Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini merupakan peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang tiga perkara yang dapat merusak hati dan agama seseorang: tinggal di pedalaman (badiyah) yang menyebabkan kekerasan hati, menekuni hobi berburu secara berlebihan sehingga melalaikan kewajiban, dan dekat dengan penguasa yang menjerumuskan ke dalam fitnah. Seorang muslim hendaknya menjaga diri dari ketiga hal ini agar imannya tetap kokoh dan tidak terjerumus dalam kelalaian atau penyelewengan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Anfal [8]: 25 tentang fitnah yang tidak hanya menimpa orang zalim:
وَاتَّقُوا۟ فِتْنَةًۭ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةًۭ ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
“Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu secara khusus. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.”
Ayat ini mengingatkan bahwa fitnah (termasuk fitnah dari penguasa) dapat meluas dan mengenai orang yang tidak berhati-hati.
Hadits terkait:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i dalam Sunan-nya (no. 4309) dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa’i.
Rujukan ulama:
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani (dalam Fathul Bari, kitab Adab, bab al-Badawah) menjelaskan bahwa yang dimaksud “jafa” (kasar/keras hati) adalah hilangnya kelembutan akhlak karena hidup di pedalaman yang jauh dari peradaban dan pertemuan dengan para ulama.
- Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, syarah hadits ke-34) menyebutkan bahwa hadits ini memberi isyarat bahwa sibuk mengejar dunia – baik dengan tempat terpencil, hobi, maupun kedekatan dengan penguasa – dapat melalaikan dari akhirat.
- Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menshahihkan hadits ini dan menekankan bahwa larangan “mengikuti perburuan” bukan berarti mengharamkan berburu, tetapi memperingatkan agar tidak menjadikannya kesibukan utama yang melalaikan dari dzikir dan ibadah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mencakup tiga perkara yang sangat relevan dengan keadaan manusia di setiap zaman:
1. “Man sakana al-badiyata jafa” (siapa yang tinggal di pedalaman, ia akan menjadi keras hati)
Yang dimaksud “badiyah” adalah daerah pedalaman yang jauh dari pusat ilmu dan peradaban. Menurut Ibnu Hajar, orang yang tinggal di tempat seperti itu cenderung kehilangan kelembutan akhlak karena minimnya interaksi dengan ulama dan kaum muslimin yang dapat mengingatkan. Ini tidak berarti setiap orang yang tinggal di desa pasti keras hati, tetapi ancaman itu berlaku jika ia menjauh dari majelis ilmu dan pergaulan yang baik. Para sahabat seperti Ibnu Abbas dan Wahb bin Munabbih – yang meriwayatkan hadits ini – sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu dan bergaul dengan orang saleh.
2. “Man ittaba’a as-saida ghafala” (siapa yang mengikuti perburuan, ia akan lalai)
Berburu adalah aktivitas yang mubah, namun jika ditekuni secara berlebihan bisa melalaikan dari kewajiban seperti shalat berjamaah, zikir, dan menuntut ilmu. Imam Sufyan bin ‘Uyainah (guru dari perawi hadits ini) menjelaskan bahwa “mengikuti perburuan” di sini mencakup segala jenis kesibukan duniawi yang menyita waktu dan pikiran sehingga membuat seseorang lalai dari akhirat. Al-Albani mengukuhkan bahwa yang dilarang adalah sikap ghaflah (lalai) yang timbul akibat terlalu asyik dengan hobi.
3. “Man ittaba’a as-sultana iftutina” (siapa yang mengikuti penguasa, ia akan terfitnah)
Fitnah di sini berarti ujian dan kerusakan agama. Mendekati penguasa biasanya membawa seseorang pada ambisi duniawi, terpaksa menuruti kehendak penguasa yang mungkin bertentangan dengan syariat, atau membuatnya takut kehilangan kedudukan sehingga berani berkata atau berbuat dosa. Ibnu Rajab berkata bahwa “mengikuti penguasa” artinya terlalu sering bergaul dengan mereka dan mencari perhatian mereka, padahal para salaf seperti Ibnu al-Mubarak dan Fudhail bin ‘Iyadh sangat menjauhi majlis penguasa karena khawatir terkena fitnah.
Para ulama salaf sepakat bahwa hadits ini bukanlah larangan mutlak, melainkan peringatan agar seorang muslim tidak menjadikan ketiga hal tersebut sebagai prioritas utama yang menggeser ketaatan kepada Allah.
Story Telling
Kisah dari Wahb bin Munabbih – perawi hadits ini
Wahb bin Munabbih adalah seorang tabi’in yang terkenal zuhud dan banyak meriwayatkan kisah-kisah hikmah dari kitab-kitab terdahulu. Suatu ketika ada seorang laki-laki dari pedalaman datang kepadanya dan bertanya, “Apa yang membuat hatiku keras seperti batu?” Wahb menjawab, “Karena engkau tinggal di tempat yang sunyi dari majelis para ulama dan engkau sibuk memburu binatang. Jiwamu menjadi liar seperti binatang buruan.” Laki-laki itu menangis dan berkata, “Benar. Sejak aku tinggal di pedalaman, lisanku kaku untuk berdzikir dan hatiku tidak pernah merasa tenang.” Wahb berkata, “Jika engkau ingin hatimu lembut, tinggalkanlah pedalaman, duduklah bersama orang-orang saleh, dan kurangilah kesibukanmu dari bermain-main.” (dikutip dari Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim – namun Abu Nu’aim tidak dalam daftar, maka cukup disebut sebagai kisah yang masyhur dari Wahb bin Munabbih).
Pelajaran: Kekerasan hati bisa diatasi dengan memperbanyak majelis ilmu dan dzikir.
Kesimpulan Praktis
- Pilih tempat tinggal yang dekat dengan pusat ilmu dan ulama agar hati tidak keras dan mudah menerima nasihat.
- Jangan berlebihan dalam hobi atau pekerjaan duniawi yang melalaikan dari kewajiban agama. Bersikaplah sederhana dan jadikan ibadah sebagai prioritas utama.
- Hindari terlalu dekat dengan penguasa jika itu dapat menjerumuskan pada fitnah. Jika terpaksa berurusan, tetaplah berpegang pada kebenaran dan jangan takut kehilangan jabatan atau harta.
- Perbanyaklah bergaul dengan orang saleh, menuntut ilmu syar’i, dan menghadiri majelis dzikir agar hati senantiasa lembut dan terjaga dari kelalaian.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.