Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan dua hal yang tidak mungkin berkumpul dalam diri seorang mukmin: (1) debu perjuangan di jalan Allah dengan asap neraka Jahannam, dan (2) sifat kikir dengan iman yang sejati. Maknanya: keikhlasan berjuang dan kemuliaan iman menuntut pengorbanan harta dan jiwa, sedangkan kikir adalah tanda lemahnya iman. Hadits ini memotivasi kita untuk ikhlas beramal dan menjauhi kikir.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Jihad, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Redaksi senada juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah, dengan lafaz yang berdekatan tentang debu di jalan Allah dan asap Jahannam, serta tentang kikir dan iman.
Adapun ayat yang berkaitan dengan tema kikir dan iman, di antaranya firman Allah:
وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
QS. Al-Hasyr [59]: 9
"Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Juga firman Allah:
الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
QS. An-Nisa' [4]: 37
"(Yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir, serta menyembunyikan karunia yang telah Allah berikan kepada mereka."
Kaitan dengan ulama daftar: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna hadits tentang debu di jalan Allah dan asap Jahannam, bahwa ini adalah ungkapan tentang tidak berkumpulnya pahala jihad yang ikhlas dengan azab neraka bagi orang yang ikhlas. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari juga membahas hadits serupa dan menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah penegasan keutamaan jihad dan tercelanya kikir. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam membahas hadits tentang kikir dan iman dalam konteks hakikat iman yang menuntut kemurahan hati.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung dua kalimat besar:
Pertama: "Debu di jalan Allah dan asap Neraka Jahannam tidak akan pernah berkumpul di dalam paru-paru seorang hamba."
Ini adalah ungkapan tentang orang yang berjuang di jalan Allah dengan ikhlas. Debu yang mengenai tubuhnya di jalan Allah adalah simbol pengorbanan dan keikhlasan. Asap Jahannam adalah simbol azab. Maknanya: orang yang ikhlas berjihad di jalan Allah tidak akan disiksa dengan azab neraka, karena amalnya diterima dan dosanya diampuni. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah bentuk penegasan (mubalaghah) tentang keutamaan jihad dan bahwa orang yang ikhlas di jalan Allah tidak akan dihukum dengan azab Jahannam. Ibnu Hajar menambahkan bahwa hadits ini memotivasi untuk ikhlas dalam berjihad dan tidak mengharapkan dunia.
Kedua: "Kikir dan iman tidak akan pernah berkumpul di dalam hati seorang hamba."
Ini menunjukkan bahwa kikir adalah sifat yang bertentangan dengan hakikat iman. Iman yang sejati menuntut kemurahan hati, pengorbanan, dan tidak tamak terhadap harta. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa kikir adalah penyakit hati yang mengurangi kesempurnaan iman. Imam an-Nawawi juga menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan tercelanya kikir dan bahwa kikir adalah sifat yang harus dijauhi oleh seorang mukmin.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian ulama memahami "tidak berkumpul" sebagai penafian kesempurnaan iman, bukan penafian asal iman. Artinya, orang yang kikir masih memiliki iman, tetapi imannya tidak sempurna. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi dalam menjelaskan hadits-hadits serupa. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa kikir mengurangi kesempurnaan iman, dan iman yang sempurna menuntut kemurahan hati.
Kaitan dengan QS. Al-Hasyr [59]: 9: Allah memuji orang yang dipelihara dari kekikiran dirinya sebagai orang yang beruntung. Ini menunjukkan bahwa kikir adalah sifat yang harus dilawan, dan orang yang mampu melawannya adalah orang yang beriman dengan benar.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah رضي الله عنه, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah orang yang sangat miskin pada awalnya, namun ia dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dan sangat mencintai Rasulullah ﷺ. Ia pernah menahan lapar karena tidak memiliki makanan, namun ia tidak pernah kikir dengan ilmu dan waktunya untuk mengajarkan hadits. Ini menunjukkan bahwa iman yang benar melahirkan kemurahan hati, bukan kikir. (Kisah ini disebutkan dalam kitab-kitab hadits dan sirah, seperti dalam Shahih al-Bukhari dan Sirah Ibnu Hisyam, namun sumber utama dari daftar ulama adalah Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala yang menukil kisah-kisah sahabat.)
Kesimpulan Praktis
- Ikhlaslah dalam beramal, terutama dalam berjuang di jalan Allah, karena keikhlasan adalah syarat diterimanya amal.
- Jauhi sifat kikir, karena kikir adalah penyakit hati yang mengurangi kesempurnaan iman.
- Latihlah diri untuk berinfak dan berkorban harta dan waktu di jalan Allah, karena ini adalah tanda iman yang benar.
- Renungkanlah bahwa harta dan jiwa adalah milik Allah, dan kita hanya dititipi untuk digunakan sesuai perintah-Nya.
- Berdoalah agar Allah memelihara kita dari sifat kikir dan memberikan keikhlasan dalam beramal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.