Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2901 tentang Keinginan Nabi membangun Ka'bah di atas fondasi Ibrahim

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memiliki keinginan memperbaiki Ka'bah agar sesuai fondasi Nabi Ibrahim عليه السلام, namun beliau menundanya karena kaum Quraisy baru masuk Islam dan dikhawatirkan terjadi fitnah. Ini pelajaran besar tentang memprioritaskan maslahat yang lebih besar dan menghindari fitnah dalam berdakwah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Manasik Haji, Bab Membangun Ka'bah, dari 'Aisyah رضي الله عنها. Hadits semakna juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari 'Aisyah رضي الله عنها.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan Ka'bah dan fondasi Ibrahim:

QS. Al-Baqarah [2]: 127

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): 'Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami). Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.'"

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang, termasuk bab tentang membangun Ka'bah dan sebab Nabi ﷺ tidak jadi merobohkannya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ meninggalkan sesuatu yang beliau inginkan karena khawatir menimbulkan fitnah bagi orang yang baru masuk Islam.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Ka'bah dibangun oleh Ibrahim عليه السلام dan Ismail عليه السلام di atas fondasi yang benar.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Nabi ﷺ menyampaikan keinginan beliau untuk merobohkan Ka'bah dan membangunnya kembali sesuai fondasi asli Nabi Ibrahim عليه السلام, yaitu:

  1. Lebih luas dari bangunan Quraisy yang terlalu kecil.
  2. Memiliki dua pintu — satu pintu masuk dan satu pintu belakang (sebagai tempat keluar).

Namun beliau ﷺ tidak melakukannya karena satu alasan penting: "حَدَاثَةُ عَهْدِ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ" — kaum Quraisy baru saja meninggalkan kekufuran (baru masuk Islam). Jika Ka'bah dirobohkan, dikhawatirkan iman mereka yang masih lemah akan goyah dan menimbulkan fitnah besar.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa hadits ini menjadi dalil kaidah penting: "دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ" — menolak kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil manfaat. Meskipun membangun Ka'bah sesuai fondasi Ibrahim adalah kebaikan, namun jika menimbulkan kerusakan yang lebih besar (fitnah bagi muallaf), maka ditunda.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa ini adalah contoh kelembutan Nabi ﷺ dalam berdakwah dan mempertimbangkan kondisi umat. Beliau tidak memaksakan kehendak meskipun itu baik, karena menjaga hati manusia yang baru masuk Islam lebih penting.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam I'lam al-Muwaqqi'in menggunakan hadits ini sebagai dalil bahwa seorang pemimpin harus mempertimbangkan kondisi dan kesiapan umat dalam menerapkan perubahan, terutama yang berkaitan dengan perkara besar.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mendahulukan kelembutan dan kasih sayang kepada umat di atas keinginan pribadi beliau yang mulia.

Poin penting lainnya:

  • Hadits ini menunjukkan bahwa Ka'bah yang ada sekarang (sejak zaman Quraisy) tidak sepenuhnya sesuai fondasi Ibrahim عليه السلام.
  • Ini juga menjadi dalil bahwa bangunan Ka'bah boleh diubah jika ada maslahat, namun harus mempertimbangkan kondisi umat.
  • Abdullah bin az-Zubair رضي الله عنه kemudian merealisasikan keinginan Nabi ﷺ ini ketika situasi sudah memungkinkan, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari dan Muslim.

Story Telling

Dikisahkan bahwa setelah Nabi ﷺ wafat, Abdullah bin az-Zubair رضي الله عنه — yang pernah mendengar hadits ini dari 'Aisyah رضي الله عنها — merobohkan Ka'bah dan membangunnya kembali sesuai fondasi Ibrahim عليه السلام, dengan dua pintu: satu untuk masuk dan satu untuk keluar. Ini beliau lakukan ketika kekuasaannya kuat dan kondisi memungkinkan.

Namun ketika Al-Hajjaj bin Yusuf berkuasa, ia mengembalikan Ka'bah ke bentuk sebelumnya (seperti bangunan Quraisy). Hal ini disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah رضي الله عنها.

Hikmahnya: Perubahan besar memerlukan waktu yang tepat dan kondisi yang kondusif. Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk bersabar dan bijak dalam menerapkan perubahan, terutama yang berkaitan dengan hati manusia.

Kesimpulan Praktis

  1. Dahulukan mencegah kerusakan daripada mengambil manfaat, jika keduanya bertentangan.
  2. Pertimbangkan kondisi umat dalam berdakwah dan menerapkan perubahan — terutama bagi yang baru belajar agama.
  3. Kelembutan dan kasih sayang lebih utama daripada memaksakan kehendak, meskipun itu kebaikan.
  4. Ka'bah memiliki sejarah panjang — dibangun Ibrahim عليه السلام, diperbaiki Quraisy, dan direnovasi beberapa kali.
  5. Bersabar dalam memperbaiki keadaan — tidak semua yang baik harus dilakukan sekarang; ada waktu dan cara yang tepat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?