Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2625 tentang Keutamaan tiga golongan tamu Allah dalam ibadah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan kemuliaan besar bagi tiga golongan yang sedang dalam ketaatan: orang yang berperang di jalan Allah (ghazi), orang yang menunaikan ibadah haji, dan orang yang menunaikan ibadah umrah. Mereka disebut sebagai "tamu Allah" (wafdullah), sebuah gelar kehormatan yang menunjukkan kedekatan, pemuliaan, dan jaminan pertolongan dari Allah ﷻ bagi mereka yang keluar di jalan-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam An-Nasa'i:

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَفْدُ اللَّهِ ثَلاَثَةٌ الْغَازِي وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ

Artinya: "Tamu-tamu Allah itu ada tiga: orang yang berperang (ghazi), orang yang berhaji, dan orang yang berumrah." (HR. An-Nasa'i, no. 2625)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 2892) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 3693) juga meriwayatkannya, dan beliau menilai hadits ini shahih.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

Artinya: "Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah." (QS. Al-Baqarah [2]: 196)

Kaitan dengan Ulama:

Imam Al-Mundziri dalam At-Targhib wa At-Tarhib (2/111) menyebutkan hadits ini dan menegaskan bahwa sanadnya shahih. Adapun makna "wafdullah" (tamu Allah) dijelaskan oleh para ulama, di antaranya Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad (1/17), bahwa mereka adalah orang-orang yang keluar dengan niat ikhlas untuk beribadah kepada Allah, maka Allah memuliakan mereka sebagaimana seorang tuan memuliakan tamunya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa kata "wafd" (وَفْد) dalam bahasa Arab berarti rombongan yang datang mengunjungi seseorang yang mulia untuk meminta penghormatan atau pertolongan. Dalam konteks ini, mereka adalah orang-orang yang sengaja keluar dari rumahnya untuk menghadap Allah ﷻ dengan amalan-amalan ibadah yang agung.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa orang yang berhaji itu bagaikan tamu yang sedang dalam perjalanan menuju rumah Allah. Beliau menggambarkan bagaimana seorang tamu itu dimuliakan, dilayani, dan dijamin kebutuhannya oleh tuan rumah. Maka Allah ﷻ sebagai Dzat Yang Maha Pemurah, pasti akan memuliakan tamu-tamu-Nya dengan ampunan, rahmat, dan pahala yang berlipat ganda.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (4/12) menjelaskan bahwa penyebutan tiga golongan ini menunjukkan keutamaan mereka yang luar biasa. Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji, dan orang yang berumrah — ketiganya sama-sama keluar dari rumah dengan meninggalkan keluarga dan harta benda, semata-mata untuk mentaati perintah Allah. Maka Allah menyebut mereka sebagai tamu-Nya, dan sudah menjadi kebiasaan bahwa tamu itu pasti dijamu dan dimuliakan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar menekankan bahwa gelar "tamu Allah" ini mengandung kabar gembira bahwa Allah akan:

  1. Menerima ibadah mereka
  2. Menjamin kecukupan mereka selama dalam perjalanan
  3. Memberikan pahala yang sempurna di akhirat

Perlu diperhatikan bahwa dalam hadits ini, yang dimaksud ghazi adalah orang yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, bukan untuk tujuan duniawi. Demikian pula haji dan umrah yang dimaksud adalah yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi ﷺ.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri — salah seorang ulama besar tabi'ut tabi'in — pernah ditanya tentang seseorang yang hendak berhaji namun ragu karena biayanya terbatas. Maka beliau berkata, "Jika engkau berhaji dengan hati yang ikhlas, maka Allah akan mencukupkanmu. Tidakkah engkau tahu bahwa orang yang berhaji itu adalah tamu Allah? Dan tidaklah seorang tamu datang kepada tuan rumahnya melainkan tuan rumah itu akan menjamunya."

Kisah ini menunjukkan keyakinan para salaf terhadap janji Allah bagi tamu-tamu-Nya. Mereka tidak ragu bahwa Allah akan memudahkan urusan hamba-Nya yang keluar untuk beribadah kepada-Nya. Keyakinan inilah yang membuat para sahabat dan tabi'in begitu semangat dalam berhaji, meskipun perjalanan di zaman dahulu sangat berat dan penuh bahaya.

Kesimpulan Praktis

  1. Niatkan ibadah haji dan umrah semata-mata karena Allah, bukan karena gengsi, status sosial, atau sekadar mengikuti tren.
  2. Yakinlah bahwa Allah akan menjaga dan mencukupi orang yang keluar di jalan-Nya, sebagaimana seorang tuan menjaga tamunya.
  3. Perbanyak doa selama perjalanan haji dan umrah, karena doa orang yang sedang dalam perjalanan ibadah sangat mustajab.
  4. Jaga adab sebagai "tamu Allah" dengan menjaga lisan, pandangan, dan perilaku selama di tanah suci.
  5. Jika belum mampu berhaji, jangan bersedih — perbanyaklah amalan lain yang juga dicintai Allah, dan berdoalah semoga Allah memudahkan kita untuk menjadi tamu-Nya suatu saat nanti.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?