Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3187 tentang Keutamaan sedekah unta di jalan Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bersedekah di jalan Allah. Satu unta yang disedekahkan akan dibalas oleh Allah dengan tujuh ratus unta pada Hari Kiamat. Ini menunjukkan bahwa sedekah di jalan Allah bukanlah kerugian, melainkan investasi akhirat yang berlipat ganda. Balasan ini diberikan kepada orang yang ikhlas bersedekah semata-mata karena Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

QS. Al-Baqarah [2]: 261

"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Jihad, Bab Keutamaan Sedekah di Jalan Allah, dari sahabat Abu Mas'ud Al-Anshari رضي الله عنه. Sanadnya: Bisyr bin Khalid → Muhammad bin Ja'far → Syu'bah → Sulaiman (Al-A'masy) → Abu 'Amr Asy-Syaibani → Abu Mas'ud.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penggandaan pahala sedekah di jalan Allah berbeda dengan sedekah biasa, karena jihad memiliki keutamaan khusus.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang penggandaan pahala menunjukkan luasnya karunia Allah bagi orang yang berinfak di jalan-Nya.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa balasan di akhirat berbentuk dari jenis amal yang dilakukan, sebagai bentuk keadilan dan karunia Allah.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Hadits ini menceritakan seorang lelaki yang bersedekah dengan seekor unta yang sudah terikat (makhthumah), yaitu unta yang siap pakai dan berharga, ia lepaskan untuk kepentingan jihad di jalan Allah. Lalu Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa pada Hari Kiamat, orang tersebut akan datang dengan membawa tujuh ratus unta yang terikat sebagai balasan dari Allah.

Pemahaman ulama:

  1. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa angka tujuh ratus di sini bukanlah batasan mutlak, melainkan gambaran tentang besarnya penggandaan pahala. Allah bisa melipatgandakan lebih dari itu sesuai kehendak-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 261: "Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki."
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa penyebutan "unta yang terikat" pada Hari Kiamat menunjukkan bahwa balasan yang Allah berikan sesuai dengan jenis amal yang dikerjakan. Ini adalah bentuk keadilan sekaligus karunia, karena satu unta dibalas tujuh ratus unta.
  3. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa sedekah di jalan Allah memiliki keistimewaan dibanding sedekah biasa, karena tujuannya adalah meninggikan kalimat Allah dan membela agama-Nya. Karena itu, pahalanya pun dilipatgandakan secara khusus.
  4. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman menjelaskan bahwa infak di jalan Allah adalah salah satu bentuk amal yang paling utama, karena manfaatnya luas dan tujuannya mulia.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat apakah angka tujuh ratus bersifat hakiki (benar-benar tujuh ratus unta) atau majazi (gambaran besarnya pahala). Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana dirajihkan oleh Ibnu Hajar dan An-Nawawi — adalah bahwa angka tersebut hakiki, karena hadits ini bersifat kabar dari Nabi ﷺ tentang perkara gaib, dan tidak ada dalil yang memalingkannya dari makna hakiki. Wallahu a'lam.

Syarat mendapatkan balasan ini:

  • Ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena riya' atau pujian manusia.
  • Harta yang disedekahkan halal dan berasal dari usaha yang baik.
  • Diniatkan untuk jihad di jalan Allah, yaitu untuk meninggikan kalimat Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله, seorang ulama besar Tabi'ut Tabi'in yang terkenal zuhud dan ahli hadits, pernah ditanya tentang seseorang yang bersedekah dengan harta banyak namun tidak ikhlas, dan seseorang yang bersedekah sedikit namun ikhlas. Beliau menjawab bahwa yang sedikit namun ikhlas jauh lebih utama, karena Allah tidak menerima amal kecuali yang ikhlas dan sesuai sunnah. Kisah ini mengingatkan kita bahwa nilai sedekah bukan pada jumlahnya, melainkan pada keikhlasan dan niatnya. Sumber: disebutkan dalam kitab-kitab biografi beliau seperti Siyar A'lam an-Nubala karya Adz-Dzahabi.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersedekahlah di jalan Allah dengan apa pun yang kita mampu, sekecil apa pun itu, karena Allah akan melipatgandakan pahalanya.
  2. Jaga keikhlasan dalam setiap sedekah, karena hanya amal yang ikhlas yang diterima dan dibalas oleh Allah.
  3. Yakinlah pada janji Allah, bahwa tidak ada harta yang berkurang karena sedekah, justru akan diganti dengan yang lebih baik.
  4. Prioritaskan sedekah untuk jihad dan dakwah, karena keutamaannya lebih besar dibanding sedekah biasa.
  5. Jangan meremehkan amal kecil, karena bisa jadi satu unta yang kita sedekahkan menjadi tujuh ratus unta di akhirat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?