Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3159 tentang Keutamaan mati syahid dan keinginan kembali untuk syahid lagi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan keutamaan besar mati syahid di jalan Allah. Semua orang yang wafat dalam keadaan baik di sisi Allah tidak ingin kembali ke dunia, kecuali orang yang mati syahid — ia ingin kembali ke dunia agar bisa berperang dan terbunuh lagi di jalan Allah. Ini menunjukkan bahwa mati syahid adalah kedudukan yang sangat tinggi dan karunia yang sangat agung.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Ali 'Imran [3]: 169

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Terjemahan: "Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki."

QS. At-Taubah [9]: 111

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Jihad, no. 3159, dari sahabat 'Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, melalui jalur Katsir bin Murrah.

Hadits senada juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ

"Tidak seorang pun yang masuk surga yang ingin kembali ke dunia, padahal ia memiliki segala sesuatu di atas bumi, kecuali orang yang mati syahid." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan syahid yang tidak dimiliki oleh amal lain.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa keinginan syahid untuk kembali bukanlah karena dunia itu berharga, melainkan karena besarnya pahala syahid yang ia rasakan.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa ruh syahid mendapatkan kenikmatan khusus yang membuatnya rindu mengulangi pengorbanan tersebut.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Nabi ﷺ mengabarkan bahwa setiap jiwa yang wafat dan memiliki kedudukan baik di sisi Allah — yaitu orang beriman yang wafat dalam keadaan husnul khatimah — tidak akan ingin kembali ke dunia. Bahkan jika ditawarkan seluruh isi dunia, ia tetap tidak mau kembali, karena ia telah merasakan kenikmatan dan kemuliaan di sisi Allah yang jauh lebih besar daripada dunia dan seisinya.

Namun ada satu pengecualian: orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia justru berharap dikembalikan ke dunia agar dapat berperang lagi di jalan Allah dan terbunuh sekali lagi. Ini bukan karena ia tidak menikmati surga, tetapi karena ia telah merasakan begitu besarnya keutamaan syahid sehingga ia ingin mengulanginya.

Pemahaman para ulama:

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil tegas tentang keutamaan mati syahid di atas seluruh amal saleh lainnya. Beliau menyebutkan bahwa para syuhada mendapatkan tujuh keutamaan khusus yang disebutkan dalam hadits lain, di antaranya: diampuni dosanya sejak tetesan darah pertama, melihat tempatnya di surga, dan mendapatkan syafaat.

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menerangkan bahwa keinginan syahid untuk kembali ke dunia bukanlah bentuk ketamakan terhadap dunia, melainkan dorongan untuk meraih kemuliaan yang lebih tinggi lagi. Beliau juga menyebutkan bahwa ini adalah bentuk khusus dari karunia Allah kepada para syuhada.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa ruh para syuhada berada dalam kenikmatan yang sempurna, dan keinginan mereka untuk kembali semata-mata karena kecintaan mereka kepada Allah dan keinginan untuk berkorban lebih banyak lagi di jalan-Nya.

Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa syahid adalah puncak pengorbanan seorang hamba, karena ia menyerahkan nyawanya — yang merupakan harta paling berharga — untuk Allah.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama menjelaskan bahwa keinginan syahid untuk kembali terjadi pada waktu tertentu, misalnya saat ia melihat pahala syahid yang diberikan kepadanya. Namun intinya, semua ulama sepakat bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan syahid yang luar biasa dan tidak tertandingi oleh amal lainnya.

Yang paling kuat: Pendapat yang menyatakan bahwa keinginan syahid untuk kembali adalah karena besarnya pahala dan kemuliaan syahid yang ia saksikan langsung, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dan Ibn Qayyim.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah seorang tokoh Anshar yang ikut dalam Perang Badar dan berbagai peperangan lainnya. Beliau dikenal sebagai sahabat yang sangat gigih dalam berjihad dan menyampaikan ilmu.

Suatu ketika, beliau menyampaikan hadits ini kepada Katsir bin Murrah — seorang tabi'in dari Syam — yang kemudian meriwayatkannya kepada generasi setelahnya. Hadits ini menjadi salah satu dalil yang paling kuat tentang keutamaan syahid, dan para ulama salaf sering menyebutkannya untuk memotivasi umat agar berani berkorban di jalan Allah.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang hadits ini, dan beliau menegaskan bahwa ini adalah bukti nyata bahwa syahid adalah amal yang paling utama, karena seorang syahid tidak puas hanya dengan satu kali syahid, tetapi ingin mengulanginya.

Kesimpulan Praktis

  1. Mati syahid di jalan Allah adalah kedudukan tertinggi yang bisa dicapai seorang hamba, melebihi amal saleh lainnya.
  2. Orang beriman yang wafat dalam keadaan baik tidak ingin kembali ke dunia, karena kenikmatan di sisi Allah jauh lebih besar daripada seluruh isi dunia.
  3. Keinginan syahid untuk kembali bukan karena cinta dunia, tetapi karena besarnya pahala dan kemuliaan yang ia rasakan.
  4. Hendaknya kita memohon kepada Allah agar diberikan husnul khatimah, dan jika Allah menghendaki, mati syahid di jalan-Nya.
  5. Jihad di jalan Allah bukanlah tujuan duniawi, melainkan ibadah yang tulus untuk mencari ridha Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?