Penjelasan Hadits Nasa'i No. 4194 tentang Kewajiban menaati pemimpin dalam ketaatan kepada Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan sebab turunnya (asbabun nuzul) sebagian dari QS. An-Nisa' [4]: 59, yaitu perintah Allah untuk taat kepada-Nya dan taat kepada Rasul-Nya. Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Hudzaifah bin Qais, yang diutus Rasulullah ﷺ sebagai pemimpin pasukan. Kisah ini mengajarkan bahwa ketaatan kepada pemimpin harus dalam koridor ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidak boleh dalam kemaksiatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. An-Nisa' [4]: 59:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."

Hadits Riwayat:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Al-Bai'ah, Bab Perintah Allah untuk Menaati Pemimpin, no. 4194. Sanadnya: Al-Hasan bin Muhammad ← Hajjaj ← Ibnu Juraij ← Ya'la bin Muslim ← Sa'id bin Jubair ← Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Kaitan dengan Ulama:

Kisah ini juga disebutkan oleh para ulama tafsir dalam menjelaskan ayat tersebut, di antaranya disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim ketika menafsirkan QS. An-Nisa' [4]: 59, dengan meriwayatkan atsar dari Ibnu Abbas. Ini menunjukkan bahwa pemahaman ayat ini bersumber dari para sahabat yang merupakan generasi terbaik.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini turun pada konteks pengangkatan seorang pemimpin pasukan. Dalam riwayat yang masyhur, Rasulullah ﷺ mengutus satu pasukan dan mengangkat Abdullah bin Hudzaifah bin Qais sebagai pemimpinnya. Dalam perjalanan, Abdullah bin Hudzaifah melakukan sesuatu yang tampak memberatkan para sahabat, namun mereka tetap menaatinya karena perintah Nabi ﷺ untuk taat kepada pemimpin.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk taat kepada Allah, taat kepada Rasul-Nya, dan taat kepada ulil amri (pemimpin) di antara kaum muslimin. Namun, ketaatan kepada ulil amri adalah ketaatan yang bersifat mengikuti, bukan ketaatan mutlak seperti kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada pemimpin hanyalah dalam perkara yang ma'ruf (baik) dan tidak bertentangan dengan syariat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan yang mutlak, tidak ada pengecualian. Adapun ketaatan kepada ulil amri adalah ketaatan yang terikat, yaitu hanya dalam hal yang tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah. Beliau juga menegaskan bahwa apabila terjadi perselisihan, maka penyelesaiannya harus dikembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah, bukan kepada hawa nafsu atau akal semata.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah ketika membahas hadits tentang ketaatan kepada pemimpin menegaskan bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah. Ini adalah kaidah besar yang disepakati para ulama.

Adapun kisah Abdullah bin Hudzaifah, para ulama menyebutkan bahwa ketika ia memerintahkan para sahabat untuk mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api, sebagian sahabat merasa keberatan karena mengira ia akan memerintahkan mereka masuk ke dalam api. Namun akhirnya mereka memahami bahwa itu hanyalah ujian ketaatan. Ketika peristiwa itu dilaporkan kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda yang maknanya: "Seandainya mereka masuk ke dalam api, niscaya mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma'ruf." Riwayat ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemimpin tidak boleh melanggar batas syariat.

Story Telling

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Hudzaifah bin Qais bin 'Adiyy, ketika Rasulullah ﷺ mengangkatnya sebagai pemimpin dalam suatu ekspedisi militer."

Dalam riwayat lain yang disebutkan oleh para ulama, ketika pasukan tersebut dalam perjalanan, Abdullah bin Hudzaifah marah kepada pasukannya karena suatu hal. Ia lalu memerintahkan mereka untuk mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api. Ketika api telah menyala, ia berkata, "Bukankah Rasulullah ﷺ memerintahkan kalian untuk taat kepadaku?" Mereka menjawab, "Benar." Ia berkata lagi, "Maka masuklah ke dalam api ini!" Sebagian sahabat hendak melakukannya, namun sebagian lainnya berkata, "Kita hanya diperintahkan taat selama tidak dalam kemaksiatan. Ini adalah kemaksiatan." Akhirnya mereka tidak jadi masuk.

Ketika peristiwa ini sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: "Seandainya mereka masuk ke dalam api tersebut, niscaya mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma'ruf (baik)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib dengan lafaz yang semakna).

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa ketaatan kepada pemimpin memiliki batas. Seorang muslim wajib taat selama perintahnya tidak bertentangan dengan syariat. Namun apabila pemimpin memerintahkan kemaksiatan, maka tidak ada ketaatan, tetapi tetap tidak boleh memberontak secara liar. Ini adalah manhaj Ahlus Sunnah dalam menyikapi pemimpin.

Kesimpulan Praktis

  1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kewajiban mutlak yang tidak boleh ditawar-tawar.
  2. Taat kepada pemimpin adalah kewajiban selama perintahnya tidak bertentangan dengan syariat.
  3. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah — ini adalah kaidah besar yang disepakati para ulama.
  4. Apabila terjadi perselisihan, kembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah, bukan kepada opini atau hawa nafsu.
  5. Sikap terhadap pemimpin yang keliru adalah menasihati dengan cara yang baik, bukan memberontak secara liar yang justru menimbulkan kerusakan lebih besar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?