Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3182 tentang Keutamaan menyiapkan perlengkapan pasukan perang di jalan Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kisah agung tentang keutamaan Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Hadits ini menunjukkan tiga amalan besar beliau yang dijamin ampunan oleh Rasulullah ﷺ: membeli dan mewakafkan tanah untuk perluasan Masjid Nabawi, membeli sumur Raumah untuk kaum muslimin, dan menyiapkan perlengkapan pasukan perang Tabuk (Jaisyul 'Usrah). Kisah ini juga mengajarkan bahwa harta yang dibelanjakan di jalan Allah tidak akan pernah sia-sia, dan menjadi saksi keutamaan Utsman di hadapan para sahabat lainnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab Keutamaan Orang yang Menyiapkan Pasukan, no. 3182. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 3701) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

Kisah ini berkaitan dengan firman Allah ﷻ dalam Al-Qur'an:

QS. At-Taubah [9]: 100

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung."

Ayat ini menunjukkan keridhaan Allah kepada para sahabat, termasuk Utsman bin Affan, karena keimanan dan amal-amal besar mereka.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dari Al-Ahnaf bin Qais, seorang tabi'in terkemuka. Beliau menceritakan bahwa ketika terjadi gejolak fitnah di masa akhir kekhalifahan Utsman, beliau berada di Madinah bersama rombongan yang ingin berhaji. Saat orang-orang berkumpul di masjid dengan panik, datanglah Utsman bin Affan dengan selendang kuning menutupi kepalanya. Beliau menghadap para sahabat besar yang hadir—Ali, Zubair, Talhah, dan Sa'd bin Abi Waqqash—dan bersumpah kepada mereka dengan nama Allah, meminta kesaksian atas tiga amal besarnya:

Pertama, Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa yang membeli tanah Mirbad Bani Fulan, Allah akan mengampuninya." Maka Utsman membelinya seharga dua puluh atau dua puluh lima ribu dirham, lalu Rasulullah ﷺ memerintahkannya untuk dijadikan perluasan Masjid Nabawi, dan pahalanya untuk Utsman.

Kedua, Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa yang membeli sumur Raumah, Allah akan mengampuninya." Sumur Raumah adalah satu-satunya sumber air bersih di Madinah yang dimiliki oleh seorang Yahudi yang menjual airnya dengan harga mahal. Utsman membelinya dengan harga yang sangat mahal, lalu mewakafkannya untuk kepentingan kaum muslimin.

Ketiga, ketika Rasulullah ﷺ menyiapkan pasukan untuk Perang Tabuk—yang dikenal sebagai Jaisyul 'Usrah (pasukan masa sulit) karena kondisi panas, paceklik, dan jarak yang jauh—beliau bersabda: "Siapa yang menyiapkan perlengkapan pasukan ini, Allah akan mengampuninya." Maka Utsman menyiapkan perlengkapan mereka secara sempurna, hingga tidak ada satu pun yang kekurangan, bahkan tali dan kekang unta sekalipun.

Setelah mendengar kesaksian para sahabat tersebut, Utsman mengangkat tangannya dan berkata: "Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah!"

Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi ketika para pemberontak mengepung rumah Utsman. Beliau ingin mengingatkan kaum muslimin akan jasa-jasanya, bukan untuk membanggakan diri, tetapi agar mereka mengetahui bahwa orang yang mereka tuduh dan kepung adalah seorang yang telah dijamin ampunan oleh Rasulullah ﷺ.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhajus Sunnah menggunakan hadits-hadits semacam ini untuk menetapkan keutamaan Utsman dan membantah klaim kaum Syi'ah yang merendahkan beliau. Beliau menjelaskan bahwa kesaksian para sahabat besar seperti Ali, Zubair, Talhah, dan Sa'd—yang semuanya mengakui amal-amal Utsman—menunjukkan bahwa perselisihan politik yang terjadi di akhir masa Utsman tidak mengurangi keutamaan dan kedudukan beliau di sisi Allah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di ketika menafsirkan QS. At-Taubah: 100 menjelaskan bahwa keridhaan Allah kepada para sahabat adalah kabar gembira yang pasti, karena Allah sendiri yang memberitakan dalam Al-Qur'an. Maka seorang muslim tidak boleh mencela para sahabat, karena mereka adalah generasi terbaik yang telah dipilih Allah untuk menemani Nabi-Nya.

Story Telling

Ada kisah yang masyhur tentang kedermawanan Utsman bin Affan. Ketika Rasulullah ﷺ membutuhkan dana untuk mempersiapkan pasukan Tabuk, beliau bersabda: "Siapa yang menyiapkan perlengkapan pasukan ini, baginya surga." Maka Utsman segera menyumbangkan seribu unta lengkap dengan perlengkapannya, ditambah seribu dinar emas. Rasulullah ﷺ kemudian naik ke mimbar dan bersabda sambil mengangkat tangan beliau: "Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini," dan mengulanginya dua kali. (HR. At-Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Bahkan dalam riwayat lain disebutkan, Utsman menyumbang hingga total sembilan ratus unta dan seratus kuda, serta seribu dinar. Hingga akhirnya pasukan Tabuk yang berjumlah sekitar tiga puluh ribu orang itu tidak kekurangan apa pun. Inilah yang dimaksud dalam hadits di atas: "hingga mereka tidak kekurangan seutas tali pun dan tidak pula kekang unta."

Hikmah dari kisah ini: Utsman tidak menunggu diminta, tetapi beliau berlomba-lomba dalam kebaikan. Beliau memahami bahwa harta hanyalah titipan, dan yang kekal adalah pahala di sisi Allah. Ketika fitnah datang menimpanya di akhir hayatnya, beliau tidak gentar, karena beliau yakin telah menabung amal yang banyak di hadapan Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersegera dalam kebaikan—Utsman tidak menunda-nunda ketika mendengar janji ampunan dari Rasulullah ﷺ. Kita pun hendaknya bersegera dalam sedekah dan amal kebaikan.
  2. Wakaf adalah amal yang agung—Utsman mewakafkan tanah untuk masjid dan sumur untuk kaum muslimin. Ini mengajarkan kita untuk berinfak pada hal-hal yang manfaatnya berkelanjutan.
  3. Jangan mencela para sahabat—Mereka adalah generasi terbaik yang telah dijamin keridhaan Allah. Kisah ini menjadi pelajaran bahwa perselisihan di antara mereka adalah ijtihad yang tidak mengurangi keutamaan mereka.
  4. Harta yang dibelanjakan di jalan Allah tidak akan merugikan—Justru ia menjadi tabungan akhirat yang kekal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?