Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3939 tentang Kecintaan Nabi pada wanita, parfum, dan shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ diberi kecintaan kepada tiga hal: wanita (yakni istri-istri beliau), parfum/wewangian, dan shalat sebagai penyejuk mata (ketenangan hati). Ini bukanlah hadits yang memuliakan syahwat, melainkan penjelasan tentang fitrah yang suci dan ibadah yang menjadi puncak ketenangan seorang mukmin. Para ulama memahaminya sebagai pujian terhadap pernikahan, kebersihan, dan kekhusyukan shalat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab 'Isyratun Nisa' (pergaulan dengan wanita), dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه.

Teks hadits:

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

Terjemah: "Dijadikan tercinta bagiku dari dunia ini: wanita dan parfum, dan dijadikan penyejuk mataku (ketenangan hatiku) dalam shalat."

Ayat yang berkaitan dengan kecintaan kepada istri dan ketenangan:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

QS. Ar-Rum [30]: 21

Terjemah: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia jadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."

Ayat tentang shalat sebagai ketenangan:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

QS. Al-Baqarah [2]: 45

Terjemah: "Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sungguh, yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."

Penjelasan Rinci

Pertama: Makna "wanita" dalam hadits ini.

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah istri-istri beliau ﷺ, bukan wanita secara umum dalam makna syahwat. Ini sebagaimana dipahami oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, bahwa kecintaan ini adalah kecintaan yang bersih, karena pernikahan adalah sunnah para nabi dan sarana menjaga kehormatan serta melahirkan keturunan. Nabi ﷺ sendiri memerintahkan umatnya untuk menikah, sebagaimana sabda beliau dalam hadits lain yang shahih.

Kedua: Makna "parfum/wewangian".

Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mencintai kebersihan dan keharuman. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa parfum termasuk hal yang disukai Nabi ﷺ karena ia menyucikan badan dan menyenangkan hati, serta menjadi sarana mendekat kepada Allah dalam ibadah. Karena itu disunnahkan memakai wangi-wangian, terutama ketika shalat, Jumat, dan berkumpul dengan orang lain.

Ketiga: Makna "shalat sebagai penyejuk mata".

Ini adalah puncak hadits. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa "qurratu 'ain" (penyejuk mata) berarti sesuatu yang paling dicintai dan paling menenangkan, sehingga seseorang tidak ingin berpisah darinya. Nabi ﷺ menjadikan shalat sebagai tempat istirahat dan ketenangan, bukan sebagai beban. Beliau bersabda kepada Bilal: "Wahai Bilal, dirikanlah shalat, tenangkanlah kami dengannya." (HR. Abu Dawud, dari Salim bin Abi al-Ja'd).

Keempat: Urutan dan hikmahnya.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa tiga hal ini mewakili tiga dimensi manusia: kecintaan kepada pasangan (sosial-keluarga), kecintaan kepada keindahan dan kebersihan (jasmani), dan kecintaan kepada ibadah (ruhani). Ketiganya seimbang dalam diri Nabi ﷺ, tidak berlebihan pada satu sisi dan tidak mengabaikan sisi lain. Inilah teladan keseimbangan hidup seorang mukmin.

Kelima: Bantahan terhadap salah paham.

Sebagian orang menyangka hadits ini mendukung hawa nafsu. Ini keliru. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa kecintaan Nabi ﷺ kepada istri-istrinya adalah kecintaan yang diiringi tanggung jawab, kasih sayang, dan menjaga kehormatan, bukan syahwat hewani. Adapun kecintaan kepada shalat, itu adalah kecintaan yang paling tinggi karena menghubungkan hamba dengan Rabb-nya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik رضي الله عنه, yang menjadi pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, memperhatikan betapa Nabi ﷺ selalu menjaga kebersihan dan keharuman. Beliau ﷺ tidak pernah mencela pelayanannya, dan selalu tersenyum. Anas juga menyaksikan bahwa ketika waktu shalat tiba, Nabi ﷺ seakan-akan meninggalkan seluruh kesibukan dunia dan menghadap Allah dengan sepenuh hati. Inilah yang membuat Anas meriwayatkan hadits ini, agar umat mengetahui bahwa Nabi ﷺ adalah teladan dalam mencintai keluarga, menjaga kebersihan, dan mendirikan shalat dengan khusyuk. (Disebutkan secara makna dalam Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi dan Fathul Bari karya Ibnu Hajar).

Kesimpulan Praktis

  1. Cintailah pernikahan sebagai sunnah Nabi ﷺ, dan jadikan istri/suami sebagai sumber ketenangan, bukan sumber pertengkaran.
  2. Biasakan memakai parfum dan menjaga kebersihan, terutama saat shalat, Jumat, dan berkumpul dengan orang lain.
  3. Jadikan shalat sebagai penyejuk hati, bukan sekadar kewajiban. Persiapkan diri sebelum shalat, tinggalkan kesibukan, dan hadirkan hati.
  4. Seimbangkan urusan dunia dan akhirat: keluarga, kebersihan, dan ibadah semuanya memiliki porsi dalam hidup seorang mukmin.
  5. Jauhi ghuluw (berlebihan) dalam memahami hadits ini, baik dengan menolak pernikahan maupun dengan menyepelekan shalat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?