Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2571 tentang Miskin sejati adalah yang menahan diri dari meminta-minta

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa "miskin" yang sebenarnya bukanlah orang yang meminta-minta dan bisa ditolak dengan pemberian satu atau dua butir kurma. Justru, orang miskin yang hakiki adalah mereka yang menahan diri dari meminta-minta, sehingga orang lain tidak menyadari kebutuhannya. Mereka inilah yang lebih berhak mendapat perhatian dan bantuan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang disebut dalam hadits:

QS. Al-Baqarah [2]: 273

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا

"Berinfaklah kepada orang-orang fakir yang terikat (berjuang) di jalan Allah; mereka tidak dapat berusaha di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka adalah orang kaya karena mereka memelihara diri dari meminta-minta. Kamu mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta kepada orang lain dengan mendesak."

2. Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 2571) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (no. 1479) dan Imam Muslim (no. 1039) dengan lafaz yang serupa.

3. Kaitan dengan ulama:

Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun tentang para sahabat yang berjuang di jalan Allah dan tidak sempat berdagang atau bekerja, sehingga mereka sangat membutuhkan bantuan namun tidak meminta-minta. Mereka menjaga kehormatan diri dengan tidak mengeluh kepada orang lain.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan pelajaran penting tentang definisi "miskin" menurut syariat. Rasulullah ﷺ mengoreksi pemahaman umum yang keliru bahwa orang miskin adalah yang terlihat meminta-minta. Beliau menjelaskan bahwa orang yang meminta-minta dan bisa ditolak dengan satu atau dua kurma bukanlah miskin yang sebenarnya, karena ia masih bisa menyampaikan kebutuhannya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa orang miskin yang dimaksud dalam ayat dan hadits ini adalah mereka yang menahan diri dari meminta (al-muta'affif). Mereka tidak meminta-minta, bahkan orang lain mengira mereka berkecukupan karena penampilan dan sikap mereka yang menjaga diri. Padahal sebenarnya mereka sangat membutuhkan.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang menjaga kehormatan diri dari meminta-minta, dan bahwa orang seperti ini lebih berhak menerima zakat dan sedekah daripada orang yang meminta-minta. Beliau juga menjelaskan bahwa "al-miskin" dalam konteks ini adalah orang yang tidak meminta-minta, berbeda dengan "al-faqir" yang mungkin saja meminta.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil perkataan para ulama bahwa hadits ini juga mengajarkan adab dalam memberi: hendaknya kita mencari orang-orang yang benar-benar membutuhkan, bukan hanya menunggu orang datang meminta. Karena banyak orang miskin yang malu untuk meminta.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini juga mengandung isyarat bahwa seorang muslim hendaknya berusaha menahan diri dari meminta-minta, karena meminta-minta adalah perbuatan yang tidak disukai kecuali dalam keadaan darurat. Beliau mengutip hadits lain: "Barangsiapa yang menahan diri dari meminta-minta, Allah akan mencukupkannya" (HR. Al-Bukhari no. 1470).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sebagian sahabat Nabi ﷺ yang ikut dalam perang dan terputus dari harta mereka, hidup dalam keadaan sangat sederhana. Mereka tidak meminta-minta, bahkan menjaga penampilan agar tidak terlihat miskin. Allah ﷻ memuji mereka dalam ayat di atas. Di antara mereka adalah para ahli shuffah (penghuni serambi masjid Nabawi) yang tidak memiliki rumah dan harta, namun mereka tidak meminta-minta kepada orang lain.

Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata tentang ayat ini: "Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta-minta kepada manusia, dan jika mereka diberi tanpa diminta, mereka menerimanya." Ini menunjukkan bahwa sikap terpuji adalah tidak meminta, namun tetap menerima pemberian orang lain dengan lapang dada.

Kesimpulan Praktis

  1. Definisi miskin yang benar adalah orang yang menahan diri dari meminta-minta, bukan yang terang-terangan meminta.
  2. Kita dianjurkan untuk mencari dan membantu orang-orang yang membutuhkan yang tidak meminta-minta, karena mereka lebih berhak.
  3. Kita dianjurkan untuk menahan diri dari meminta-minta kepada manusia, karena Allah ﷻ mencukupi orang yang bersabar dan menjaga kehormatan dirinya.
  4. Dalam memberi sedekah, jangan hanya menunggu orang datang meminta, tetapi carilah orang-orang yang benar-benar membutuhkan.
  5. Sikap terpuji adalah tidak meminta, namun jika diberi tanpa diminta, kita menerimanya dengan rasa syukur.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.