Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2973 tentang Tahlil dan doa di atas Shafa saat haji

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan salah satu sunnah Nabi ﷺ saat berada di bukit Shafa dalam ibadah haji, yaitu beliau bertahlil (mengucapkan "Laa ilaaha illallah") dan berdoa. Ini menunjukkan bahwa di tempat-tempat ibadah yang agung, kita dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan doa, bukan hanya sekadar melontarkan pandangan atau melempar jumrah. Intinya, berdzikir dan berdoa di atas Shafa adalah tuntunan yang mulia dan merupakan bagian dari syiar haji.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini adalah bagian dari hadits panjang tentang haji Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1218) dengan redaksi yang lebih lengkap, dan juga oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 2973) sebagaimana yang Anda sebutkan.

Dalil dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ

"Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram. Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu." (QS. Al-Baqarah [2]: 198)

Ayat ini menunjukkan perintah berdzikir di tempat-tempat ibadah haji, dan ini diperkuat oleh hadits Jabir di atas.

Hadits terkait:

Hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu tentang sifat haji Nabi ﷺ, yang di dalamnya beliau bersabda dan melakukan berbagai amalan. Dalam riwayat Imam Muslim, disebutkan:

"...ثُمَّ رَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حَتَّى أَتَى الصَّفَا، فَرَقِيَ عَلَيْهِ حَتَّى رَأَى الْبَيْتَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، فَوَحَّدَ اللَّهَ وَكَبَّرَ، وَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ..."

"Kemudian Rasulullah ﷺ menaiki kendaraannya hingga sampai di Shafa. Beliau naik ke atasnya hingga dapat melihat Ka'bah, lalu menghadap kiblat, mengesakan Allah dan bertakbir, serta mengucapkan: 'Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qadiir' (Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)." (HR. Muslim, no. 1218)

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in, seperti Imam Asy-Syafi'i dalam kitabnya Al-Umm, menjelaskan bahwa disunnahkan bagi jamaah haji untuk berdzikir dan berdoa di atas Shafa dan Marwah. Beliau berkata, "Aku menyukai bagi orang yang naik ke Shafa untuk menghadap kiblat, bertakbir, bertahlil, dan berdoa." Ini sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah bagian dari riwayat panjang yang sangat terkenal, yaitu hadits Jabir bin Abdillah tentang tata cara haji Nabi ﷺ. Hadits ini menjadi rujukan utama para ulama dalam menjelaskan manasik haji, karena sangat rinci dan diriwayatkan oleh seorang sahabat yang menyaksikan langsung seluruh rangkaian haji Nabi ﷺ.

Dalam riwayat An-Nasa'i yang Anda sebutkan, fokusnya adalah pada amalan Nabi ﷺ di atas bukit Shafa. Beliau berdiri di sana, bertahlil (mengucapkan kalimat tauhid), dan berdoa di antara dzikir-dzikir tersebut.

Pemahaman Ulama:

  1. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa disunnahkan bagi jamaah haji ketika berada di Shafa dan Marwah untuk memperbanyak dzikir, takbir, tahlil, dan doa. Beliau menukil kesepakatan ulama tentang disunnahkannya hal ini.
  2. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa amalan Nabi ﷺ di Shafa ini menunjukkan bahwa tempat tersebut adalah tempat mustajab untuk berdoa. Beliau juga menjelaskan bahwa doa yang dipanjatkan Nabi ﷺ di sana adalah doa yang bersifat umum, tidak terikat pada lafaz tertentu.
  3. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Al-Mumti' menjelaskan bahwa dzikir dan doa di Shafa dan Marwah adalah sunnah yang dianjurkan. Beliau berkata, "Hendaknya seorang muslim memperbanyak dzikir dan doa di kedua tempat ini, karena ini adalah tempat yang agung dan termasuk syiar-syiar Allah."
  4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa berdzikir di tempat-tempat ibadah haji adalah bentuk pengagungan terhadap syiar Allah, dan ini termasuk ibadah yang sangat dianjurkan.

Praktik yang Dianjurkan:

Berdasarkan hadits ini dan penjelasan para ulama, ketika seorang jamaah haji berada di atas Shafa, dianjurkan untuk:

  • Menghadap kiblat
  • Bertakbir, bertahlil, dan bertahmid
  • Berdoa dengan doa apa pun yang baik, baik untuk urusan dunia maupun akhirat
  • Mengangkat tangan ketika berdoa
  • Memperbanyak dzikir karena ini adalah waktu dan tempat yang mustajab

Story Telling

Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh dari seorang ulama salaf yang bernama Sa'id bin al-Musayyib, salah seorang tabi'in terkemuka dan termasuk ulama yang sangat memahami manasik haji. Beliau adalah salah satu perawi hadits tentang haji dan dikenal sangat teliti dalam beribadah.

Suatu ketika, Sa'id bin al-Musayyib ditanya tentang doa di Arafah. Beliau menjawab, "Doa yang paling utama adalah doa di Arafah." Kemudian beliau menangis dan berkata, "Demi Allah, tidaklah seorang hamba berdiri di Arafah dan berdoa kepada Allah dengan doa yang tulus, melainkan Allah akan mengabulkannya."

Kisah ini menunjukkan betapa para salaf sangat menghargai momen-momen ibadah haji, termasuk saat berada di Shafa dan tempat-tempat mustajab lainnya. Mereka memahami bahwa momen-momen seperti ini adalah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan dzikir dan doa.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak dzikir dan doa ketika berada di atas Shafa dan Marwah, karena ini adalah sunnah Nabi ﷺ.
  2. Gunakan lafaz dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ, seperti "Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qadiir."
  3. Berdoa dengan doa apa pun yang baik, karena ini adalah waktu dan tempat yang mustajab.
  4. Jadikan ibadah haji sebagai momen untuk memperbanyak ibadah, bukan sekadar seremonial belaka.
  5. Amalkan dzikir ini juga di tempat-tempat lain, karena dzikir adalah ibadah yang tidak terbatas pada waktu dan tempat tertentu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi