'alaihis salam bersama bala tentaranya melewati lembah semut, beliau mendengar perkataan seekor semut yang memperingatkan teman-temannya agar masuk ke sarang mereka. Mendengar itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan berdoa kepada Allah:
QS. An-Naml [27]: 19
> فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
"Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: 'Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan (untuk) mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.'"
Lihatlah perbedaan antara dua sikap: Nabi yang membakar sarang semut karena digigit satu semut, dan Nabi Sulaiman yang tersenyum mendengar perkataan semut dan mendoakan kebaikan. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi keimanan seseorang, semakin besar kasih sayangnya kepada makhluk Allah.
Imam Ibn Katsir dalam Tafsir-nya menyebutkan bahwa kisah semut ini adalah salah satu mukjizat Nabi Sulaiman, di mana Allah memberinya kemampuan untuk memahami bahasa binatang. Ini menunjukkan bahwa Allah memuliakan makhluk-makhluk kecil seperti semut dengan menjadikannya bagian dari kisah para nabi.
Kesimpulan Praktis
- Jangan membakar makhluk hidup dalam keadaan apa pun, karena ini adalah perbuatan yang dilarang dan termasuk sikap melampaui batas.
- Bersikap proporsional dalam membalas gangguan — jika ada semut yang mengganggu di rumah, cukup usir atau basmi yang mengganggu saja, jangan menghancurkan seluruh koloninya dengan cara yang kejam.
- Sadari bahwa semua makhluk bertasbih kepada Allah — semut, nyamuk, dan semua hewan adalah makhluk Allah yang beribadah kepada-Nya dengan cara mereka sendiri.
- Jangan meremehkan makhluk kecil — karena di sisi Allah, semut yang kecil pun memiliki kedudukan yang diperhatikan.
- Belajar kasih sayang dari Nabi ﷺ — Rasulullah ﷺ melarang membunuh hewan dengan cara yang kejam dan memerintahkan untuk berbuat baik dalam segala hal, termasuk saat menyembelih.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.