Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3009 tentang Anjuran memperpendek khutbah dan menyegerakan shalat di Arafah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa di hari Arafah, ketika matahari sudah tergelincir (zawal), jamaah haji hendaknya segera berangkat menuju Arafah, lalu khatib menyampaikan khutbah yang singkat dan segera menunaikan shalat Zhuhur dan Ashar secara jamak. Ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang ditegaskan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma di hadapan Al-Hajjaj bin Yusuf.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Sunan An-Nasa'i no. 3009, Kitab Manasik Haji, Bab Memperpendek Khutbah di Arafah. Perawi sahabat: Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, melalui putranya Salim bin Abdullah.

Dalil Al-Qur'an tentang kewajiban wukuf dan dzikir di Arafah:

QS. Al-Baqarah [2]: 198

فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

Terjemahan: "Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram. Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu."

Hadits pendukung — Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma dalam Shahih Muslim tentang sifat haji Nabi ﷺ: beliau berangkat ke Arafah setelah matahari tergelincir, lalu berkhutbah, kemudian adzan dan iqamah, lalu shalat Zhuhur, kemudian iqamah lagi dan shalat Ashar. (Diriwayatkan Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih-nya).

Kaitan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sunnahnya adalah berangkat ke Arafah setelah zawal, khutbah dua kali yang ringkas, lalu jamak taqdim Zhuhur dan Ashar. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa memperpendek khutbah Arafah adalah sunnah yang disepakati. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad merinci tata cara ini sebagai bagian dari manasik Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan peristiwa ketika Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma — seorang sahabat yang sangat ketat mengikuti sunnah — mendatangi Al-Hajjaj bin Yusuf di hari Arafah. Al-Hajjaj saat itu adalah gubernur yang berkuasa di Hijaz, dan dikenal sebagai pemimpin yang keras. Meski demikian, Ibnu Umar tetap menyampaikan kebenaran sunnah dengan cara yang jelas dan tegas, bukan dengan kekerasan.

Poin-poin fiqih dari hadits:

  1. Waktu berangkat ke Arafah — Setelah matahari tergelincir (zawal), yaitu masuk waktu Zhuhur. Ini sesuai dengan hadits Jabir dalam Shahih Muslim tentang haji Nabi ﷺ. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa inilah pendapat jumhur ulama dari kalangan Syafi'i, Maliki, dan Hanbali.
  2. Memperpendek khutbah Arafah — Salim bin Abdullah menasihati Al-Hajjaj: "Jika kamu ingin mengikuti sunnah hari ini, perpendeklah khutbah dan percepatlah shalat." Ibnu Umar membenarkan ucapan Salim. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hikmahnya adalah agar jamaah tidak lelah dan dapat fokus berdoa serta berdzikir di Arafah, karena inti hari Arafah adalah doa dan dzikir, bukan mendengarkan khutbah panjang.
  3. Menggabungkan shalat Zhuhur dan Ashar (jamak taqdim) — Setelah khutbah, langsung shalat. Ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Jabir: Nabi ﷺ shalat Zhuhur dan Ashar dengan satu adzan dan dua iqamah.

Perbedaan pendapat ulama daftar: Imam Abu Hanifah berpendapat khutbah Arafah dilakukan sebelum shalat, sedangkan Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad sepakat khutbah dilakukan sebelum shalat jamak. Adapun panjang-pendeknya khutbah, jumhur ulama dari daftar (asy-Syafi'i, Ahmad, Malik) sepakat menganjurkan khutbah yang ringkas. Yang paling kuat adalah pendapat jumhur berdasarkan hadits Jabir dan penguatan Ibnu Umar dalam hadits ini.

Adab Ibnu Umar: Perhatikan bagaimana Ibnu Umar menyampaikan sunnah kepada penguasa dengan kalimat singkat namun jelas: "الرَّوَاحَ إِنْ كُنْتَ تُرِيدُ السُّنَّةَ" — "Berangkatlah jika engkau ingin mengikuti sunnah." Ini menunjukkan adab salaf: menyampaikan kebenaran dengan hikmah, tanpa ghuluw, dan tanpa takut kepada manusia.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma adalah sahabat yang paling ketat mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Imam Malik bin Anas pernah menyebut bahwa Ibnu Umar adalah teladan dalam ittiba' (mengikuti sunnah). Dalam peristiwa ini, meskipun Al-Hajjaj dikenal zalim dan berkuasa, Ibnu Umar tidak ragu menasihatinya dengan kalimat yang tegas namun penuh adab. Salim bin Abdullah — putranya — juga turut menyampaikan nasihat yang sama, dan Ibnu Umar membenarkannya.

Hikmahnya: kebenaran sunnah tidak boleh dikorbankan karena tekanan penguasa, namun harus disampaikan dengan cara yang santun dan jelas. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif menyebutkan bahwa hari Arafah adalah hari yang paling utama untuk berdoa, dan segala aktivitas manasik di dalamnya dirancang agar jamaah dapat fokus berdzikir dan berdoa.

Kesimpulan Praktis

  1. Berangkatlah ke Arafah setelah matahari tergelincir pada hari Arafah (9 Dzulhijjah).
  2. Khatib hendaknya memperpendek khutbah Arafah dan mempercepat shalat.
  3. Shalat Zhuhur dan Ashar dikerjakan secara jamak taqdim dengan satu adzan dan dua iqamah.
  4. Sampaikan sunnah dengan adab dan hikmah, meskipun kepada penguasa.
  5. Fokuskan waktu di Arafah untuk doa, dzikir, dan taubat, karena itulah inti hari tersebut.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?