Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa "miskin" yang sebenarnya bukanlah orang yang meminta-minta dan bisa ditolak dengan pemberian satu atau dua butir kurma. Justru, orang miskin yang hakiki adalah mereka yang menahan diri dari meminta-minta, sehingga orang lain tidak menyadari kebutuhannya. Mereka inilah yang lebih berhak mendapat perhatian dan bantuan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang disebut dalam hadits:
QS. Al-Baqarah [2]: 273
لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا
"Berinfaklah kepada orang-orang fakir yang terikat (berjuang) di jalan Allah; mereka tidak dapat berusaha di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka adalah orang kaya karena mereka memelihara diri dari meminta-minta. Kamu mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta kepada orang lain dengan mendesak."
2. Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 2571) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (no. 1479) dan Imam Muslim (no. 1039) dengan lafaz yang serupa.
3. Kaitan dengan ulama:
Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun tentang para sahabat yang berjuang di jalan Allah dan tidak sempat berdagang atau bekerja, sehingga mereka sangat membutuhkan bantuan namun tidak meminta-minta. Mereka menjaga kehormatan diri dengan tidak mengeluh kepada orang lain.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan pelajaran penting tentang definisi "miskin" menurut syariat. Rasulullah ﷺ mengoreksi pemahaman umum yang keliru bahwa orang miskin adalah yang terlihat meminta-minta. Beliau menjelaskan bahwa orang yang meminta-minta dan bisa ditolak dengan satu atau dua kurma bukanlah miskin yang sebenarnya, karena ia masih bisa menyampaikan kebutuhannya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa orang miskin yang dimaksud dalam ayat dan hadits ini adalah mereka yang menahan diri dari meminta (al-muta'affif). Mereka tidak meminta-minta, bahkan orang lain mengira mereka berkecukupan karena penampilan dan sikap mereka yang menjaga diri. Padahal sebenarnya mereka sangat membutuhkan.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang menjaga kehormatan diri dari meminta-minta, dan bahwa orang seperti ini lebih berhak menerima zakat dan sedekah daripada orang yang meminta-minta. Beliau juga menjelaskan bahwa "al-miskin" dalam konteks ini adalah orang yang tidak meminta-minta, berbeda dengan "al-faqir" yang mungkin saja meminta.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil perkataan para ulama bahwa hadits ini juga mengajarkan adab dalam memberi: hendaknya kita mencari orang-orang yang benar-benar membutuhkan, bukan hanya menunggu orang datang meminta. Karena banyak orang miskin yang malu untuk meminta.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini juga mengandung isyarat bahwa seorang muslim hendaknya berusaha menahan diri dari meminta-minta, karena meminta-minta adalah perbuatan yang tidak disukai kecuali dalam keadaan darurat. Beliau mengutip hadits lain: "Barangsiapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah akan mencukupkannya" (HR. Al-Bukhari no. 1470).
Story Telling
Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat Nabi ﷺ yang ikut dalam perang dan terputus dari harta mereka, hidup dalam keadaan sangat sederhana. Mereka tidak meminta-minta, bahkan menjaga penampilan agar tidak terlihat miskin. Allah ﷻ memuji mereka dalam ayat di atas. Di antara mereka adalah para ahli shuffah (penghuni serambi masjid Nabawi) yang tidak memiliki rumah dan harta, namun mereka tidak meminta-minta kepada orang lain.
Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata tentang ayat ini: "Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta-minta kepada manusia, dan jika mereka diberi tanpa diminta, mereka menerimanya." Ini menunjukkan bahwa sikap terpuji adalah tidak meminta, namun tetap menerima pemberian orang lain dengan lapang dada.
Kesimpulan Praktis
- Definisi miskin yang benar adalah orang yang menahan diri dari meminta-minta, bukan yang terang-terangan meminta.
- Kita dianjurkan untuk mencari dan membantu orang-orang yang membutuhkan yang tidak meminta-minta, karena mereka lebih berhak.
- Kita dianjurkan untuk menahan diri dari meminta-minta kepada manusia, karena Allah ﷻ mencukupi orang yang bersabar dan menjaga kehormatan dirinya.
- Dalam memberi sedekah, jangan hanya menunggu orang datang meminta, tetapi carilah orang-orang yang benar-benar membutuhkan.
- Sikap terpuji adalah tidak meminta, namun jika diberi tanpa diminta, kita menerimanya dengan rasa syukur.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.