Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3220 tentang Anjuran menikahi perawan agar dapat bermain bersama

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan perhatian dan kasih sayang Nabi ﷺ kepada para sahabatnya, termasuk dalam urusan rumah tangga. Beliau menganjurkan menikahi gadis (perawan) bagi yang mampu, dengan alasan yang sangat manusiawi: agar ada keceriaan, kehangatan, dan saling bermain antara suami istri. Namun, ini adalah anjuran (sunnah), bukan kewajiban. Menikahi janda juga dibolehkan dan bisa jadi lebih utama dalam kondisi tertentu, sebagaimana yang terjadi pada Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat An-Nasa'i:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 3220) dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang semakna.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nur [24]: 32)

Ayat ini menunjukkan perintah untuk menikahkan orang-orang yang belum menikah, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa membedakan status perawan atau janda.

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya menikahi gadis (perawan) karena lebih menyenangkan dan lebih mengikat kasih sayang. Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama sepakat (ijma') bahwa menikahi janda itu boleh, dan pilihan antara keduanya dikembalikan kepada kebutuhan dan maslahat masing-masing orang.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Konteks Kisah Jabir bin Abdillah

Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ayahnya, Abdillah bin Amr bin Haram, gugur dalam Perang Uhud. Jabir saat itu masih muda dan memiliki banyak saudara perempuan. Beliau kemudian menikah dengan seorang janda yang bisa mengurus dan mendidik saudara-saudara perempuannya. Ketika Nabi ﷺ mengetahui hal ini, beliau tidak mencela pilihan Jabir, tetapi hanya menyayangkan dengan nada lembut: "Mengapa tidak dengan perawan, agar dia bisa bermain denganmu?"

2. Makna "تُلاَعِبُكَ" (Tula'ibuka)

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna tula'ibuka adalah "dia bisa bercanda dan bermain denganmu". Ini menunjukkan bahwa pernikahan dalam Islam bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga untuk membangun kehangatan, keceriaan, dan kasih sayang. Seorang istri yang masih muda dan perawan biasanya lebih mudah diajak bercanda dan lebih luwes dalam pergaulan, sehingga kehidupannya lebih ceria.

3. Anjuran, Bukan Kewajiban

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnah (anjuran) untuk menikahi gadis, bukan kewajiban. Karena Nabi ﷺ sendiri menikahi Aisyah radhiyallahu 'anha yang masih perawan, namun juga menikahi beberapa janda seperti Saudah binti Zam'ah dan Ummu Salamah radhiyallahu 'anhunna. Ini membuktikan bahwa keduanya baik, dan pilihan dikembalikan kepada kebutuhan masing-masing.

4. Pelajaran Adab dan Akhlak Nabi ﷺ

Dalam hadits ini, kita melihat bagaimana Nabi ﷺ bertanya dengan penuh kelembutan dan perhatian. Beliau tidak langsung menghakimi atau mencela pilihan Jabir, tetapi memberikan nasihat dengan bahasa yang santun dan penuh kasih sayang. Ini adalah pelajaran besar dalam berdakwah dan bermuamalah: nasihat yang baik disampaikan dengan cara yang baik pula.

5. Hikmah di Balik Pilihan Jabir

Jabir radhiyallahu 'anhu memilih janda karena alasan yang sangat mulia: beliau memiliki banyak saudara perempuan yang masih kecil, dan ia membutuhkan seorang istri yang matang dan berpengalaman untuk mengurus mereka. Ini menunjukkan bahwa dalam memilih pasangan, kita harus mempertimbangkan maslahat (kebaikan) yang lebih besar, bukan hanya keinginan pribadi.

Story Telling

Dikisahkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Ayahku gugur pada Perang Uhud dan meninggalkan tujuh anak perempuan. Maka aku menikahi seorang wanita janda yang sudah berpengalaman. Ketika Rasulullah ﷺ bertemu denganku, beliau bertanya: 'Wahai Jabir, apakah kamu sudah menikah?' Aku menjawab: 'Ya.' Beliau bertanya lagi: 'Dengan perawan atau janda?' Aku menjawab: 'Dengan janda.' Beliau bersabda: 'Mengapa tidak dengan perawan, agar dia bisa bermain denganmu dan kamu bisa bermain dengannya?' Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, ayahku gugur dan meninggalkan tujuh anak perempuan. Maka aku tidak suka menikahi wanita yang masih muda seperti mereka, yang tidak bisa mengurus mereka. Maka aku menikahi wanita yang sudah berpengalaman agar bisa mengurus mereka.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Semoga Allah memberkatimu.'" (HR. Al-Bukhari no. 5367)

Dalam riwayat lain, Jabir berkata: "Aku tidak menikah kecuali karena alasan itu. Maka Rasulullah ﷺ mendoakanku dengan kebaikan."

Hikmah dari kisah ini: Nabi ﷺ tidak memaksa Jabir untuk menceraikan istrinya atau menyesali pilihannya. Beliau justru mendoakannya. Ini menunjukkan bahwa nasihat harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan orang yang dinasihati.

Kesimpulan Praktis

  1. Menikahi gadis (perawan) adalah anjuran yang baik karena lebih memungkinkan terjalinnya kehangatan dan keceriaan dalam rumah tangga.
  2. Menikahi janda juga baik dan mulia, terlebih jika ada maslahat seperti mengurus anak yatim atau keluarga yang membutuhkan.
  3. Pilihan pasangan harus mempertimbangkan maslahat, bukan hanya hawa nafsu atau gengsi.
  4. Nasihat harus disampaikan dengan lembut, sebagaimana Nabi ﷺ menasihati Jabir tanpa menyakiti perasaannya.
  5. Doakan kebaikan untuk orang lain, sebagaimana Nabi ﷺ mendoakan Jabir setelah mendengar alasannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.