Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2690 tentang Kebolehan memakai wangi-wangian sebelum ihram

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah diberi wewangian oleh Aisyah رضي الله عنها ketika hendak berihram. Para ulama memahami bahwa yang dimaksud adalah wewangian yang dipakai sebelum niat ihram atau pada badan (bukan pakaian ihram), sehingga tidak bertentangan dengan larangan memakai wangi-wangian saat ihram. Ini menunjukkan sunnahnya bersiap dengan wangi-wangian sebelum ihram dan tetap menjaga kebersihan serta keharuman saat beribadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Manasik Haji, Bab Kebolehan Menggunakan Wewangian Saat Ihram, dari Aisyah رضي الله عنها.

Teks hadits:

<p>كُنْتُ أُطَيِّبُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عِنْدَ إِحْرَامِهِ بِأَطْيَبِ مَا أَجِدُ</p>

Terjemahan: "Saya biasa mengoleskan minyak wangi kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau memasuki ihram, dengan menggunakan minyak wangi terbaik yang bisa saya temukan."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan ihram dan larangan berbuat kotor/berlebihan:

<p>وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ</p>

QS. Al-Baqarah [2]: 196

Terjemahan: "Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah."

Hadits lain yang sangat terkait dan menjadi penjelas utama:

Dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:

<p>طَيَّبْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لِإِحْرَامِهِ قَبْلَ أَنْ يُحْرِمَ، وَلِحِلِّهِ قَبْلَ أَنْ يَطُوفَ بِالْبَيْتِ</p>

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Terjemahan: "Aku memberi wewangian kepada Rasulullah ﷺ untuk ihramnya sebelum beliau berihram, dan untuk tahallulnya sebelum beliau thawaf di Ka'bah."

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebolehan memakai wangi-wangian sebelum ihram, dan bahwa bekas wangi yang masih ada setelah ihram tidaklah mengapa. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan hal yang sama: larangan memakai wangi-wangian berlaku setelah masuk ihram, bukan sebelumnya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini sering dipahami secara keliru oleh sebagian orang, seolah-olah boleh memakai wangi-wangian setelah berihram. Padahal para ulama dari daftar yang disebutkan—seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar al-Asqalani, Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, dan Ibnu Rajab al-Hanbali—menjelaskan bahwa konteksnya adalah:

  1. Wewangian diberikan sebelum niat ihram.

Aisyah رضي الله عنها memberi wangi kepada Nabi ﷺ sebelum beliau berniat ihram. Ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits Bukhari-Muslim di atas: "لِإِحْرَامِهِ قَبْلَ أَنْ يُحْرِمَ" (untuk ihramnya sebelum beliau berihram).

  1. Bekas wangi yang tersisa setelah ihram tidak membatalkan.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak memerintahkan Aisyah menghilangkan bekas wangi tersebut, dan beliau tetap berihram dengannya. Ini menunjukkan bahwa bekas wangi (atsar) bukanlah "memakai wangi-wangian" yang dilarang.

  1. Larangan berlaku pada pemakaian baru setelah ihram.

Imam an-Nawawi menegaskan dalam Al-Majmu' bahwa haram hukumnya memakai wangi-wangian pada badan atau pakaian ihram setelah niat ihram, berdasarkan hadits larangan: "وَلَا تَلْبَسُوا مِنَ الثِّيَابِ..." dan larangan memakai za'faran serta waras (HR. Bukhari-Muslim).

  1. Perbedaan pendapat di antara ulama daftar.

Sebagian ulama seperti Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal membolehkan bekas wangi yang tersisa, sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik juga membolehkan selama tidak berlebihan dan tidak mengenai pakaian ihram. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat jumhur: boleh memakai wangi sebelum ihram, dan bekasnya tidak mengapa, karena inilah yang secara tegas dipraktikkan Nabi ﷺ dan disaksikan langsung oleh Aisyah رضي الله عنها.

Story Telling

Aisyah رضي الله عنها adalah istri Nabi ﷺ yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang kehidupan rumah tangga beliau. Suatu ketika, menjelang ihram, beliau mempersiapkan Nabi ﷺ dengan sebaik-baiknya. Aisyah berkata: "Aku memberi wangi kepada beliau dengan wangi terbaik yang aku miliki." Ini menunjukkan betapa beliau mencintai Nabi ﷺ dan memperhatikan sunnah-sunnah kecil yang sering dilupakan orang.

Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan dalam Fathul Bari bahwa Aisyah رضي الله عنها bahkan memberi wangi kepada Nabi ﷺ untuk tahallul (keluar dari ihram) sebelum beliau thawaf ifadhah. Ini menunjukkan bahwa wangi-wangian adalah bagian dari persiapan ibadah, bukan sesuatu yang harus dijauhi secara berlebihan. Hikmahnya: Islam mengajarkan kebersihan, keharuman, dan keindahan dalam beribadah, tanpa melampaui batas.

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh memakai wangi-wangian sebelum niat ihram, baik di badan maupun pakaian yang tidak dipakai untuk ihram.
  2. Bekas wangi yang tersisa setelah ihram tidak membatalkan dan tidak perlu dihilangkan.
  3. Haram memakai wangi-wangian baru setelah niat ihram, baik di badan, pakaian ihram, atau makanan yang beraroma kuat seperti za'faran.
  4. Sunnahnya adalah bersiap dengan wangi terbaik sebelum ihram, sebagaimana yang dilakukan Aisyah رضي الله عنها terhadap Nabi ﷺ.
  5. Ikutilah pemahaman para ulama Ahlus Sunnah seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnu Qayyim dalam memahami hadits ini, agar tidak salah dalam beribadah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?