Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2533 tentang Keutamaan memberi dibanding meminta

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa memberi (berinfak/sedekah) lebih mulia daripada meminta-minta. Tangan "di atas" (yang memberi) lebih baik daripada tangan "di bawah" (yang menerima/meminta). Islam mendorong kita bekerja, mencukupi diri, dan menahan diri dari meminta tanpa kebutuhan mendesak.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Zakat, Bab "Tangan Bawah", dari jalur Imam Malik (dalam Al-Muwaththa'), dari Nafi', dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما.

Teks hadits:

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَالْيَدُ الْعُلْيَا الْمُنْفِقَةُ وَالْيَدُ السُّفْلَى السَّائِلَةُ

Terjemahan: "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah; tangan yang di atas adalah yang memberi, dan tangan yang di bawah adalah yang meminta."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:

وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ ۚ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ

(QS. Muhammad [47]: 38)

Terjemahan: "Dan siapa yang kikir, sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah Maha Kaya, sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan."

Juga firman Allah:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا

(QS. Al-Baqarah [2]: 273)

Terjemahan: "(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah, yang tidak dapat bepergian di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena mereka memelihara diri dari meminta-minta. Kamu dapat mengenal mereka dari tanda-tandanya; mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menjelaskan keutamaan memberi dibanding meminta. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "tangan di atas" adalah tangan pemberi (al-munfiqah), sedangkan "tangan di bawah" adalah tangan peminta (as-sa'ilah). Yang dimaksud "lebih baik" adalah lebih utama pahala dan kedudukannya di sisi Allah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini mendorong umat untuk berusaha (kasb) dan menjauhi meminta-minta tanpa kebutuhan. Beliau juga menukil bahwa sebagian salaf memilih bekerja keras meski berat daripada meminta kepada manusia.

Imam Ahmad bin Hanbal dan Sufyan ats-Tsauri menegaskan bahwa meminta-minta hanya dibolehkan dalam keadaan darurat. Al-Hasan al-Bashri berkata bahwa meminta tanpa kebutuhan adalah kehinaan yang tidak layak bagi seorang mukmin.

Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa sedekah mengangkat derajat pemberi, sedangkan meminta tanpa darurat merendahkannya. Beliau membagi manusia: pemberi (munfiq), pencari rezeki dengan usaha (kasib), dan peminta (sa'il). Yang terbaik adalah yang memberi setelah bekerja.

Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa menahan diri dari meminta (ta'affuf) adalah akhlak mulia yang dipuji Al-Qur'an, sebagaimana ayat di atas.

Perbedaan pendapat: sebagian ulama memaknai "tangan di atas" sebagai pemberi sedekah wajib, sebagian lagi mencakup semua bentuk kebaikan. Namun jumhur ulama (Malik, Syafi'i, Ahmad) sepakat maknanya umum: setiap pemberi kebaikan lebih utama dari peminta.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar رضي الله عنهما — perawi hadits ini — adalah sosok yang sangat dermawan. Meski beliau seorang yang zuhud, beliau tidak pernah meminta kepada manusia. Imam Malik menukil bahwa Ibnu Umar pernah berkata: "Aku tidak pernah meminta sesuatu kepada seseorang sejak aku masuk Islam." Beliau lebih memilih bekerja dan memberi, sesuai dengan hadits yang beliau riwayatkan sendiri. Ini menunjukkan bahwa para sahabat tidak hanya meriwayatkan, tetapi mengamalkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Utamakan memberi (sedekah, zakat, infak) daripada meminta.
  2. Bekerjalah dengan halal untuk mencukupi diri dan keluarga.
  3. Tahan diri dari meminta selama masih mampu (ta'affuf).
  4. Jika terpaksa meminta, hanya sebatas kebutuhan darurat.
  5. Didiklah keluarga untuk mandiri dan dermawan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?