Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2576 tentang Empat golongan yang dibenci Allah termasuk orang miskin sombong

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang empat golongan manusia yang dibenci oleh Allah ﷻ karena perbuatan mereka yang tercela. Salah satunya adalah "orang miskin yang sombong" (الْفَقِيرُ الْمُخْتَالُ), yaitu seseorang yang tidak memiliki harta namun berperilaku angkuh, membusungkan dada, dan memandang rendah orang lain. Sifat sombong ini sangat dibenci Allah, apalagi jika berasal dari orang yang tidak memiliki alasan untuk berbangga diri. Hadits ini mengajarkan kita untuk selalu rendah hati, baik dalam keadaan kaya maupun miskin.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 2576), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Lafazhnya:

أَخْبَرَنَا أَبُو دَاوُدَ، قَالَ حَدَّثَنَا عَارِمٌ، قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، قَالَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "أَرْبَعَةٌ يُبْغِضُهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْبَيَّاعُ الْحَلاَّفُ، وَالْفَقِيرُ الْمُخْتَالُ، وَالشَّيْخُ الزَّانِي، وَالإِمَامُ الْجَائِرُ"

Makna ringkas: Ada empat orang yang dibenci oleh Allah: pedagang yang banyak bersumpah (palsu), orang miskin yang sombong, orang tua yang berzina, dan pemimpin yang zalim.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan oleh para ulama hadits lainnya. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menilai hadits ini shahih dalam Shahih Sunan An-Nasa'i (no. 2576).

Adapun dalil tentang tercelanya sifat sombong secara umum, Allah ﷻ berfirman:

لَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung." (QS. Al-Isra' [17]: 37)

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung ancaman keras bagi empat golongan yang disebutkan. Mari kita fokus pada poin kedua: "orang miskin yang sombong" (الْفَقِيرُ الْمُخْتَالُ).

1. Makna "الفَقِيرُ الْمُخْتَالُ"

Imam Ibnul Atsir dalam An-Nihayah menjelaskan bahwa al-mukhtal (الْمُخْتَالُ) adalah orang yang berjalan dengan sombong dan angkuh. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa orang miskin yang sombong ini adalah orang yang tidak memiliki harta, namun hatinya dipenuhi kesombongan. Ia merasa dirinya lebih baik dari orang lain, meremehkan mereka, dan tidak mau menerima kebenaran karena gengsi.

2. Mengapa kesombongan orang miskin lebih tercela?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa kesombongan itu tercela secara mutlak, tetapi kesombongan orang miskin lebih parah lagi karena beberapa alasan:

  • Tidak punya alasan untuk sombong: Orang kaya mungkin saja tergoda untuk berbangga dengan hartanya (meski ini juga salah), tetapi orang miskin tidak memiliki harta yang bisa dibanggakan. Kesombongannya murni berasal dari hati yang busuk.
  • Menambah keburukan di atas keburukan: Kemiskinan adalah ujian, dan kesombongan adalah dosa. Menggabungkan keduanya berarti menambah keburukan di atas keburukan.
  • Bertentangan dengan keadaan dirinya: Seharusnya orang miskin lebih tawadhu' (rendah hati) karena kondisinya yang serba kekurangan. Jika ia malah sombong, ini menunjukkan kebodohan dan keburukan hatinya.

3. Sifat sombong adalah penghalang masuk surga

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas'ud)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kibr (kesombongan) di sini adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Adapun orang yang memiliki kesombongan sebesar itu, ia tidak akan masuk surga pada awalnya, meskipun akhirnya bisa masuk setelah dibersihkan dari dosanya.

4. Pelajaran dari hadits ini

Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa hinanya sifat sombong, terlebih jika muncul dari orang yang tidak memiliki kelebihan duniawi. Kesombongan adalah sifat yang dimiliki iblis ketika ia menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam, dengan alasan bahwa ia lebih baik dari Adam.

Story Telling

Ada kisah yang sangat terkenal dari salafus shalih tentang seorang lelaki miskin yang justru sangat tawadhu'. Diceritakan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang tanda orang yang rendah hati. Beliau menjawab:

"Orang yang rendah hati adalah orang yang apabila melihat dirinya dalam keadaan kekurangan, ia tidak merasa hina di hadapan manusia, dan apabila melihat orang lain dalam keadaan berkecukupan, ia tidak merasa iri. Ia menerima kebenaran dari siapa pun, baik dari orang kaya maupun miskin."

Al-Hasan al-Bashri sendiri dikenal sebagai ulama yang sangat zuhud dan sederhana. Beliau hidup dalam kesederhanaan, namun hatinya dipenuhi keimanan dan ketawadhu'an. Beliau tidak pernah merasa rendah karena kemiskinannya, dan tidak pernah merasa tinggi karena ilmunya.

Hikmah: Kemuliaan seseorang tidak diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketakwaan dan kerendahan hatinya. Orang miskin yang tawadhu' lebih mulia di sisi Allah daripada orang kaya yang sombong.

Kesimpulan Praktis

Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Jauhi sifat sombong dalam segala keadaan, baik saat kaya maupun miskin. Kesombongan adalah dosa besar yang bisa menghalangi masuk surga.
  2. Jika kita miskin, jadikan kemiskinan sebagai sarana untuk lebih dekat kepada Allah, bukan sebagai alasan untuk merasa rendah diri atau justru sombong.
  3. Jika kita kaya, jangan berbangga dengan harta, karena semua itu titipan Allah yang bisa diambil kapan saja.
  4. Jauhi tiga sifat lainnya yang disebutkan dalam hadits: pedagang yang banyak bersumpah palsu, orang tua yang berzina, dan pemimpin yang zalim.
  5. Perbanyak doa agar dijauhkan dari sifat sombong, karena kesombongan adalah penyakit hati yang paling berbahaya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.