Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita bahwa Islam melarang seseorang menyakiti dirinya sendiri, baik dengan cara yang aneh maupun yang menyulitkan, termasuk dalam beribadah. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa ibadah itu mudah dan tidak boleh memberatkan diri dengan cara-cara yang tidak dicontohkan. Beliau memotong tali yang mengikat hidung dan tangan orang yang sedang tawaf tersebut, lalu memerintahkannya untuk menuntun dengan tangan, sebagai bentuk koreksi dan pengajaran bahwa beribadah haruslah dengan cara yang benar dan tidak menyiksa diri.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 3811) dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 1620) dengan lafaz yang semakna.
Dalil dari Al-Qur'an tentang larangan menyakiti diri sendiri dan berlebih-lebihan dalam beragama:
QS. Al-Baqarah [2]: 195
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan."
QS. Al-Ma'idah [5]: 87
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah Allah halalkan kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa peristiwa dalam hadits ini terjadi di masa awal Islam, ketika sebagian orang masih memiliki kebiasaan jahiliyah dalam beribadah, seperti melakukan tawaf dengan cara yang menyiksa diri. Ada yang mengikat hidungnya dengan tali (khizamah) lalu dituntun seperti unta, dan ada pula yang mengikat tangannya dengan tangan orang lain. Ini adalah bentuk ghuluw (berlebih-lebihan) dalam ibadah yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ melarang perbuatan semacam ini karena termasuk menyiksa diri tanpa manfaat syar'i. Beliau menegaskan bahwa ibadah yang benar adalah yang sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ, bukan yang dibuat-buat berdasarkan hawa nafsu atau tradisi yang menyelisihi syariat.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:
- Larangan menyakiti diri sendiri dalam rangka ibadah, karena Islam tidak pernah memerintahkan hal tersebut.
- Wajibnya beribadah dengan cara yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ, bukan dengan cara yang dibuat-buat.
- Bolehnya mengingkari kemungkaran dengan tangan bagi yang memiliki kemampuan, sebagaimana Nabi ﷺ memotong tali tersebut dengan tangannya sendiri.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa perbuatan orang tersebut adalah sisa-sisa kebiasaan jahiliyah yang ingin menunjukkan kezuhudan secara keliru. Maka Nabi ﷺ mengoreksinya dengan tegas namun tetap lembut, yaitu dengan memotong talinya dan memerintahkannya untuk berpegang dengan tangan, yang lebih manusiawi dan tidak menyakiti.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas dalam beragama, karena syariat Islam dibangun di atas kemudahan dan tidak memberatkan. Beribadah dengan menyakiti diri adalah bentuk melampaui batas yang dilarang.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ada tiga orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi ﷺ untuk bertanya tentang ibadah beliau. Ketika mereka diberitahu tentang ibadah Nabi ﷺ yang penuh keseimbangan, mereka merasa ibadah mereka kurang. Salah seorang berkata, "Aku akan shalat malam terus-menerus dan tidak tidur." Yang lain berkata, "Aku akan berpuasa terus-menerus dan tidak berbuka." Yang ketiga berkata, "Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
"Adakah kalian yang berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan paling bertakwa kepada-Nya. Tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan tidur, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku." (HR. Al-Bukhari no. 5063 dan Muslim no. 1401)
Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk tidak berlebih-lebihan dalam beribadah hingga menyakiti diri, karena agama ini mudah dan penuh kasih sayang.
Kesimpulan Praktis
- Jangan menyakiti diri sendiri dalam bentuk ibadah apa pun, karena Islam tidak pernah memerintahkannya.
- Ibadah harus sesuai tuntunan Nabi ﷺ, bukan berdasarkan tradisi atau perasaan semata.
- Jika melihat kemungkaran dan mampu mengubahnya, maka ubahlah dengan tangan, sebagaimana Nabi ﷺ memotong tali tersebut.
- Bersikap lembut dalam mengoreksi kesalahan orang lain, sebagaimana Nabi ﷺ tidak memarahi orang tersebut, tetapi langsung memperbaiki dan mengajarkan cara yang benar.
- Jauhi sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beragama, karena hal itu dapat menjerumuskan seseorang pada kebinasaan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.