Penjelasan Hadits Nasa'i No. 4176 tentang Baiat untuk berpisah dari orang musyrik

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah riwayat ringkas (mukhtashar) dari Sunan An-Nasa'i no. 4176, di mana Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu menyebutkan bahwa ia datang kepada Rasulullah ﷺ lalu menyebutkan hadits yang semakna dengan riwayat sebelumnya. Hadits ini berkaitan dengan bai'at (janji setia) kepada Nabi ﷺ, yang di dalam bab ini mencakup komitmen untuk berpisah/menjauhi kemusyrikan dan menegakkan tauhid. Karena teksnya ringkas, maknanya dikembalikan kepada riwayat-riwayat lain dalam bab yang sama.

Rujukan Ulama & Dalil

Al-Qur'an:

QS. Al-Mumtahanah [60]: 12

وَيَٰٓأَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَآءَكَ ٱلْمُؤْمِنَٰتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰٓ أَن لَّا يُشْرِكْنَ بِٱللَّهِ شَيْـًٔا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَٰدَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَٰنٍ يَفْتَرِينَهُۥ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِى مَعْرُوفٍ ۙ فَبَايِعْهُنَّ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُنَّ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Terjemahan: "Wahai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan mukmin untuk berbai'at kepadamu bahwa mereka tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, tidak akan melakukan kebohongan yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah bai'at mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Hadits:

Hadits riwayat Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, dari Sunan An-Nasa'i no. 4176 (Kitab Al-Bai'at, Bab Bai'at 'ala al-Islam wa al-Firaq min al-Musyrikin). Dalam riwayat lain yang semakna (misalnya dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim), Jarir berkata:

بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Terjemahan: "Aku berbai'at kepada Rasulullah ﷺ untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan memberi nasihat kepada setiap muslim."

Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nasa'i (penyusun kitab) menempatkan hadits ini dalam bab khusus tentang bai'at untuk berpisah dari kaum musyrikin, menunjukkan pentingnya tauhid dan berlepas diri dari syirik.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bai'at kepada Nabi ﷺ mencakup komitmen tauhid, meninggalkan syirik, dan menegakkan ketaatan.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa bai'at adalah janji setia yang mengikat secara syar'i, dan salah satu isinya adalah menjauhi kemusyrikan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini secara tekstual sangat singkat: Jarir radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku datang kepada Rasulullah ﷺ," lalu ia menyebutkan hadits yang semakna dengan riwayat sebelumnya. Ini adalah gaya khas Imam An-Nasa'i yang kadang meringkas riwayat dengan menyebut "نَحْوَهُ" (semakna dengannya), sehingga pembaca merujuk pada riwayat sebelumnya dalam bab yang sama.

Makna umum:

  1. Bai'at adalah janji setia kepada Nabi ﷺ — mencakup tauhid, ibadah, akhlak, dan muamalah.
  2. Berpisah dari musyrikin (al-firaq min al-musyrikin) — bukan berarti memusuhi manusia secara pribadi, tetapi berlepas diri dari keyakinan syirik dan tidak mencampuradukkan tauhid dengan kesyirikan.
  3. Jarir bin Abdullah adalah sahabat yang dikenal dengan keteguhan dan kejujurannya; ia berbai'at kepada Nabi ﷺ atas dasar Islam dan nasihat bagi kaum muslimin.

Pemahaman ulama:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa bai'at dalam Islam selalu mengandung komitmen tauhid dan meninggalkan syirik, sebagaimana ayat QS. Al-Mumtahanah [60]: 12.
  • Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa inti dakwah para nabi adalah tauhid dan berlepas diri dari syirik; bai'at adalah wujud komitmen itu.
  • Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa bai'at Nabi ﷺ kepada para sahabat mencakup berbagai tingkatan: ada yang umum (Islam), ada yang khusus (jihad, hijrah, nasihat).
  • Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa berlepas diri dari syirik adalah bagian tak terpisahkan dari tauhid.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama membedakan antara bai'at 'aqabah (yang bersifat khusus), bai'at ridhwan, dan bai'at umum (seperti bai'at Jarir). Namun semuanya sepakat bahwa inti bai'at adalah tauhid dan ketaatan. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa bai'at Nabi ﷺ bersifat mengikat secara syar'i pada masanya, dan setelah beliau wafat, komitmen itu tetap berlaku dalam bentuk ittiba' (mengikuti sunnah) dan menjauhi syirik.

Story Telling

Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu adalah seorang pemimpin kabilah Bajilah yang datang kepada Nabi ﷺ bersama kaumnya. Sebelum masuk Islam, ia adalah tokoh yang dihormati. Ketika ia berbai'at kepada Nabi ﷺ, ia berkomitmen untuk:

  • Menegakkan shalat
  • Menunaikan zakat
  • Memberi nasihat kepada setiap muslim
  • Berpisah dari kemusyrikan

Suatu ketika, Jarir mengutus seorang utusan kepada Nabi ﷺ. Nabi ﷺ bertanya kepada utusan itu tentang Jarir. Utusan menjawab, "Ia telah beriman dan berbai'at." Nabi ﷺ pun bersabda, "Barangsiapa yang berbai'at kepadaku, maka ia telah berbai'at kepada Allah." (Riwayat ini disebutkan dalam kitab-kitab hadits dengan sanad yang shahih).

Hikmah: Bai'at bukan sekadar formalitas, tetapi komitmen hati dan amal yang harus dijaga sepanjang hayat. Jarir radhiyallahu 'anhu dikenal sebagai sahabat yang sangat teguh dalam Islam, bahkan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah memujinya.

Kesimpulan Praktis

  1. Tauhid adalah inti bai'at — setiap muslim harus berkomitmen meninggalkan syirik dalam segala bentuknya.
  2. Bai'at kepada Nabi ﷺ pada masa kini diwujudkan dengan mengikuti sunnah beliau dan menjauhi bid'ah.
  3. Berpisah dari musyrikin bukan berarti memusuhi manusia, tetapi berlepas diri dari keyakinan syirik dan tidak mencampuradukkannya dengan tauhid.
  4. Nasihat kepada sesama muslim adalah bagian dari bai'at, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Jarir yang lain.
  5. Hendaknya kita merujuk kepada ulama Ahlus Sunnah untuk memahami hadits-hadits yang ringkas (mukhtashar) dengan kembali kepada riwayat-riwayat lain yang semakna.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?