Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi umat Islam. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa balasan bagi haji yang mabrur (diterima Allah) tidak lain adalah surga. Selain itu, beliau juga mengabarkan bahwa melakukan umrah akan menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara dua umrah tersebut. Ini adalah motivasi yang sangat kuat untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah haji dan umrah dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 2622) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih mereka, sehingga derajatnya adalah shahih dan disepakati keshahihannya.
Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan keutamaan haji dan umrah:
- Nama Surah dan Nomor Ayat: QS. Al-Baqarah [2]: 197
- Teks Arab (potongan ayat yang relevan):
> وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
- Terjemahan/Makna Ringkas: "Dan berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat." Ayat ini menunjukkan bahwa bekal utama seorang yang akan berhaji adalah ketakwaan, yang merupakan inti dari haji yang mabrur.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dalam daftar rujukan kami menjelaskan makna "haji mabrur" ini. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak dicampuri dengan dosa, serta merupakan haji yang sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ dan dilakukan dengan ikhlas karena Allah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya juga menekankan bahwa amalan haji akan menjadi mabrur jika dilakukan dengan ikhlas, mengikuti sunnah, dan menjauhi perbuatan dosa serta perkataan yang sia-sia.
Penjelasan Rinci
Hadits yang mulia ini mengandung dua kabar gembira yang sangat agung:
1. Keutamaan Haji Mabrur: Balasannya Surga
Rasulullah ﷺ bersabda, "Al-hajjatul mabruratu laisa laha jaza'un illal jannah" (Haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga). Ini menunjukkan bahwa pahala haji yang mabrur sangatlah besar, bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan duniawi apa pun.
Para ulama, seperti Imam Ibn Rajab al-Hanbali, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan haji mabrur adalah haji yang:
- Ikhlas karena Allah semata, bukan karena riya' atau ingin dipuji.
- Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ dalam segala rangkaian ibadahnya, dari ihram hingga tahallul.
- Bersih dari dosa dan maksiat, baik perkataan maupun perbuatan. Ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain, "Barangsiapa berhaji karena Allah, lalu ia tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali (dari hajinya) seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan bahwa tanda haji mabrur di antaranya adalah: setelah pulang haji, seseorang menjadi lebih baik dari sebelumnya, lebih taat kepada Allah, dan lebih menjauhi maksiat.
2. Keutamaan Umrah: Penghapus Dosa di Antara Dua Umrah
Sabda Nabi ﷺ, "Wal 'umratu ilal 'umrati kaffaratun lima bainahuma" (Dan umrah dari satu umrah ke umrah yang lain adalah penghapus dosa di antara keduanya). Ini adalah kabar gembira lainnya. Artinya, dosa-dosa kecil yang dilakukan seseorang di antara dua umrahnya akan dihapuskan dengan izin Allah karena keberkahan ibadah umrah tersebut.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dihapuskan adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka ia membutuhkan taubat yang sungguh-sungguh dengan syarat-syaratnya yang telah diketahui.
Kedua ibadah ini, haji dan umrah, adalah bukti ketaatan seorang hamba dan bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah. Keduanya juga merupakan sarana untuk membersihkan jiwa dari dosa dan mendekatkan diri kepada Allah.
Story Telling
Dahulu, ada seorang ulama salaf yang bernama Al-Hasan al-Bashri rahimahullah. Suatu hari, ia melihat seorang laki-laki yang baru saja pulang dari ibadah haji. Wajahnya tampak berseri dan pakaiannya bersih. Al-Hasan al-Bashri bertanya kepadanya, "Wahai saudaraku, engkau baru pulang dari haji?"
"Benar, wahai Abu Sa'id," jawab laki-laki itu.
Al-Hasan al-Bashri kemudian berkata dengan bijak, "Ketahuilah, haji yang mabrur itu bukanlah ketika engkau pulang dengan badan yang sehat dan harta yang masih utuh. Akan tetapi, haji yang mabrur adalah ketika engkau pulang dengan hati yang lebih bersih, jiwa yang lebih takut kepada Allah, dan amal yang lebih baik dari sebelumnya. Maka, jagalah ketakwaanmu setelah engkau pulang dari haji, karena sesungguhnya amal itu dinilai dari akhirnya."
Kisah ini mengajarkan kita bahwa esensi dari haji yang mabrur adalah perubahan diri menjadi lebih baik. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi bagaimana ibadah tersebut membekas dalam hati dan kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Niatkan Haji dan Umrah dengan Ikhlas: Luruskan niat hanya karena Allah, bukan karena gengsi, panggilan sosial, atau sekadar liburan.
- Pelajari dan Amalkan Sunnah: Pelajari tata cara haji dan umrah sesuai tuntunan Nabi ﷺ dari sumber yang shahih, agar ibadah kita sesuai dengan contoh beliau.
- Jaga Lisan dan Perilaku: Selama berhaji dan dalam kehidupan sehari-hari, jauhi perkataan kotor, perbuatan fasik, dan segala bentuk maksiat. Inilah kunci untuk meraih haji yang mabrur.
- Perbanyak Umrah: Jika mampu, perbanyaklah ibadah umrah karena ia adalah penghapus dosa di antara dua umrah.
- Jaga Konsistensi Setelah Ibadah: Jadikan ibadah haji dan umrah sebagai titik awal untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih baik ibadahnya, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.