Penjelasan Hadits Sunan An-Nasa'i No. 3167 — Keutamaan Ribat
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi orang yang berjaga (ribat) di jalan Allah selama sehari semalam, yaitu pahala seperti berpuasa dan shalat malam selama sebulan penuh. Jika ia meninggal dalam keadaan berjaga, pahalanya terus mengalir, rezekinya tetap diberikan, dan ia dilindungi dari fitnah (Al-Fattan). Ini menunjukkan betapa mulianya amal menjaga perbatasan kaum muslimin.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Jihad, Bab Keutamaan Ribat, dari jalur Salman Al-Khair (Salman Al-Farisi) radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan berjaga di jalan Allah:
QS. Ali 'Imran [3]: 200
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung."
Penjelasan ulama:
- Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan kaum mukminin untuk bersabar dalam ketaatan, saling menguatkan, dan berjaga di perbatasan (ribat) menghadapi musuh. Beliau menyebutkan bahwa ribat termasuk amal yang sangat utama.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika menjelaskan hadits-hadits tentang ribat menyatakan bahwa ribat adalah berjaga di perbatasan untuk melindungi kaum muslimin dari serangan musuh, dan ia termasuk amal yang paling utama.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa keutamaan ribat berlaku bagi siapa saja yang berjaga di jalan Allah, baik di perbatasan maupun dalam rangka menjaga keamanan kaum muslimin.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Rasulullah ﷺ menyebutkan tiga keutamaan besar bagi orang yang beribadah dengan berjaga (ribat) di jalan Allah:
Pertama: "Siapa yang berjaga sehari semalam di jalan Allah, maka baginya pahala seperti puasa dan shalat malam selama sebulan."
Artinya, satu hari satu malam berjaga di jalan Allah dilipatgandakan pahalanya setara dengan ibadah puasa dan qiyamul lail selama 30 hari. Ini menunjukkan besarnya nilai pengorbanan waktu, tenaga, dan kesiapan jiwa dalam menjaga agama dan kaum muslimin.
Kedua: "Siapa yang meninggal dalam keadaan berjaga (murabith), maka akan terus diberikan pahala seperti itu."
Maksudnya, pahala amal ribatnya tidak terputus dengan kematiannya, tetapi terus mengalir. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits lain yang shahih bahwa amal seorang syahid dan murabith terus mengalir.
Ketiga: "Dan diberikan rezeki kepadanya serta dilindungi dari Al-Fattan."
Para ulama menjelaskan bahwa "Al-Fattan" di sini bermakna fitnah kubur, yaitu pertanyaan dan ujian dua malaikat di alam kubur. Sebagian ulama menyebutkan bahwa ia dilindungi dari godaan setan dan fitnah-fitnah yang menyesatkan. Ini adalah keutamaan khusus yang menunjukkan bahwa ribat bukan hanya amal badan, tetapi juga membuahkan keamanan ruhani.
Pemahaman ulama:
- Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang keutamaan ribat menunjukkan bahwa ribat adalah amal yang sangat agung, dan pahala yang disebutkan adalah bentuk karunia Allah yang luas.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa ribat termasuk amal yang menggabungkan antara kesabaran, pengorbanan, dan niat ikhlas, sehingga pahalanya sangat besar.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan ayat tentang ribat menjelaskan bahwa ribat mencakup menjaga perbatasan dan kesiapan menghadapi musuh, dan ini termasuk amal yang mendatangkan kemenangan dan keberuntungan.
Catatan penting: Ribat dalam pengertian syar'i adalah berjaga di perbatasan kaum muslimin untuk melindungi mereka dari serangan musuh, dengan niat ikhlas karena Allah. Ini dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan dan dalam kondisi yang memungkinkan. Adapun bagi orang awam yang tidak berada dalam kondisi tersebut, maka keutamaan ini menunjukkan betapa besar nilai menjaga agama dan kaum muslimin, dan hendaknya setiap muslim berusaha mendukungnya sesuai kemampuannya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu — perawi hadits ini — adalah seorang sahabat yang sangat mencintai ilmu dan berkorban untuk mencari kebenaran. Beliau meninggalkan negeri Persia, menempuh perjalanan panjang, hingga akhirnya bertemu Rasulullah ﷺ dan masuk Islam. Keislamannya adalah buah dari kesabaran dan pencarian yang panjang.
Dalam konteks hadits ini, Salman radhiyallahu 'anhu meriwayatkan langsung dari Rasulullah ﷺ tentang keutamaan ribat. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat memperhatikan amal-amal besar yang mendatangkan pahala berlipat, dan mereka menyampaikannya kepada umat setelah mereka.
Imam An-Nasa'i rahimahullah, sebagai perawi hadits ini, dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan hadits-hadits tentang jihad dan keutamaannya. Beliau mengumpulkan hadits ini dalam Sunan-nya pada bab khusus tentang keutamaan ribat, menunjukkan perhatian beliau terhadap amal ini.
Kesimpulan Praktis
- Ribat adalah amal yang sangat utama — berjaga di jalan Allah sehari semalam mendatangkan pahala seperti puasa dan shalat malam sebulan penuh.
- Pahala ribat terus mengalir bagi yang meninggal dalam keadaan berjaga, dan ia dilindungi dari fitnah kubur.
- Setiap muslim hendaknya mendukung usaha menjaga agama dan kaum muslimin sesuai kemampuannya — dengan doa, harta, tenaga, atau ilmu.
- Keikhlasan adalah syarat utama — ribat harus dilakukan karena Allah, bukan karena riya' atau tujuan duniawi.
- Hendaknya kita tidak meremehkan amal-amal besar yang disebutkan dalam hadits shahih, dan berusaha mengamalkannya sesuai tuntunan Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.