Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3111 tentang Keutamaan berjihad di jalan Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan dua hal yang tidak mungkin berkumpul dalam diri seorang mukmin: (1) debu perjuangan di jalan Allah dengan asap neraka Jahannam di wajah seseorang, dan (2) sifat kikir bersama iman yang sempurna di dalam hati. Ini adalah motivasi untuk ikhlas berjihad dan menjauhi sifat kikir, karena keduanya bertentangan dengan hakikat iman.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. At-Taubah [9]: 111

وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

"Dan mereka berkata: 'Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik pelindung.'"

(Catatan: ayat ini secara umum menunjukkan sikap tawakal dan kesiapan berkorban di jalan Allah, sebagaimana dipahami dalam konteks jihad.)

QS. Al-Hasyr [59]: 9

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Jihad, no. 3111, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Sanadnya: Amr bin Ali → Abdurrahman bin Mahdi → Hammad bin Salamah → Suhail bin Abi Shalih → Shafwan bin Sulaim → Khalid bin Al-Lajlaj → Abu Hurairah → Nabi ﷺ.

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ahmad bin Hanbal dengan makna yang sama, dan Imam At-Tirmidzi menilainya hasan shahih.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Hadits ini mengandung dua kalimat yang masing-masing menafikan berkumpulnya dua hal yang saling bertentangan:

Pertama: "Debu di jalan Allah dan asap neraka Jahannam tidak akan pernah bersatu di wajah seorang lelaki."

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "debu di jalan Allah" (غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ) adalah debu yang menempel pada wajah seorang mujahid yang berjuang di jalan Allah dengan ikhlas. Sedangkan "asap neraka Jahannam" (دُخَانُ جَهَنَّمَ) adalah asap yang akan mengenai penghuni neraka. Maksudnya: orang yang berjuang ikhlas di jalan Allah, wajahnya tidak akan dihinakan dengan asap neraka Jahannam. Ini adalah keutamaan besar bagi mujahid yang ikhlas.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa penyebutan "wajah" secara khusus karena wajah adalah anggota tubuh yang paling mulia dan paling tampak kehormatannya. Debu yang menempel di wajah saat berjihad adalah tanda kehinaan di mata manusia, tetapi justru menjadi kemuliaan di sisi Allah.

Kedua: "Dan kikir serta iman tidak akan pernah bersatu di hati seorang hamba."

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah iman yang sempurna (الإيمان الكامل). Sifat kikir (الشُّحّ) — yaitu menahan harta yang wajib dikeluarkan dan enggan berkorban — bertentangan dengan hakikat iman yang menuntut kedermawanan dan pengorbanan. Seorang mukmin yang hatinya dipenuhi iman yang benar tidak akan dikuasai sifat kikir.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menegaskan bahwa sifat kikir adalah penyakit hati yang dapat mengikis keimanan. Beliau menyebutkan bahwa Nabi ﷺ berlindung dari sifat kikir dalam doanya, yang menunjukkan betapa berbahayanya sifat ini bagi keimanan seseorang.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa iman yang sempurna menuntut seseorang untuk tidak kikir, karena kikir adalah sifat yang menahan kebaikan, sedangkan iman mendorong kepada kebaikan dan pengorbanan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menambahkan bahwa hadits ini juga merupakan motivasi untuk berjihad dan berinfak, karena keduanya adalah bentuk pengorbanan yang mengangkat derajat seorang mukmin.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama memahami "tidak akan bersatu" dalam arti haram berkumpulnya keduanya secara sempurna, bukan berarti seorang mukmin tidak mungkin terjatuh pada sifat kikir sama sekali. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang dinafikan adalah berkumpulnya iman yang sempurna dengan kikir yang sempurna. Adapun jika seseorang memiliki iman yang lemah dan sedikit kikir, itu masih mungkin terjadi, tetapi imannya tidak sempurna.

Pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan An-Nawawi dan Ibnu Hajar — adalah bahwa hadits ini menunjukkan bahwa iman yang sempurna dan kikir yang sempurna tidak mungkin berkumpul. Ini adalah peringatan keras terhadap sifat kikir dan dorongan kuat untuk berjihad serta berkorban di jalan Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله, seorang ulama besar yang juga dikenal sebagai mujahid yang sering berperang di perbatasan, pernah ditanya tentang sebab beliau lebih memilih berjihad daripada duduk mengajar. Beliau menjawab dengan makna bahwa debu di jalan Allah adalah kemuliaan, dan beliau ingin wajahnya tidak disentuh asap neraka Jahannam. Beliau juga dikenal sangat dermawan, tidak pernah kikir dengan hartanya, bahkan beliau pernah berkata bahwa beliau tidak pernah menolak permintaan orang yang meminta bantuan. Ini adalah contoh nyata dari sahabat dan salaf yang memahami hadits ini dan mengamalkannya dalam kehidupan mereka.

(Kisah ini disebutkan secara umum dalam biografi Abdullah bin al-Mubarak dalam kitab-kitab sejarah seperti Siyar A'lam an-Nubala' karya Adz-Dzahabi.)

Kesimpulan Praktis

  1. Berjihad dan berkorban di jalan Allah adalah amalan yang sangat mulia, dan debu yang menempel di wajah seorang mujahid ikhlas adalah tanda kemuliaan di sisi Allah.
  2. Sifat kikir adalah penyakit hati yang bertentangan dengan iman yang sempurna. Seorang mukmin harus berusaha membersihkan hatinya dari sifat ini.
  3. Iman yang sempurna menuntut pengorbanan — baik dalam bentuk harta, tenaga, maupun waktu — untuk kepentingan agama Allah.
  4. Berdoalah kepada Allah agar dijauhkan dari sifat kikir, sebagaimana Nabi ﷺ berlindung dari sifat ini.
  5. Jangan menunda kebaikan dengan alasan takut kehilangan harta, karena Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?