Penjelasan Hadits Nasa'i No. 3003 tentang Keutamaan hari Arafah dalam pembebasan dari neraka

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan keutamaan besar hari Arafah (9 Dzulhijjah): pada hari itu Allah paling banyak membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka. Allah mendekat kepada para jamaah Arafah, lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Ini menunjukkan betapa mulianya hari Arafah dan betapa luasnya rahmat Allah bagi orang yang berdoa, berdzikir, dan bertaubat di hari itu.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Manasik Haji, Bab Apa yang Dikatakan pada Hari Arafah (no. 3003), dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dan dinilai sahih. Perawi lain seperti Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dari Aisyah dengan lafaz yang semakna.

Teks hadits (sesuai riwayat):

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ عَبْدًا أَوْ أَمَةً مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، إِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ وَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ

Terjemah ringkas: "Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hamba (laki-laki atau perempuan) dari neraka daripada hari Arafah. Sungguh Dia mendekat, lalu membanggakan mereka kepada para malaikat dan berfirman: 'Apa yang mereka inginkan?'"

Ayat yang berkaitan dengan keutamaan hari Arafah dan wukuf:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

(QS. Al-Baqarah [2]: 203)

Terjemah: "Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan."

Juga firman Allah:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

(QS. Al-Hajj [22]: 27)

Terjemah: "Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh."

Kaitan dengan ulama: Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan hari Arafah dan bahwa Allah benar-benar mendekat serta membanggakan hamba-Nya kepada malaikat — tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebut hari Arafah sebagai hari pembebasan dari neraka dan hari pengabulan doa.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Keutamaan hari Arafah. Hari Arafah adalah hari paling utama dalam setahun untuk pembebasan dari neraka. Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa pada hari itu Allah membebaskan lebih banyak hamba-Nya daripada hari-hari lain, karena berkumpulnya kaum muslimin di Arafah dengan penuh kerendahan, doa, dan taubat.

Kedua: Makna "Allah mendekat" (يَدْنُو). Para ulama Ahlus Sunnah seperti Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan menegaskan bahwa sifat "mendekat" ini adalah sifat Allah yang hakiki, sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menakwilkan/menghapus maknanya. Kita beriman bahwa Allah mendekat dengan cara yang layak bagi-Nya.

Ketiga: "Membanggakan mereka kepada malaikat." Ini menunjukkan kemuliaan besar bagi jamaah Arafah. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Allah membanggakan mereka di hadapan malaikat karena keikhlasan dan ketaatan mereka, meskipun mereka datang dari berbagai negeri dengan pakaian sederhana dan penuh debu.

Keempat: "Apa yang mereka inginkan?" Maknanya — menurut Ibn Katsir dalam tafsirnya — adalah Allah menunjukkan kepada malaikat bahwa hamba-hamba ini datang hanya untuk mencari ridha-Nya, bukan untuk dunia. Mereka meninggalkan keluarga dan harta demi beribadah kepada Allah.

Kelima: Perbedaan pendapat. Sebagian ulama berbeda dalam memahami "mendekat" — apakah mendekatnya rahmat atau mendekatnya Dzat. Yang paling kuat menurut dalil dan pemahaman salaf (seperti Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, dan Ibn Rajab) adalah menetapkan sifat itu sebagaimana datangnya, tanpa tahrif (menyelewengkan makna), ta'thil (menghapus makna), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang makna hadits "Allah mendekat pada hari Arafah". Beliau menjawab dengan tegas: "Kita beriman dan membenarkannya, tanpa menanyakan bagaimana." Sikap ini menunjukkan adab salaf dalam menerima hadits sifat — iman dan tunduk, bukan membahas hakikat yang di luar jangkauan akal.

Al-Fudhail bin 'Iyadh — seorang ulama zuhud — pernah berkata tentang hari Arafah: "Barangsiapa tidak merasa bahwa dirinya hina di hari Arafah, maka sungguh ia telah tertipu." Hikmahnya: hari Arafah mengajarkan tawadhu, karena semua manusia sama di hadapan Allah — hanya ketakwaan yang membedakan.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak doa dan dzikir di hari Arafah, terutama bagi yang tidak berhaji — dengan puasa Arafah (bagi yang tidak berhaji), doa, istighfar, dan taubat.
  2. Bertaubat dengan sungguh-sungguh, karena hari Arafah adalah hari pembebasan dari neraka.
  3. Jaga tauhid dan adab terhadap sifat-sifat Allah — imani tanpa menyerupakan, tanpa menakwilkan, dan tanpa menanyakan bagaimana.
  4. Rendahkan diri kepada Allah, seperti jamaah Arafah yang datang dengan pakaian sederhana dan penuh kebutuhan kepada-Nya.
  5. Jangan sia-siakan hari Arafah dengan kelalaian, karena keutamaannya sangat besar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?