Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa pada hari Arafah, para sahabat Nabi ﷺ ada yang bertalbiyah (membaca "Labbaik Allahumma labbaik...") dan ada yang bertakbir (membaca "Allahu akbar, Allahu akbar..."). Ini adalah kabar bahwa keduanya dibolehkan pada hari tersebut, dan tidak ada satu pun yang dicela oleh Nabi ﷺ. Yang terpenting adalah hati yang hadir dan lisan yang sibuk dengan dzikir kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat An-Nasa'i (No. 2999):
Teks Arab hadits di atas telah Anda sertakan. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
QS. Al-Baqarah [2]: 198
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ
"Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram. Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu."
Ayat ini memerintahkan dzikir secara umum setelah wukuf di Arafah, dan hadits ini menunjukkan contoh konkret dzikir yang dilakukan para sahabat, yaitu talbiyah dan takbir.
Kaitan dengan Ulama:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya bertalbiyah dan bertakbir pada hari Arafah. Beliau menukil bahwa para ulama berbeda pendapat mana yang lebih utama, namun semuanya sepakat bahwa keduanya adalah dzikir yang disyariatkan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu dalil bahwa pada hari Arafah, khususnya saat perjalanan menuju Arafah, seorang jamaah haji diberi kelonggaran untuk memilih antara talbiyah dan takbir. Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma mengabarkan bahwa ketika mereka berangkat bersama Rasulullah ﷺ menuju Arafah, sebagian sahabat mengangkat suara dengan talbiyah, dan sebagian lagi dengan takbir. Nabi ﷺ tidak menyalahkan salah satu dari mereka, dan tidak juga memerintahkan mereka untuk bersatu dalam satu bacaan.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbedaan bacaan ini terjadi karena perbedaan kondisi dan tujuan. Ada yang menguatkan talbiyah karena itu adalah syi'ar ihram, dan ada yang menguatkan takbir karena hari Arafah adalah hari berkumpul dan hari raya. Namun keduanya adalah dzikir yang baik.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa talbiyah lebih utama bagi orang yang sedang ihram dan belum selesai dari manasiknya, sedangkan takbir lebih utama pada hari-hari tertentu seperti hari raya. Namun pada hari Arafah, keduanya boleh dan tidak ada larangan.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh al-Mumti' menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan luasnya syariat Islam. Tidak ada satu bacaan pun yang dipaksakan, selama itu adalah dzikir yang disyariatkan. Yang penting adalah lisan tidak lalai dari mengingat Allah.
Pelajaran penting dari hadits ini:
- Kelonggaran dalam ibadah – Islam tidak mempersempit umatnya dengan satu bentuk dzikir saja, selama dzikir itu sesuai syariat.
- Keberagaman yang tidak tercela – Para sahabat berbeda bacaan, namun Nabi ﷺ tidak mencela. Ini menunjukkan bahwa perbedaan dalam hal yang dibolehkan bukanlah masalah.
- Keutamaan dzikir di hari Arafah – Hari Arafah adalah hari yang agung, dan dzikir adalah amalan yang paling utama di dalamnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika para sahabat berangkat menuju Arafah, suasana penuh dengan suara dzikir yang menggema. Ada yang bersuara lantang dengan talbiyah: "Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik..." dan ada yang bertakbir: "Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar...".
Yang menarik, Nabi ﷺ tidak memerintahkan mereka untuk seragam. Beliau membiarkan mereka dalam keberagaman yang indah. Ini mengajarkan kita bahwa dalam hal-hal yang bersifat pilihan, janganlah kita memaksakan pendapat kita kepada orang lain. Selama ada dalil dan tidak bertentangan dengan syariat, maka perbedaan itu adalah rahmat.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ibnu 'Umar, bahwa beliau sendiri jika berangkat ke Arafah, beliau bertalbiyah. Namun beliau tidak pernah mencela orang yang bertakbir. Ini adalah adab para sahabat: mereka berpegang pada pilihan mereka, namun tetap menghormati pilihan orang lain.
Kesimpulan Praktis
- Boleh memilih talbiyah atau takbir saat berangkat menuju Arafah, karena keduanya adalah dzikir yang disyariatkan.
- Jangan mencela perbedaan dalam hal-hal yang dibolehkan, karena Nabi ﷺ tidak mencela para sahabat yang berbeda bacaan.
- Perbanyak dzikir di hari Arafah, baik dengan talbiyah, takbir, tahlil, tahmid, maupun doa, karena hari itu adalah hari yang agung.
- Jaga hati hadir dalam setiap dzikir, karena yang terpenting bukan hanya suara, tetapi kehadiran hati di hadapan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.