Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2562 tentang Tiga golongan tidak dilihat Allah dan tidak masuk surga

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang enam golongan manusia yang mendapat ancaman besar di akhirat. Tiga golongan tidak akan dilihat Allah (yaitu tidak mendapat rahmat dan kasih sayang-Nya) pada Hari Kiamat: anak yang durhaka kepada orang tua, wanita yang menyerupai laki-laki, dan suami yang tidak memiliki kecemburuan (dayyuts). Tiga golongan lagi tidak akan masuk surga: anak yang durhaka kepada orang tua, pecandu khamr, dan orang yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya. Ini adalah peringatan yang sangat serius agar kita menjauhi sifat-sifat tercela tersebut.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat An-Nasa'i:

Teks hadits yang Anda sampaikan adalah riwayat dari Salim bin Abdullah dari ayahnya (Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan lafaz yang serupa.

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Tentang larangan mengungkit-ungkit pemberian (manan), Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima)."

(QS. Al-Baqarah [2]: 264)

Tentang durhaka kepada orang tua, Allah berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah kecuali kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu."

(QS. Al-Isra' [17]: 23)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud "tidak dilihat Allah" adalah tidak dilihat dengan pandangan rahmat dan kasih sayang, bukan berarti Allah tidak mengetahui mereka. Allah Maha Melihat segala sesuatu, tetapi ini adalah bentuk ancaman bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat-Nya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna dayyuts dan ancaman berat baginya.
  • Imam Ibnul Qayyim dalam Ad-Da' wad-Dawa' menjelaskan bahaya khamr dan dampaknya terhadap hati dan keimanan.

Penjelasan Rinci

1. Tiga Golongan yang Tidak Dilihat Allah pada Hari Kiamat:

a. Al-'Aqq (العاق) — Anak yang Durhaka kepada Orang Tua

Durhaka kepada orang tua (uququl walidain) adalah dosa besar yang disebutkan Nabi ﷺ dalam banyak hadits. Bentuknya bisa berupa:

  • Berkata kasar atau membentak orang tua
  • Tidak memenuhi kebutuhan mereka saat tua
  • Meninggalkan mereka tanpa kabar
  • Membuat mereka sedih dan kecewa

Imam Adz-Dzahabi dalam Al-Kaba'ir menyebutkan bahwa durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar yang paling besar setelah syirik. Bahkan dalam hadits lain, Nabi ﷺ menyebutkan bahwa ridha Allah ada pada ridha orang tua, dan murka Allah ada pada murka orang tua.

b. Al-Mar'atul Mutarajjilah (المرأة المترجلة) — Wanita yang Menyerupai Laki-laki

Yaitu wanita yang menyerupai laki-laki dalam penampilan, cara berpakaian, cara berbicara, atau perilaku. Ini termasuk dosa besar karena Nabi ﷺ melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki (HR. Al-Bukhari).

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa larangan ini mencakup meniru pakaian khas laki-laki, gaya rambut, atau perilaku yang khusus bagi laki-laki. Ini berbeda dengan wanita yang memiliki sifat tegas dalam kebenaran, karena itu bukanlah penyerupaan yang dilarang.

c. Ad-Dayyuts (الديوث) — Suami yang Tidak Memiliki Kecemburuan

Dayyuts adalah laki-laki yang tidak memiliki rasa cemburu (ghirah) terhadap keluarganya. Ia rela atau tidak peduli jika istri atau mahramnya melakukan perbuatan yang melanggar syariat. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa dayyuts adalah orang yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarganya, baik dalam perkara yang haram maupun yang syubhat.

Syeikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa seorang suami wajib menjaga keluarganya dari perbuatan maksiat. Ia harus menjadi pemimpin yang baik bagi keluarganya, sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."

(QS. At-Tahrim [66]: 6)

2. Tiga Golongan yang Tidak Masuk Surga:

a. Al-'Aqq — Durhaka kepada Orang Tua (diulang)

Pengulangan ini menunjukkan betapa besarnya dosa durhaka kepada orang tua. Ia disebut dalam dua kelompok sekaligus, yang menunjukkan bahwa dosa ini sangat berat dan ancamannya sangat besar.

b. Al-Mudminu 'Alal Khamr (المدمن على الخمر) — Pecandu Khamr

Khamr adalah segala minuman yang memabukkan, baik dari anggur, kurma, gandum, atau lainnya. Imam Ibnul Qayyim dalam Ad-Da' wad-Dawa' menjelaskan bahwa khamr adalah induk dari segala keburukan. Ia menghilangkan akal, menyebabkan permusuhan dan kebencian, serta menghalangi dari mengingat Allah dan shalat.

Nabi ﷺ bersabda: "Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr adalah haram." (HR. Muslim). Pecandu khamr adalah orang yang terus-menerus mengonsumsinya tanpa tobat, dan ini termasuk dosa besar yang menghalangi masuk surga tanpa tobat terlebih dahulu.

c. Al-Mannan (المنان) — Orang yang Mengungkit-ungkit Pemberian

Mannan adalah orang yang memberi sesuatu kepada orang lain, kemudian menyebut-nyebut pemberiannya, menyakiti perasaan penerima, atau merasa lebih tinggi darinya. Allah melarang perbuatan ini dalam QS. Al-Baqarah [2]: 264.

Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa mengungkit-ungkit pemberian akan menghapus pahala sedekah. Ini menunjukkan kehinaan hati dan kurangnya keikhlasan. Orang yang ikhlas memberi karena Allah tidak akan pernah mengungkit-ungkit pemberiannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri — seorang ulama tabi'in yang sangat terkenal dengan kezuhudannya — pernah ditanya tentang orang yang memberi lalu mengungkit-ungkit pemberiannya. Beliau berkata: "Mereka telah menghapus kebaikan mereka dengan keburukan. Mereka seperti orang yang membangun rumah lalu merobohkannya dengan tangannya sendiri."

Beliau juga sering menasihati: "Janganlah salah seorang dari kalian memberi saudaranya sesuatu, lalu ia sebut-sebut pemberian itu. Karena sesungguhnya hal itu akan menghapus pahala pemberiannya dan memutuskan tali persaudaraan."

Hikmah dari kisah ini: Memberi dengan ikhlas adalah amalan yang mulia, tetapi mengungkit-ungkit pemberian akan merusak keikhlasan dan menghapus pahala. Sebaik-baik pemberian adalah yang diberikan dengan wajah berseri dan tanpa diungkit-ungkit.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi durhaka kepada orang tua — berbaktilah kepada keduanya selagi masih hidup. Jika salah satu atau keduanya telah wafat, sambunglah silaturahmi dengan kerabat dan sahabat mereka.
  2. Jaga fitrah dan identitas — wanita hendaknya menjaga kewanitaannya, dan laki-laki menjaga kelelakiannya, tanpa menyerupai lawan jenis.
  3. Milki rasa cemburu (ghirah) — seorang suami wajib menjaga istri dan keluarganya dari perbuatan maksiat dengan cara yang bijaksana.
  4. Jauhi khamr dan segala yang memabukkan — baik sedikit maupun banyak, karena semua yang memabukkan adalah haram.
  5. Ikhlas dalam memberi — jangan pernah mengungkit-ungkit pemberian, karena itu menghapus pahala dan menunjukkan kurangnya keikhlasan.
  6. Segera bertobat — jika pernah melakukan salah satu dosa di atas, segeralah bertobat dengan tobat nasuha sebelum datangnya kematian.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.