Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits yang Anda tanyakan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya. Hadits ini berbicara tentang keutamaan sebuah tempat di Mina yang bernama lembah As-Surrabah atau As-Surar, yang di bawah sebuah pohon besarnya (sarah) dikatakan tujuh puluh nabi pernah dilahirkan. Para ulama ahli hadits, seperti Syaikh Al-Albani, menilai hadits ini daif (lemah) karena ada perawi yang tidak dikenal dalam sanadnya. Oleh karena itu, kita tidak boleh meyakini atau mengamalkan kabar seperti ini sebagai suatu keutamaan khusus, karena yang sahih hanyalah dari Al-Qur'an dan hadits shahih.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Manasik Haji, Bab "Apa yang Disebutkan di Mina" (no. 2995). Namun, para ulama pakar hadits telah meneliti sanadnya dan menghukuminya daif.
Pernyataan Ulama tentang Kelemahan Hadits Ini:
- Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitabnya Da'if Sunan An-Nasa'i (no. 2995) menyatakan bahwa hadits ini daif. Beliau menjelaskan bahwa kelemahannya terletak pada perawi yang bernama Muhammad bin Imran Al-Ansari. Tentang dirinya, Imam Abu Hatim Ar-Razi (salah satu ulama dalam daftar rujukan) mengatakan, "Ia adalah orang yang tidak dikenal (majhul)." Karena perawinya tidak dikenal, maka hadits ini tidak bisa diterima sebagai dalil.
- Imam Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I'tidal juga menyebutkan tentang Muhammad bin Imran Al-Ansari ini dan menukil perkataan ulama bahwa dia adalah perawi yang majhul (tidak dikenal identitas dan kredibilitasnya).
Dalil Kaidah Penerimaan Hadits:
Para ulama, termasuk Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal, telah menetapkan kaidah bahwa salah satu syarat diterimanya sebuah hadits adalah perawinya harus dikenal adil dan dhabit (kuat hafalannya). Jika ada perawi yang majhul (tidak dikenal), maka hadits tersebut tertolak dan tidak bisa dijadikan landasan hukum atau keutamaan ibadah.
Penjelasan Rinci
Para ulama Ahlus Sunnah sangat berhati-hati dalam menerima kabar, terutama yang berkaitan dengan keutamaan tempat atau amalan. Mereka tidak serta-merta menerima semua riwayat, tetapi meneliti sanad (rantai periwayatan) dan matan (teks) hadits.
Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ dikabarkan bersabda tentang sebuah lembah di Mina yang bernama As-Surrabah atau As-Surar, yang di bawah pohonnya dikatakan tujuh puluh nabi dilahirkan. Namun, ada beberapa hal yang perlu kita pahami:
- Sanadnya Bermasalah: Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani, inti permasalahan hadits ini adalah adanya perawi bernama Muhammad bin Imran Al-Ansari yang dinilai majhul oleh para kritikus hadits seperti Imam Abu Hatim Ar-Razi. Karena perawi ini tidak dikenal, maka kita tidak bisa memastikan bahwa sabda ini benar-benar berasal dari Nabi ﷺ.
- Sikap Ulama terhadap Hadits Daif: Para ulama, seperti Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani, menjelaskan bahwa hadits daif tidak boleh dijadikan dasar untuk menetapkan hukum halal-haram, dan menurut pendapat yang kuat, juga tidak boleh dijadikan dasar untuk keutamaan amal (fadhail a'mal) jika kelemahannya parah, seperti karena perawinya majhul atau pendusta. Karena itu, kita tidak perlu meyakini keutamaan khusus dari tempat tersebut berdasarkan hadits ini.
- Keutamaan Mina yang Shahih: Meskipun hadits ini lemah, perlu kita ketahui bahwa keutamaan Mina secara umum telah tetap dalam hadits-hadits shahih. Misalnya, Rasulullah ﷺ bersabda tentang Mina sebagai tempat berkumpulnya kaum muslimin untuk melaksanakan ibadah haji, melempar jumrah, dan berdoa. Keutamaan ini sudah cukup bagi kita untuk mengagungkan syiar Allah di tempat tersebut, tanpa perlu mengaitkannya dengan kisah yang tidak sahih.
Story Telling
Dahulu, para ulama salaf sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Imam Muslim bin Al-Hajjaj (penulis Shahih Muslim) meriwayatkan dalam Muqaddimah Shahih-nya bahwa Muhammad bin Sirin (seorang ulama tabi'in yang sangat mulia) berkata:
> "Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian."
Perkataan ini menunjukkan betapa seriusnya para ulama dalam memeriksa setiap riwayat. Mereka tidak mau mengambil sembarang kabar, karena takut memasukkan kebohongan ke dalam agama Allah. Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu memastikan kebenaran suatu informasi, terutama dalam urusan agama, sebelum mengamalkannya.
Kesimpulan Praktis
- Tidak Mengamalkan Hadits Daif: Kita tidak boleh meyakini atau mengamalkan kabar tentang "tujuh puluh nabi dilahirkan di bawah pohon tersebut" karena haditsnya lemah (daif).
- Berpegang pada yang Shahih: Dalam beribadah, termasuk haji dan umrah, kita harus berpegang pada tuntunan yang jelas dari Al-Qur'an dan hadits shahih. Keutamaan Mina dan amalan-amalan di dalamnya sudah dijelaskan dalam dalil-dalil yang sahih.
- Meneliti Sebelum Menyebarkan: Kita harus berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan kabar tentang keutamaan suatu tempat atau amalan. Pastikan sumbernya dari ulama terpercaya dan sanadnya shahih.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.