Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan kelapangan (keluasan) dalam dzikir di hari Arafah. Para sahabat Rasulullah ﷺ berbeda-beda dalam bacaan dzikirnya; sebagian bertalbiyah (membaca "Labbaik Allahumma labbaik...") dan sebagian lainnya bertakbir (membaca "Allahu akbar..."). Yang menarik, tidak ada seorang pun di antara mereka yang saling mengingkari atau menyalahkan yang lain. Ini adalah dalil bahwa pada hari Arafah, seorang jamaah haji boleh memilih antara memperbanyak talbiyah atau takbir, dan tidak boleh mencela orang yang berbeda pilihan dengannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 3001) dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 1659) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1285) dengan redaksi yang semakna.
Allah Ta'ala berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
"Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." (QS. Al-Hajj [22]: 34)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan ibadah adalah menyebut nama Allah, dan dalam hal ini terdapat kelapangan dalam bentuk dzikir yang diucapkan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memberikan pelajaran penting tentang adab perbedaan dalam ibadah. Mari kita simak penjelasan para ulama dari daftar rujukan kita:
1. Pandangan Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (Kitab Al-Hajj, Bab Talbiyah dan Takbir di Hari Arafah): Beliau menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya bertalbiyah dan bertakbir pada hari Arafah. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa pada hari Arafah, disunnahkan untuk memperbanyak talbiyah dan takbir, dan tidak ada larangan untuk salah satunya. Imam An-Nawawi juga menegaskan bahwa sikap para sahabat yang tidak saling mengingkari adalah dalil bahwa masing-masing dari keduanya adalah baik dan tidak ada yang lebih utama secara mutlak, karena para sahabat tidak akan meninggalkan yang lebih utama tanpa ada udzur.
2. Pandangan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari): Beliau menyebutkan bahwa dalam riwayat lain dari hadits Anas ini, disebutkan bahwa sebagian sahabat bertalbiyah dan sebagian lagi bertakbir. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena sebagian sahabat mengetahui bahwa Nabi ﷺ menghentikan talbiyah setelah masuk ke tanah haram (Makkah) dan sebagian lainnya tidak mengetahui hal itu, sehingga mereka terus bertalbiyah. Namun, yang penting adalah tidak adanya pengingkaran di antara mereka, karena masing-masing memiliki dalil dan alasan.
3. Pandangan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Al-Mumti' 'ala Zad Al-Mustaqni' (Kitab Al-Hajj): Beliau menjelaskan bahwa pada hari Arafah, disunnahkan untuk memperbanyak dzikir, baik talbiyah, takbir, tahlil, maupun tahmid. Beliau juga menegaskan bahwa tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengingkari saudaranya yang memilih bentuk dzikir yang berbeda, selama masing-masing memiliki dalil dari sunnah. Yang penting adalah hati yang khusyuk dan lisan yang basah dengan dzikir kepada Allah.
4. Pandangan Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa (Jilid 17, Kitab Al-Hajj): Beliau ditanya tentang hukum talbiyah di hari Arafah, maka beliau menjawab bahwa talbiyah disunnahkan terus menerus sampai seseorang melempar jumrah Aqabah pada hari Nahr (Idul Adha). Adapun di hari Arafah, maka talbiyah tetap disunnahkan, dan juga disunnahkan bertakbir, bertahlil, dan berdoa. Beliau menegaskan bahwa tidak mengapa seorang jamaah haji memilih salah satu bentuk dzikir yang dia sukai, karena semua itu adalah kebaikan.
5. Pelajaran dari Sikap Para Sahabat: Sikap para sahabat yang tidak saling mengingkari ini adalah cermin dari akhlak mulia yang diajarkan Islam. Mereka memahami bahwa perbedaan dalam masalah furu'iyyah (cabang) ibadah tidak boleh menjadi sebab perpecahan dan permusuhan. Yang terpenting adalah niat yang ikhlas dan ittiba' (mengikuti) sunnah Nabi ﷺ.
Story Telling
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Aku berjalan di jalan ini bersama Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya pada pagi hari Arafah. Di antara mereka ada yang bertalbiyah dan ada yang bertakbir. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengingkari yang lainnya."
Perhatikanlah keindahan pemandangan itu! Di pagi hari Arafah yang penuh berkah, ribuan sahabat berjalan menuju tempat wuquf. Suara "Labbaik Allahumma labbaik" bergema dari sebagian mereka, sementara sebagian yang lain mengumandangkan "Allahu akbar, Allahu akbar". Tidak ada yang merasa lebih benar, tidak ada yang mencela saudaranya. Yang ada hanyalah kebersamaan dalam ketaatan dan saling menghormati dalam perbedaan.
Ini adalah pelajaran berharga bagi kita. Betapa indahnya jika umat Islam saat ini bisa meniru akhlak para sahabat ini—tidak mudah menyalahkan saudara sendiri dalam masalah-masalah yang masih diperselisihkan oleh ulama, selama masing-masing memiliki dalil dan mengikuti pemahaman yang benar.
Kesimpulan Praktis
- Pada hari Arafah, disunnahkan untuk memperbanyak dzikir, baik talbiyah, takbir, tahlil, maupun doa.
- Talbiyah tetap disunnahkan di hari Arafah dan berlanjut hingga melempar jumrah Aqabah pada hari Nahr.
- Tidak boleh mengingkari saudara yang berbeda pilihan dzikir, selama masing-masing memiliki dalil dari sunnah.
- Yang terpenting adalah niat yang ikhlas dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam beribadah.
- Perbedaan dalam masalah cabang ibadah tidak boleh menjadi sebab perpecahan, sebagaimana dicontohkan para sahabat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.