Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3109 tentang Keutamaan berjihad dan larangan iri hati

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan tiga hal yang tidak akan berkumpul dalam satu tempat: (1) seorang Muslim yang benar-benar membunuh musuh kafir di medan jihad lalu tetap istiqamah, tidak akan bersama orang kafir itu di Neraka; (2) debu perjuangan di jalan Allah tidak akan berkumpul dengan bau Neraka di dalam diri seorang mukmin; (3) iman yang benar tidak akan bersatu dengan sifat hasad (iri hati) di dalam hati seorang hamba. Semuanya menunjukkan keutamaan jihad, bahaya hasad, dan tanda kejujuran iman.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan an-Nasa'i, Kitab Jihad, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur Al-Layts bin Sa'd dari Ibnu 'Ajlan dari Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya.

Teks hadits:

لَا يَجْتَمِعَانِ فِي النَّارِ مُسْلِمٌ قَتَلَ كَافِرًا ثُمَّ سَدَّدَ وَقَارَبَ، وَلَا يَجْتَمِعَانِ فِي جَوْفِ مُؤْمِنٍ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَفَيْحُ جَهَنَّمَ، وَلَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ الْإِيمَانُ وَالْحَسَدُ

Terjemahan: "Tidak akan berkumpul di dalam Neraka: seorang Muslim yang membunuh seorang kafir kemudian ia beristiqamah dan mendekat (kepada kebenaran). Dan tidak akan berkumpul di dalam rongga (dada) seorang mukmin: debu di jalan Allah dan bau Neraka. Dan tidak akan berkumpul di dalam hati seorang hamba: iman dan hasad."

Ayat yang berkaitan dengan keutamaan iman dan larangan hasad:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

QS. An-Nisa' [4]: 32 — "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini sebagai larangan hasad dan perintah ridha terhadap pembagian Allah. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas hadits-hadits semakna dan menegaskan bahwa hasad adalah penyakit hati yang merusak iman.

Penjelasan Rinci

Pertama: "Seorang Muslim yang membunuh kafir lalu istiqamah."

Makna "سَدَّدَ وَقَارَبَ" (saddada wa qāraba) adalah ia menempuh jalan yang lurus, berusaha tepat dalam ucapan dan perbuatan, serta mendekat kepada kebenaran. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa maknanya adalah istiqamah dalam Islam dan tidak murtad setelah berjihad. Sebab jika seorang Muslim membunuh musuh di medan perang lalu ia tetap teguh di atas iman sampai wafat, maka kedudukannya di sisi Allah sangat tinggi, dan ia tidak akan disatukan dengan orang kafir yang ia bunuh di Neraka — karena yang satu di Surga dan yang lain di Neraka.

Kedua: "Debu di jalan Allah dan bau Neraka tidak berkumpul dalam dada seorang mukmin."

Debu (غُبَار) di sini adalah kiasan dari keletihan dan perjuangan fisik di jalan Allah — seperti berjihad, berdakwah, menuntut ilmu, dan amal yang mengorbankan tenaga. "Faih jahannam" (فَيْحُ جَهَنَّمَ) adalah bau Neraka atau panasnya. Maksudnya: orang yang berjuang di jalan Allah dengan sepenuh tenaga tidak akan masuk Neraka, atau minimal tidak akan merasakan siksanya. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah keutamaan besar bagi mujahid dan orang yang bersungguh-sungguh di jalan Allah.

Ketiga: "Iman dan hasad tidak berkumpul dalam hati seorang hamba."

Ini adalah peringatan keras terhadap hasad (iri hati). Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa hasad adalah membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang lain dan berharap nikmat itu hilang. Sifat ini bertentangan dengan hakikat iman, karena iman menuntut ridha terhadap ketentuan Allah dan cinta kebaikan bagi sesama mukmin. Ibnu Taymiyyah menyatakan bahwa hasad adalah penyakit hati yang dapat menggerogoti iman, sebagaimana api memakan kayu bakar.

Perbedaan pendapat ulama daftar: Sebagian ulama seperti Ibnu Hibban memahami "tidak berkumpul" secara hakiki (tidak akan masuk Neraka sama sekali bagi yang memenuhi syarat), sementara Ibnu Hajar dan an-Nawawi memahaminya sebagai penegasan keutamaan dan ancaman, dengan tetap memperhatikan syarat istiqamah dan tauhid. Pendapat yang paling kuat adalah yang menggabungkan keduanya: hadits ini menunjukkan keutamaan besar dan jaminan bagi yang memenuhi syarat, namun tidak menghapus kemungkinan hukuman bagi dosa lain sebelum masuk Surga, sesuai kaidah Ahlus Sunnah tentang dosa besar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah رضي الله عنه — sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits — sering menyampaikan hadits-hadits tentang keutamaan jihad dan bahaya penyakit hati. Suatu ketika Al-Hasan al-Bashri (tabi'in) ditanya tentang hasad, beliau menjawab: "Hasad adalah penyakit yang tidak akan menimpa orang beriman yang sempurna imannya; ia hanya menimpa hati yang lemah dan lalai dari mengingat Allah." Beliau juga mengingatkan bahwa Iblis diusir dari rahmat Allah bukan karena kekufuran semata, tetapi karena hasad kepada Adam عليه السلام. Hikmahnya: hasad adalah pintu pertama kemaksiatan, dan iman yang benar akan menutup pintu itu.

Kesimpulan Praktis

  1. Berjihad dan istiqamah — jika Allah memberi kesempatan berjuang di jalan-Nya, iringi dengan keteguhan iman sampai akhir.
  2. Jauhi hasad — bersihkan hati dari iri hati; ganti dengan doa kebaikan untuk sesama mukmin.
  3. Ridha terhadap pembagian Allah — yakinlah bahwa rezeki, kedudukan, dan keutamaan adalah ketentuan Allah yang penuh hikmah.
  4. Perbanyak amal yang mengorbankan tenaga — dakwah, menuntut ilmu, membantu sesama — sebagai bentuk "debu di jalan Allah".
  5. Jaga tauhid dan istiqamah — karena semua keutamaan dalam hadits ini bergantung pada iman yang lurus dan amal yang benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?