Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3188 tentang Keutamaan berperang di jalan Allah dengan ikhlas

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa jihad/berperang itu terbagi menjadi dua jenis: yang ikhlas karena Allah dan taat aturan, maka seluruh aktivitasnya—bahkan tidurnya—bernilai pahala; dan yang berangkat karena riya' (pamer), durhaka kepada pemimpin, serta berbuat kerusakan, maka ia pulang tanpa membawa kebaikan apa pun. Intinya, nilai amal bukan hanya pada bentuk luarnya, tetapi pada niat, ketaatan, dan adab yang menyertainya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Bayyinah [98]: 5

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Terjemahan: "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."

Hadits terkait:

Hadits dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

"Barangsiapa berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka dia berada di jalan Allah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa amal bergantung pada niat, dan keikhlasan adalah syarat diterimanya amal.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin (ulil amri) dalam perkara yang bukan maksiat termasuk bagian dari kesempurnaan jihad.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan dan Zadul Ma'ad menekankan bahwa riya' menghapus keberkahan amal, sekalipun amal itu tampak besar.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa keikhlasan dan ittiba' (mengikuti sunnah) adalah dua rukun diterimanya amal.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab Keutamaan Sedekah di Jalan Allah. Sanadnya melalui Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu.

Pertama: "Perang ada dua jenis"

Nabi ﷺ membagi peperangan (jihad) menjadi dua kategori berdasarkan niat dan cara pelaksanaannya:

  1. Jihad yang diterima — yaitu yang memenuhi lima syarat yang disebutkan Nabi ﷺ:
  • Mencari wajah Allah (ikhlas), bukan karena riya', pamer, atau mencari harta rampasan semata.
  • Taat kepada imam (pemimpin), selama tidak memerintahkan maksiat.
  • Menginfakkan yang berharga (al-karimah), yaitu harta yang paling dicintainya, bukan yang paling buruk.
  • Bersikap mudah dengan syarik (teman/partner), yaitu tidak menyusahkan atau berlaku curang terhadap sesama mujahid.
  • Menjauhi kerusakan (al-fasad), baik kerusakan moral, fisik, maupun sosial di medan perang.

Jika kelima hal ini terpenuhi, maka tidur dan bangunnya pun dicatat sebagai pahala. Ini menunjukkan betapa besar keberkahan amal yang ikhlas—seluruh aktivitasnya bernilai ibadah.

  1. Jihad yang tertolak — yaitu yang dilakukan karena:
  • Riya' dan sum'ah (pamer dan mencari popularitas).
  • Durhaka kepada imam (melanggar perintah pemimpin yang sah).
  • Berbuat kerusakan di bumi (al-fasad).

Maka orang seperti ini "tidak akan kembali dengan al-kafaf" — yaitu tidak pulang membawa hasil yang mencukupi, bahkan bisa jadi pulang dengan tangan hampa, dosa, dan kerugian.

Penjelasan ulama:

  • Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa amal itu tergantung pada niat, dan bahwa riya' dapat membatalkan pahala amal.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ketaatan kepada pemimpin dalam jihad adalah wajib, dan meninggalkannya termasuk kemaksiatan yang menghapus keberkahan amal.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa jihad yang tidak dilandasi keikhlasan dan ketaatan hanyalah gerakan fisik tanpa ruh, tidak mendatangkan pahala, bahkan bisa menjadi sumber fitnah.
  • Syaikh as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa keikhlasan dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ adalah syarat diterimanya semua amal, termasuk jihad.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama seperti Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak menekankan pentingnya niat dalam jihad dan mencela orang yang berperang untuk mencari dunia. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menegaskan bahwa taat kepada imam adalah syarat sahnya jihad berjamaah. Namun semuanya sepakat bahwa keikhlasan dan ketaatan adalah rukun yang tidak boleh ditinggalkan.

Yang paling kuat: Pendapat yang menyatakan bahwa jihad yang sah adalah yang memenuhi syarat ikhlas, taat, dan tidak berbuat kerusakan, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini secara tegas.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah, seorang ulama besar yang juga dikenal sebagai mujahid, pernah ditanya tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan harta rampasan. Beliau menjawab dengan tegas bahwa orang seperti itu tidak mendapatkan pahala jihad, karena niatnya bukan karena Allah. Beliau sendiri terkenal sangat berhati-hati dalam menjaga niat ketika berjihad, bahkan beliau menulis kitab Kitab al-Jihad untuk menjelaskan adab-adab jihad yang benar.

Hikmah: Jihad bukan sekadar mengangkat senjata, tetapi perjuangan melawan hawa nafsu dan menjaga niat agar tetap murni karena Allah. Tidur seorang mujahid yang ikhlas lebih berharga daripada perangnya orang yang riya'.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbaiki niat — setiap amal, termasuk jihad, harus dilandasi keikhlasan mencari wajah Allah.
  2. Taat kepada pemimpin — selama tidak memerintahkan maksiat, ketaatan adalah bagian dari ibadah.
  3. Infakkan yang terbaik — bukan yang paling buruk, tetapi yang paling kita cintai.
  4. Bersikap mudah terhadap sesama — jangan menyusahkan atau berbuat curang kepada saudara seperjuangan.
  5. Jauhi kerusakan — baik di medan perang maupun dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Waspadai riya' dan sum'ah — karena keduanya dapat menghapus pahala amal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?