Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2996 tentang Khutbah Nabi di Mina tentang manasik dan tempat berkemah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, menceritakan khutbah Nabi ﷺ di Mina saat haji, di mana Allah memudahkan para sahabat mendengar ucapan beliau dari perkemahan mereka. Nabi ﷺ mengajarkan manasik haji, memerintahkan menggunakan kerikil sebesar biji kurma (untuk melontar jumrah), serta mengatur tempat berkemah Muhajirin di depan masjid dan Anshar di belakangnya. Hadits ini menunjukkan perhatian Nabi ﷺ terhadap pengajaran ibadah secara praktis dan pengaturan umat dengan hikmah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini terdapat dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Manasik Haji, Bab yang Diceritakan di Mina (no. 2996) , dari jalur Abdurrahman bin Mu'adz.

Terkait perintah menggunakan kerikil sebesar biji kurma (حَصَى الْخَذْفِ), terdapat hadits lain yang shahih:

Hadits dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ غَدَاةَ الْعَقَبَةِ وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ هَاتِ الْقُطْ لِي فَلَقَطْتُ لَهُ سَبْعَ حَصَيَاتٍ هُنَّ حَصَى الْخَذْفِ

"Pada pagi hari di Jumrah Aqabah, Rasulullah ﷺ sedang menaiki tunggangannya, beliau bersabda: 'Ambilkan kerikil untukku.' Maka aku mengambil tujuh kerikil untuk beliau, yaitu kerikil sebesar biji kurma (hasal khadzf)."

(HR. Muslim, Kitab Al-Hajj)

Ayat Al-Qur'an terkait perintah haji:

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

"Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh."

(QS. Al-Hajj [22]: 27)

Kaitan dengan ulama: Imam An-Nasa'i meriwayatkan hadits ini dalam kitab Sunan-nya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ukuran kerikil lontar adalah sebesar biji kurma atau ujung jari, tidak boleh lebih besar. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan manasik secara langsung di Mina agar para sahabat memahami urutan ibadah haji dengan benar.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Mukjizat mendengar khutbah dari jauh.

Ucapan "فَفَتَحَ اللَّهُ أَسْمَاعَنَا" (Allah membuka pendengaran kami) menunjukkan karomah yang Allah berikan kepada para sahabat saat itu. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Allah mampu memperkuat pendengaran siapa pun yang Dia kehendaki, sebagaimana Allah memperkuat pendengaran Nabi ﷺ dan para sahabat dalam situasi tertentu. Ini bukan hal yang mustahil bagi kekuasaan Allah.

Kedua: Pengajaran manasik secara bertahap.

Nabi ﷺ mengajarkan manasik "حَتَّى بَلَغَ الْجِمَارَ" (hingga sampai pada jumrah). Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan ibadah haji secara praktis dan bertahap, tidak sekaligus, agar mudah dipahami. Ini menjadi dalil bahwa mengajarkan ibadah sebaiknya dilakukan dengan cara demonstrasi langsung.

Ketiga: Ukuran kerikil lontar.

Sabda beliau "بِحَصَى الْخَذْفِ" (dengan kerikil sebesar biji kurma/ujung jari). Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ukuran ini adalah yang paling utama, dan tidak boleh melampaui ukuran tersebut. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menambahkan bahwa melontar dengan batu besar atau sandal (sebagaimana dilakukan sebagian orang jahiliah) adalah ghuluw (berlebihan) yang dilarang.

Keempat: Pengaturan tempat berkemah.

Nabi ﷺ mengatur Muhajirin di depan masjid dan Anshar di belakang. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini menunjukkan kepemimpinan Nabi ﷺ dalam mengatur umat, serta menghormati kedudukan Muhajirin yang lebih dahulu berhijrah. Namun ini bukan larangan bagi selain mereka untuk berkemah di tempat lain, melainkan pengaturan agar tertib dan tidak saling berdesakan.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat bahwa ukuran kerikil adalah sebesar biji kurma, tidak lebih. Sedangkan Imam asy-Syafi'i dan Imam Malik membolehkan yang lebih kecil dari itu, namun yang paling utama tetap seukuran biji kurma. Pendapat yang paling kuat adalah yang sesuai dengan hadits Ibnu Abbas di atas, yaitu sebesar biji kurma (hasal khadzf).

Story Telling

Diceritakan bahwa pada saat haji Wada' (haji perpisahan), Nabi ﷺ berada di Mina bersama para sahabat. Jarak antara perkemahan para sahabat dengan tempat khutbah cukup jauh. Namun Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya: para sahabat yang berada di kemah masing-masing dapat mendengar dengan jelas setiap kata yang diucapkan Nabi ﷺ. Abdurrahman bin Mu'adz, seorang sahabat dari kaum Anshar, menuturkan pengalaman ini sebagai bukti nyata karomah Nabi ﷺ. Nabi ﷺ kemudian mengajarkan satu per satu manasik haji: dari ihram, thawaf, sai, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga melontar jumrah. Ketika sampai pada jumrah, beliau mengambil kerikil kecil dan bersabda: "Dengan kerikil seperti ini." Beliau juga mengatur tempat berkemah: Muhajirin di depan masjid, Anshar di belakang. Semua ini beliau lakukan agar umat Islam memiliki panduan yang jelas dalam beribadah haji. (Kisah ini disebutkan dalam Sunan An-Nasa'i dan kitab-kitab manasik karya ulama seperti Ibnu Qayyim dalam Zadul Ma'ad).

Kesimpulan Praktis

  1. Ikuti sunnah dalam melontar jumrah: Gunakan kerikil sebesar biji kurma atau ujung jari, jangan berlebihan.
  2. Belajar manasik haji secara praktis: Sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan langsung, hendaknya kita belajar haji dari guru yang terpercaya atau mengikuti manasik yang sesuai sunnah.
  3. Hormati pengaturan pemimpin dalam ibadah: Pengaturan tempat berkemah oleh Nabi ﷺ menunjukkan pentingnya ketertiban dalam berjamaah.
  4. Yakinlah pada kekuasaan Allah: Mukjizat pendengaran para sahabat mengingatkan kita bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
  5. Hindari ghuluw (berlebihan) dalam ibadah: Islam mengajarkan kesederhanaan, termasuk dalam memilih kerikil lontar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?