Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3118 tentang Keutamaan berjuang di jalan Allah melebihi dunia seisinya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa agungnya keutamaan berjuang di jalan Allah, meskipun hanya sebentar. Berangkat pagi atau sore untuk berjihad di jalan Allah nilainya lebih baik daripada seluruh dunia dan seisinya. Ini adalah dorongan besar bagi umat Islam untuk bersemangat dalam ketaatan dan pengorbanan di jalan Allah, baik dalam jihad fisik maupun dalam bentuk ketaatan lainnya yang diridhai Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam An-Nasa'i:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan):

> أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " الْغَدْوَةُ وَالرَّوْحَةُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَفْضَلُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا "

Makna: "Berangkat sebelum siang atau setelah siang, di jalan Allah, lebih baik daripada dunia dan segala isinya." (HR. An-Nasa'i, Kitab Jihad, Bab Keutamaan Berangkat di Jalan Allah, no. 3118)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud "al-ghadwah" adalah berangkat di awal siang, dan "ar-rahah" adalah berangkat di sore hari. Keduanya adalah waktu-waktu yang biasa digunakan para sahabat untuk berangkat berjihad.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung keutamaan yang sangat besar bagi orang yang berjuang di jalan Allah. Mari kita pahami beberapa poin penting:

1. Makna "Al-Ghadwah" dan "Ar-Rauḥah"

  • Al-Ghadwah (الْغَدْوَةُ): Berangkat di pagi hari, yaitu di awal siang. Ini adalah waktu ketika para sahabat berangkat untuk berperang atau beraktivitas.
  • Ar-Rauḥah (الرَّوْحَةُ): Berangkat di sore hari, yaitu setelah matahari condong ke barat hingga menjelang malam.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan dua waktu ini (pagi dan sore) menunjukkan bahwa seluruh aktivitas jihad, baik di awal maupun di akhir hari, semuanya bernilai sangat besar di sisi Allah.

2. Keutamaan Jihad di Jalan Allah

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan jihad di jalan Allah. Bahkan satu kali perjalanan pergi atau pulang dalam jihad lebih baik daripada seluruh dunia dan seisinya. Ini karena dunia dan seisinya adalah sesuatu yang fana dan akan binasa, sedangkan pahala jihad adalah sesuatu yang kekal di sisi Allah.

3. Makna "Lebih Baik dari Dunia dan Segala Isinya"

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dunia dengan segala keindahan, kekayaan, dan kesenangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pahala yang Allah siapkan bagi para mujahid di jalan-Nya. Ini bukan berarti kita dilarang menikmati dunia, tetapi ini adalah dorongan agar kita tidak terlalu terikat dengan dunia dan lebih mengutamakan akhirat.

4. Pelajaran tentang Keikhlasan dan Pengorbanan

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa jihad adalah puncak pengorbanan seorang hamba kepada Rabbnya. Orang yang berangkat di jalan Allah berarti telah mengorbankan waktu, tenaga, harta, bahkan jiwanya untuk membela agama Allah. Inilah sebabnya pahalanya begitu besar.

5. Penerapan dalam Kehidupan Modern

Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan bahwa meskipun jihad fisik memiliki syarat dan ketentuannya sendiri, semangat hadits ini juga bisa diterapkan dalam bentuk ketaatan lainnya. Misalnya, bersemangat dalam menuntut ilmu agama, berdakwah, dan berbuat kebaikan. Semua itu adalah "jalan Allah" yang pahalanya sangat besar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa para sahabat sangat bersemangat dalam berjihad. Salah satu kisah yang terkenal adalah tentang Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah sahabat yang rumahnya ditempati Nabi ﷺ ketika hijrah ke Madinah. Meskipun usianya sudah lanjut, beliau tetap ingin berjihad di jalan Allah.

Ketika pasukan Muslimin bersiap untuk menyerang Konstantinopel, Abu Ayyub yang saat itu sudah sangat tua tetap ikut serta. Para panglima menyarankannya untuk kembali ke Madinah, tetapi beliau menjawab, "Rasulullah ﷺ telah berwasiat kepada kami agar kami berjuang melawan bangsa Romawi. Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan perjuangan ini hingga aku bertemu Allah dalam keadaan berjihad."

Akhirnya, Abu Ayyub al-Anshari wafat di dekat tembok Konstantinopel dalam keadaan berjihad di jalan Allah. Kisah ini menunjukkan semangat seorang sahabat yang tidak pernah padam untuk berjuang di jalan Allah, meskipun usianya telah lanjut. Inilah makna "al-ghadwah wa ar-rauhah" — semangat yang terus menyala sepanjang waktu.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersemangatlah dalam ketaatan — Jadikan setiap waktu kita sebagai kesempatan untuk berbuat baik dan berjuang di jalan Allah, baik pagi maupun sore.
  2. Jangan meremehkan amal kecil — Satu kali berangkat di jalan Allah, meskipun sebentar, nilainya lebih baik dari dunia dan seisinya.
  3. Utamakan akhirat di atas dunia — Jadikan dunia sebagai ladang untuk menuai pahala akhirat, bukan tujuan utama.
  4. Terapkan semangat jihad dalam konteks yang sesuai — Menuntut ilmu, berdakwah, dan beramal saleh adalah bentuk perjuangan di jalan Allah yang bisa kita lakukan setiap hari.
  5. Jaga keikhlasan — Pastikan setiap perjuangan kita hanya mengharap ridha Allah, bukan pujian manusia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi