Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar berjihad di jalan Allah: satu kali berangkat pagi atau satu kali berangkat sore untuk menegakkan agama Allah lebih bernilai daripada seluruh dunia dan segala isinya yang disinari matahari. Yang dimaksud bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi niat ikhlas dan amal yang dilakukan karena Allah. Hadits ini memotivasi kita untuk ikhlas, siap berkorban, dan tidak menggantungkan hati pada dunia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al-Ansari radhiyallahu 'anhu, dan dicatat oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Jihad, Bab Keutamaan Berangkat di Jalan Allah (no. 3119). Maknanya juga sejalan dengan hadits shahih lain yang semakna, antara lain riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu tentang keutamaan ghazwah (berangkat pagi/sore di jalan Allah).
Ayat yang relevan tentang keutamaan berjihad dan berinfak di jalan Allah:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
QS. Ali 'Imran [3]: 169
Terjemahan ringkas: "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki."
Ayat ini ditegaskan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya bahwa syuhada hidup dalam alam barzakh dengan kehidupan yang sempurna dan rezeki dari Allah, sebagai penghormatan atas pengorbanan mereka di jalan-Nya.
Penjelasan Rinci
Kata غَدْوَةٌ (ghadwah) berarti berangkat pada awal siang (pagi), dan رَوْحَةٌ (rauhah) berarti berangkat pada akhir siang (sore). Keduanya menunjukkan satu kali berangkat saja, bukan perjalanan panjang. Nabi ﷺ bersabda bahwa satu kali berangkat itu lebih baik daripada apa yang terbit dan terbenam oleh matahari, yaitu seluruh dunia beserta isinya.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits semakna menunjukkan besarnya pahala amal jihad dibandingkan kenikmatan dunia, karena dunia fana sedangkan pahala akhirat kekal. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa keutamaan ini berlaku bagi yang ikhlas dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, bukan sekadar keluar tanpa ilmu dan adab.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa jihad memiliki tingkatan: jihad dengan hati (melawan hawa nafsu dan syubhat), jihad dengan lisan (menegakkan hujjah), dan jihad dengan harta serta jiwa. Semuanya harus di bawah bimbingan ilmu dan niat ikhlas. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menekankan bahwa amal yang paling utama adalah yang paling ikhlas dan paling sesuai sunnah, sehingga semangat berjihad tidak boleh lepas dari ketaatan dan adab syariat.
As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa pahala besar ini menunjukkan betapa Allah memuliakan orang yang mengorbankan waktu, tenaga, dan hartanya untuk agama-Nya. Namun beliau juga mengingatkan bahwa semua amal bergantung pada niat dan ittiba' (mengikuti sunnah).
Jika ada perbedaan penekanan di antara ulama, ringkasannya: sebagian menekankan keutamaan fisik berjihad, sebagian menekankan makna luas jihad (termasuk menuntut ilmu dan melawan hawa nafsu). Yang paling kuat adalah pemahaman yang menggabungkan keduanya: keutamaan besar ini berlaku bagi amal di jalan Allah yang ikhlas dan sesuai sunnah, baik berupa jihad fisik maupun amal saleh lain yang diniatkan untuk menegakkan agama-Nya.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abu Ayyub Al-Ansari radhiyallahu 'anhu, sahabat yang rumahnya menjadi tempat singgah Nabi ﷺ saat hijrah, tetap bersemangat berjihad di usia senja. Dalam riwayat yang masyhur, beliau pernah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang keutamaan berangkat pagi/sore di jalan Allah, dan beliau berusaha mengamalkannya hingga akhir hayat. Hikmahnya: semangat berkorban untuk agama bukan hanya milik orang muda, tetapi milik setiap mukmin yang ikhlas dan berilmu. (Sumber: riwayat-riwayat dalam kitab-kitab hadits dan sirah yang disebutkan para ulama, seperti Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah.)
Kesimpulan Praktis
- Niatkan setiap amal, termasuk menuntut ilmu, berdakwah, dan berinfak, untuk menegakkan agama Allah dengan ikhlas dan sesuai sunnah.
- Jangan meremehkan amal kecil yang diniatkan untuk Allah; satu langkah di jalan-Nya bisa lebih bernilai dari dunia.
- Jaga adab dan ilmu sebelum beramal; semangat harus di bawah bimbingan Al-Qur'an dan sunnah.
- Hindari ghuluw (berlebihan) dan sikap merendahkan orang lain; fokus pada perbaikan diri dan taat.
- Perbanyak doa agar Allah memberi keikhlasan dan kesabaran dalam beramal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.