Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2557 tentang Syafaat dalam sedekah mendatangkan pahala bagi pemberi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang keutamaan menjadi perantara kebaikan (syafaat) dalam hal-hal yang mubah dan tidak melanggar syariat. Rasulullah ﷺ sengaja menunda memberikan sesuatu kepada peminta, agar para sahabat yang hadir bisa ikut serta menjadi perantara, sehingga mereka pun mendapat pahala dari Allah. Ini menunjukkan bahwa membantu orang lain, meski hanya dengan menjadi perantara, adalah amalan yang sangat dicintai Allah dan dicontohkan langsung oleh Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat An-Nasa'i:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):

> أَخْبَرَنَا هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرٍو، عَنِ ابْنِ مُنَبِّهٍ، عَنْ أَخِيهِ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "إِنَّ الرَّجُلَ لَيَسْأَلُنِي الشَّىْءَ فَأَمْنَعُهُ حَتَّى تَشْفَعُوا فِيهِ فَتُؤْجَرُوا" وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا"

Makna ringkas: Dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya ada seseorang yang meminta sesuatu kepadaku, lalu aku menundanya (tidak memberinya) sampai kalian menjadi perantara (syafaat) untuknya, agar kalian mendapat pahala." Dan Rasulullah ﷺ juga bersabda: "Bersyafaatlah (jadilah perantara kebaikan), maka kalian akan diberi pahala."

Hadits senada dari riwayat lain:

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

> "اشْفَعُوا إِلَيَّ تُؤْجَرُوا، وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا شَاءَ"

Maknanya: "Bersyafaatlah kalian kepadaku (mintakanlah sesuatu untuk orang lain), niscaya kalian akan diberi pahala. Dan Allah memutuskan melalui lisan Nabi-Nya apa yang Dia kehendaki." (HR. Al-Bukhari, no. 1432)

Dalil Al-Qur'an yang terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

> مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

QS. An-Nisa' [4]: 85

Maknanya: "Barangsiapa memberikan syafaat (perantaraan) yang baik, niscaya dia akan mendapat bagian (pahala) darinya. Dan barangsiapa memberikan syafaat yang buruk, niscaya dia akan mendapat bagian (dosa) darinya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa kata "syafaat" dalam hadits ini bukanlah syafaat di akhirat yang khusus untuk para nabi dan orang-orang pilihan, melainkan syafaat dalam arti menjadi perantara kebaikan di dunia. Ini adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam.

1. Penjelasan Makna Hadits:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seorang pemimpin atau orang yang memiliki kekuasaan untuk menunda memberikan sesuatu kepada peminta, dengan tujuan agar orang lain ikut serta menjadi perantara. Hal ini dilakukan agar pahala tersebar kepada lebih banyak orang, dan agar hati para sahabat terlatih untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan.

2. Hikmah di Balik Perintah Nabi ﷺ:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya menjadi perantara dalam kebaikan, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Beliau juga menegaskan bahwa syafaat yang dimaksud di sini adalah syafaat dalam hal-hal yang mubah dan tidak mengandung kemungkaran.

3. Batasan Syafaat yang Dibolehkan:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa syafaat (perantaraan) yang terpuji adalah yang dilakukan untuk kebaikan dan tidak melanggar syariat. Adapun syafaat yang tercela adalah yang membantu dalam kemaksiatan atau kezaliman. Beliau berkata: "Syafaat itu terbagi menjadi dua: syafaat dalam kebaikan yang diperintahkan, dan syafaat dalam keburukan yang dilarang."

4. Penerapan Para Salaf:

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah sering kali menjadi perantara untuk kebutuhan orang-orang di zamannya. Beliau tidak pernah merasa berat untuk membantu urusan kaum muslimin, meskipun hanya dengan menjadi perantara. Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat menjaga amalan ini.

5. Keutamaan Menjadi Perantara:

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. An-Nisa' [4]: 85 menunjukkan besarnya keutamaan menjadi perantara kebaikan. Bahkan pahala orang yang menjadi perantara bisa setara dengan pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut, karena dia adalah sebab terjadinya kebaikan itu.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta sesuatu. Beliau ﷺ tidak langsung memberikannya, tetapi bersabda kepada para sahabat yang hadir: "Bersyafaatlah kalian, maka kalian akan diberi pahala." Maka para sahabat pun berbondong-bondong menjadi perantara untuk orang tersebut, sehingga kebutuhan orang itu terpenuhi dan mereka semua mendapat pahala dari Allah.

Kisah ini menunjukkan betapa indahnya ajaran Islam yang mengajarkan umatnya untuk saling tolong-menolong. Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan untuk memberi, tetapi juga mengajarkan agar setiap orang bisa ikut serta dalam kebaikan, meskipun hanya dengan menjadi perantara. Ini adalah bentuk kasih sayang beliau kepada umatnya, agar pahala kebaikan bisa dinikmati oleh banyak orang.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersemangatlah menjadi perantara kebaikan — Jika ada saudara kita yang membutuhkan pertolongan, jangan ragu untuk membantu, meskipun hanya dengan menjadi perantara atau menyampaikan kebutuhannya kepada orang yang mampu.
  2. Jadilah orang yang bermanfaat — Salah satu ciri orang beriman adalah suka membantu urusan orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
  3. Perhatikan batasan syariat — Syafaat atau perantaraan yang dibolehkan adalah yang membantu dalam kebaikan. Adapun membantu dalam kemaksiatan atau kezaliman adalah dosa besar.
  4. Jangan meremehkan kebaikan kecil — Menjadi perantara mungkin terlihat sederhana, tetapi di sisi Allah pahalanya sangat besar. Jangan pernah meremehkan amalan kebaikan sekecil apa pun.
  5. Latih diri untuk peka terhadap kebutuhan orang lain — Jadilah pribadi yang ringan tangan dan ringan hati untuk membantu sesama, sebagaimana para sahabat dan ulama salaf mencontohkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.