Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3949 tentang Keutamaan Aisyah dan larangan menyakiti Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki kecintaan khusus kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dan bahwa wahyu pernah turun kepada beliau saat berada bersama 'Aisyah di bawah selimut, tidak terjadi pada istri-istri yang lain. Ini bukan larangan berbuat adil, melainkan penjelasan bahwa kecenderungan hati kepada sebagian istri adalah sesuatu yang manusiawi dan tidak melanggar keadilan yang wajib. Islam mengajarkan keadilan dalam giliran, nafkah, dan perlakuan lahir, sementara cinta hati adalah urusan yang Allah ketahui.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, kitab tentang sepuluh wanita, bab cinta seorang pria kepada sebagian istrinya lebih dari sebagian yang lain (no. 3949), dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

Teks hadits:

<p>يَا أُمَّ سَلَمَةَ لَا تُؤْذِينِي فِي عَائِشَةَ فَإِنَّهُ وَاللَّهِ مَا أَتَانِي الْوَحْيُ فِي لِحَافِ امْرَأَةٍ مِنْكُنَّ إِلَّا هِيَ</p>

Terjemahan: "Wahai Umm Salamah, jangan ganggu aku tentang 'Aisyah, karena demi Allah, wahyu tidak pernah datang kepadaku di bawah selimut salah satu dari kalian kecuali dia."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keadilan terhadap istri:

<p>وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ</p>

QS. An-Nisa' [4]: 129

Terjemahan: "Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung."

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang kecenderungan hati yang tidak mampu dikendalikan manusia, dan bahwa yang dilarang adalah kecenderungan berlebihan yang membuat hak istri lain terabaikan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini dipahami oleh para ulama dalam kerangka keadilan yang Allah wajibkan atas suami. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kecintaan hati kepada sebagian istri lebih dari yang lain adalah sesuatu yang tidak mampu dikendalikan manusia, dan Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Yang wajib adalah keadilan dalam hal yang mampu dilakukan: giliran menginap, nafkah, pakaian, dan perlakuan lahir.

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dan bahwa wahyu turun kepada Nabi ﷺ saat beliau berada di bawah selimut 'Aisyah, bukan istri lain. Ini adalah kekhususan yang Allah berikan kepada 'Aisyah, dan bukan berarti Nabi ﷺ tidak adil.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya tentang Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kecintaan Nabi ﷺ kepada 'Aisyah adalah kecintaan yang berdasarkan wahyu dan keutamaan ilmu, bukan sekadar hawa nafsu. 'Aisyah adalah wanita yang paling banyak meriwayatkan hadits, paling memahami agama, dan paling dekat dengan Nabi ﷺ dalam hal ilmu.

Adapun ucapan Nabi ﷺ "jangan ganggu aku tentang 'Aisyah", ini adalah nasihat lembut kepada Umm Salamah radhiyallahu 'anha agar tidak menyakiti Nabi ﷺ dengan celaan terhadap 'Aisyah. Ini juga menunjukkan bahwa menyakiti Nabi ﷺ adalah perkara besar, dan bahwa mencintai 'Aisyah adalah bagian dari mencintai Nabi ﷺ.

Para ulama juga menjelaskan bahwa hadits ini tidak bertentangan dengan kewajiban berbuat adil, karena keadilan yang wajib adalah keadilan dalam perbuatan lahir, bukan dalam kecenderungan hati. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa' [4]: 129 bahwa manusia tidak akan mampu berbuat adil dalam kecenderungan hati, dan yang dilarang adalah kecenderungan berlebihan yang mengabaikan hak istri lain.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Umm Salamah radhiyallahu 'anha menyebut tentang 'Aisyah di hadapan Nabi ﷺ, lalu Nabi ﷺ menegurnya dengan lembut seperti dalam hadits ini. Umm Salamah kemudian memahami dan tidak mengulangi hal itu. Ini menunjukkan adab seorang mukmin terhadap Nabi ﷺ dan terhadap sesama istri Nabi ﷺ.

Dalam riwayat lain yang shahih, Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa keutamaan 'Aisyah atas wanita lain seperti keutamaan tsarid (makanan khas Arab) atas makanan lainnya. Ini menunjukkan kedudukan 'Aisyah yang khusus, dan bahwa para sahabat pun mengetahui hal ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Kecenderungan hati kepada sebagian istri adalah hal yang manusiawi dan tidak berdosa, selama tidak mengabaikan hak istri lain.
  2. Keadilan yang wajib bagi suami adalah dalam hal giliran, nafkah, dan perlakuan lahir.
  3. Mencintai 'Aisyah radhiyallahu 'anha adalah bagian dari mencintai Nabi ﷺ dan menghormati keluarga beliau.
  4. Hendaknya seorang muslim beradab terhadap Nabi ﷺ dan keluarganya, serta tidak menyakiti beliau dengan celaan terhadap istri-istrinya.
  5. Hendaknya suami berusaha adil semaksimal mungkin dan tidak terlalu condong kepada salah satu istri sehingga yang lain terabaikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?