Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3018 tentang Kewajiban tenang dan tidak tergesa-gesa di Arafah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita adab penting dalam ibadah haji, khususnya saat melakukan ifadhah (berangkat) dari Arafah menuju Muzdalifah. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita bersikap tenang, tidak tergesa-gesa, dan menjaga ketertiban, karena esensi kebaikan bukanlah pada kecepatan, melainkan pada ketenangan dan kekhusyukan dalam beribadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat An-Nasa'i:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Manasik Haji, Bab Kewajiban Berdiri di Arafah, nomor 3018. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 1671) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1286) dari jalur yang berbeda.

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يُونُسَ بْنِ مُحَمَّدٍ، قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ، قَالَ أَفَاضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ عَرَفَةَ وَأَنَا رَدِيفُهُ فَجَعَلَ يَكْبَحُ رَاحِلَتَهُ حَتَّى أَنَّ ذِفْرَاهَا لَيَكَادُ يُصِيبُ قَادِمَةَ الرَّحْلِ وَهُوَ يَقُولُ " يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ فَإِنَّ الْبِرَّ لَيْسَ فِي إِيضَاعِ الإِبِلِ "

Terjemahan: Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Yunus bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahnya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Qais bin Sa'd, dari Atha, dari Ibn Abbas, bahwa Usamah bin Zaid berkata: "Rasulullah ﷺ berangkat dari Arafah dan aku mengendarai di belakangnya. Dia mulai mengendalikan unta hingga telinga unta itu hampir menyentuh pelana, dan dia berkata: 'Wahai manusia, kalian harus tenang dan berwibawa, karena kebaikan tidak datang dengan mempercepat unta.'"

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 199:

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Ayat ini menjadi dasar perintah untuk berangkat (ifadhah) dari Arafah, dan hadits di atas menjelaskan tata cara pelaksanaannya dengan tenang dan penuh ketundukan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Tentang Peristiwa Ifadhah dari Arafah

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi pada Haji Wada' (haji perpisahan). Rasulullah ﷺ berangkat dari Arafah menuju Muzdalifah setelah matahari terbenam, dan beliau mengendarai untanya dengan membonceng Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu.

2. Makna "Yakbahu Rahilatahu" (Mengendalikan Unta)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ menarik tali kekang untanya agar tidak berlari terlalu cepat. Bahkan disebutkan bahwa telinga unta tersebut hampir menyentuh bagian depan pelana, menunjukkan betapa kuatnya beliau menahan laju unta tersebut. Ini adalah isyarat bahwa beliau sangat menjaga ketenangan dalam perjalanan ibadah ini.

3. Makna "As-Sakinah wal Waqar" (Tenang dan Berwibawa)

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah menjelaskan bahwa as-sakinah adalah ketenangan hati dan anggota badan, sedangkan al-waqar adalah sikap tenang yang disertai kehormatan dan tidak tergesa-gesa. Keduanya adalah sifat yang sangat dianjurkan dalam ibadah, khususnya dalam rangkaian manasik haji.

4. Makna "Al-Birru Laisa fi Iidha'il Ibil" (Kebaikan Bukan pada Mempercepat Unta)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa al-birr (kebaikan) yang hakiki adalah ketundukan hati dan kekhusyukan dalam beribadah, bukan pada kecepatan fisik. Mempercepat kendaraan tidak menambah nilai ibadah sedikit pun. Yang terpenting adalah menghadirkan hati, menjaga ketenangan, dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam setiap gerakan ibadah.

5. Pelajaran tentang Adab dalam Ibadah

Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya dan menempatkannya dalam bab tentang adab perjalanan haji. Ini menunjukkan bahwa adab dan akhlak dalam beribadah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kesempurnaan ibadah itu sendiri.

6. Hikmah di Balik Larangan Tergesa-gesa

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa tergesa-gesa dalam ibadah sering kali menyebabkan:

  • Hilangnya kekhusyukan dan tadabbur (perenungan)
  • Berpotensi membahayakan diri sendiri dan orang lain
  • Mengurangi nilai ibadah yang seharusnya dilakukan dengan tenang

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada saat yang sama, sebagian sahabat ada yang berjalan cepat dengan untanya. Ketika Rasulullah ﷺ melihat hal tersebut, beliau tidak langsung melarang dengan keras, tetapi dengan penuh kelembutan beliau berseru kepada seluruh manusia: "Wahai manusia, kalian harus tenang dan berwibawa, karena kebaikan tidak datang dengan mempercepat unta."

Ini adalah contoh pendidikan Nabi ﷺ yang sangat indah. Beliau mengajarkan umatnya dengan kasih sayang, tidak mencela individu tertentu, tetapi memberikan nasihat umum yang menyentuh hati semua orang. Para sahabat yang mendengar nasihat ini langsung menyesuaikan diri mereka, karena mereka sangat mencintai dan menghormati Rasulullah ﷺ.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if Al-Ma'arif menyebutkan bahwa ketenangan dalam ibadah adalah ciri orang yang benar-benar memahami hakikat ibadah, yaitu menghadapkan hati kepada Allah ﷻ dengan penuh khusyuk dan ketundukan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersikap tenang dalam setiap ibadah, terutama dalam rangkaian manasik haji seperti berangkat dari Arafah ke Muzdalifah.
  2. Jangan tergesa-gesa dalam beribadah, karena esensi ibadah adalah ketundukan hati, bukan kecepatan fisik.
  3. Meneladani Rasulullah ﷺ dalam setiap gerakan dan sikap beliau, termasuk dalam menjaga ketenangan dan ketertiban.
  4. Menjaga adab dan akhlak dalam beribadah, karena keduanya adalah bagian dari kesempurnaan ibadah.
  5. Menyampaikan nasihat dengan lembut, sebagaimana Rasulullah ﷺ menasihati para sahabatnya dengan penuh kasih sayang.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.