Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3236 tentang Anjuran menikah di bulan Syawwal berdasarkan sunnah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa menikah di bulan Syawwal adalah perkara yang dibolehkan dan pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ. Hal ini sekaligus membantah keyakinan sebagian masyarakat yang menganggap bulan Syawwal sebagai bulan sial atau tidak baik untuk menikah. Aisyah radhiyallahu 'anha sendiri menyukai pernikahan di bulan Syawwal karena Nabi ﷺ menikahinya di bulan tersebut.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat An-Nasa'i:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan):

أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ سُفْيَانَ، قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي شَوَّالٍ وَأُدْخِلْتُ عَلَيْهِ فِي شَوَّالٍ وَكَانَتْ عَائِشَةُ تُحِبُّ أَنْ تُدْخِلَ نِسَاءَهَا فِي شَوَّالٍ فَأَىُّ نِسَائِهِ كَانَتْ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي

Makna ringkas: Aisyah radhiyallahu 'anha mengabarkan bahwa Rasulullah ﷺ menikahinya di bulan Syawwal dan menggaulinya (membangun rumah tangga) juga di bulan Syawwal. Aisyah suka menggauli para wanitanya (kerabatnya) di bulan Syawwal, dan ia berkata: "Siapakah di antara istri-istri Nabi yang lebih beruntung di sisinya selain aku?"

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1424), dari jalur Sufyan ats-Tsauri, dan juga oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5160) dengan redaksi yang serupa.

Penjelasan ulama tentang hadits ini:

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim (9/209) menjelaskan bahwa hadits ini adalah bantahan terhadap keyakinan orang-orang Jahiliyah yang menganggap menikah di bulan Syawwal adalah sial. Beliau berkata: "Dalam hadits ini terdapat anjuran menikah dan menggauli istri di bulan Syawwal, dan ini adalah bantahan terhadap orang-orang yang membenci hal tersebut karena keyakinan jahiliyah."

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa faedah penting:

1. Bantahan terhadap keyakinan sial (thiyarah) pada bulan Syawwal

Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Fath al-Bari (kitab beliau tentang penjelasan hadits-hadits Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa orang-orang Jahiliyah memiliki keyakinan bahwa menikah di bulan Syawwal adalah perkara yang tidak membawa keberkahan. Maka Nabi ﷺ menikahi Aisyah di bulan Syawwal untuk membantah keyakinan batil ini.

2. Aisyah radhiyallahu 'anha sebagai wanita yang paling dicintai Nabi ﷺ

Dalam hadits ini, Aisyah menyebutkan bahwa ia adalah istri yang paling beruntung di sisi Nabi ﷺ. Hal ini menunjukkan keutamaan Aisyah dan kedudukannya yang agung di sisi Nabi ﷺ. Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah menyebutkan bahwa Aisyah adalah istri yang paling dicintai Nabi ﷺ, dan ini berdasarkan hadits-hadits shahih lainnya.

3. Anjuran untuk memilih waktu yang baik dan tidak terikat dengan khurafat

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa seorang muslim hendaknya tidak terikat dengan keyakinan-keyakinan batil tentang bulan-bulan tertentu yang dianggap sial. Semua bulan adalah milik Allah, dan tidak ada satu bulan pun yang membawa sial kecuali karena keyakinan batil yang diada-adakan.

4. Pentingnya mengikuti sunnah dalam perkara pernikahan

Imam al-Bukhari rahimahullah menempatkan hadits ini dalam bab "Menikah di Bulan Syawwal" untuk menunjukkan bahwa hal ini adalah sunnah yang dicontohkan Nabi ﷺ. Beliau juga meriwayatkan dari Aisyah bahwa ia suka menggauli para wanitanya di bulan Syawwal, sebagai bentuk pengamalan sunnah Nabi ﷺ.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan hal ini, ia ingin menegaskan bahwa pernikahannya dengan Rasulullah ﷺ adalah pernikahan yang penuh keberkahan, meskipun terjadi di bulan Syawwal yang oleh sebagian orang Jahiliyah dianggap sial.

Aisyah adalah wanita yang paling dicintai Nabi ﷺ. Dalam hadits shahih, ketika Nabi ﷺ ditanya: "Siapakah orang yang paling engkau cintai?" Beliau menjawab: "Aisyah." (HR. al-Bukhari no. 3662). Ini menunjukkan bahwa pernikahan di bulan Syawwal justru menjadi pernikahan yang paling diberkahi, karena melahirkan rumah tangga yang penuh cinta dan kasih sayang antara Nabi ﷺ dan Aisyah.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa keberkahan sebuah pernikahan tidak ditentukan oleh bulan atau waktu tertentu, melainkan oleh keikhlasan, ketaatan kepada Allah, dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Menikah di bulan Syawwal adalah perkara yang dibolehkan dan pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ, bahkan Aisyah menganjurkannya.
  2. Tidak ada bulan sial dalam Islam — keyakinan bahwa bulan tertentu membawa kesialan adalah sisa-sisa keyakinan Jahiliyah yang harus ditinggalkan.
  3. Hendaknya seorang muslim tidak terikat dengan mitos dan khurafat dalam menentukan waktu pernikahan atau acara penting lainnya.
  4. Meneladani Nabi ﷺ dalam segala urusan, termasuk dalam memilih waktu pernikahan, adalah jalan terbaik untuk mendapatkan keberkahan.
  5. Menjauhi thiyarah (merasa sial karena sesuatu) adalah perkara yang dilarang, karena Nabi ﷺ bersabda: "Thiyarah adalah kesyirikan." (HR. Abu Dawud no. 3910, dan dihasankan oleh Syeikh al-Albani).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?