Penjelasan Hadits Nasa'i No. 2402 tentang Puasa Dawud adalah puasa paling utama

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dialog indah antara Nabi ﷺ dan sahabatnya Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhu. Intinya, Nabi ﷺ mengajarkan bahwa puasa yang paling utama dan paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Dawud 'alaihis salam, yaitu puasa selang-seling: sehari berpuasa dan sehari berbuka. Ini adalah puncak keseimbangan antara ibadah dan hak-hak tubuh, keluarga, serta hak Allah. Hadits ini juga menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ yang tidak memaksa sahabatnya untuk berpuasa terus-menerus, tetapi membimbingnya menuju amalan yang paling utama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 2402), juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih mereka, dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang terkait tentang puasa dan kemudahan yang Allah berikan:

QS. Al-Baqarah [2]: 185

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

"Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu."

Hadits terkait dari riwayat lain yang memperkuat makna ini, dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا" (رواه البخاري ومسلم)

"Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud. Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari."

Kaitan dengan ulama: Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan puasa Dawud dan bahwa itu adalah puasa yang paling utama secara mutlak. Beliau juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membimbing Abdullah bin Amr secara bertahap dari tiga hari, lima hari, hingga akhirnya menetapkan batas maksimal yang tidak boleh dilewati, yaitu puasa Dawud.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Latar Belakang Kisah

Abdullah bin Amr bin al-Ash adalah sahabat yang sangat rajin beribadah. Beliau berpuasa hampir setiap hari dan tidak pernah berbuka. Ketika Nabi ﷺ mendengar hal ini, beliau datang ke rumah Abdullah bin Amr. Dalam riwayat ini, Abdullah bin Amr menyambut Nabi ﷺ dengan bantal kulit, namun Nabi ﷺ justru duduk di lantai dan meletakkan bantal itu di antara mereka berdua. Ini menunjukkan tawadhu' (kerendahan hati) Nabi ﷺ.

2. Bimbingan Bertahap

Nabi ﷺ menawarkan puasa tiga hari setiap bulan. Abdullah bin Amr merasa mampu lebih, maka Nabi ﷺ menaikkannya menjadi lima, tujuh, sembilan, sebelas hari. Namun ketika Abdullah bin Amr masih merasa mampu, Nabi ﷺ menghentikan dan menetapkan batas akhir: puasa Dawud, yaitu sehari puasa dan sehari berbuka.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitab Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa bimbingan bertahap ini adalah metode pengajaran yang bijak. Nabi ﷺ tidak langsung melarang atau memerintah, tetapi membiarkan sahabatnya melihat sendiri batas kemampuannya, lalu menetapkan batas yang paling utama.

3. Mengapa Puasa Dawud Paling Utama?

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa puasa Dawud adalah puasa yang paling seimbang karena:

  • Puasa sehari dan berbuka sehari membuat tubuh tidak kelelahan
  • Setiap hari yang berpuasa diselingi hari berbuka, sehingga ibadah tidak terasa memberatkan
  • Ini adalah puasa yang paling mendekatkan hamba kepada Allah tanpa mengabaikan hak-hak lain

4. Larangan Berlebihan dalam Ibadah

Hadits ini juga mengajarkan bahwa berlebihan dalam ibadah tidak disukai. Nabi ﷺ bersabda di akhir hadits: "لا صوم فوق صوم داود" (Tidak ada puasa di atas puasa Dawud). Ini adalah batas maksimal yang tidak boleh dilewati.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa larangan ini karena berpuasa terus-menerus akan melemahkan tubuh, sehingga seseorang tidak mampu menjalankan kewajiban lain, bahkan bisa membuatnya bosan dan meninggalkan ibadah sama sekali.

5. Hak Tubuh dan Keluarga

Dalam riwayat lain (HR. Bukhari dan Muslim), Nabi ﷺ bersabda kepada Abdullah bin Amr: "إِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا" (Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu). Ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan ekstremisme dalam ibadah, tetapi keseimbangan.

Story Telling

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau berkata:

"Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: 'Wahai Abdullah, apakah benar kamu berpuasa setiap hari dan shalat malam setiap malam?' Aku menjawab: 'Ya, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Jangan lakukan itu! Berpuasalah dan berbukalah, shalatlah dan tidurlah. Karena tubuhmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu, istrimu memiliki hak atasmu, dan tamumu memiliki hak atasmu. Cukuplah bagimu berpuasa tiga hari setiap bulan, karena satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, maka itu seperti puasa sepanjang tahun.'"

Abdullah bin Amr berkata: "Aku merasa mampu lebih, maka aku katakan: 'Wahai Rasulullah, aku mampu lebih.' Beliau bersabda: 'Maka berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Itulah puasa Dawud 'alaihis salam, dan itu adalah puasa yang paling utama.'"

Namun di akhir hidupnya, Abdullah bin Amr menyesal dan berkata: "Duhai, sekiranya aku menerima keringanan yang diberikan Rasulullah ﷺ!" (HR. Bukhari no. 1976)

Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa ibadah yang dilakukan secara berlebihan bisa membuat seseorang menyesal di kemudian hari karena tidak bisa mempertahankannya. Sedangkan amalan yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit, lebih dicintai Allah. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ" (Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit).

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan berlebihan dalam ibadah — Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah, hak tubuh, keluarga, dan masyarakat.
  2. Puasa Dawud adalah puasa sunnah paling utama — sehari puasa, sehari berbuka. Ini adalah batas maksimal yang diajarkan Nabi ﷺ.
  3. Jika belum mampu puasa Dawud, mulailah dengan puasa tiga hari setiap bulan — yaitu puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), karena pahalanya seperti puasa setahun penuh.
  4. Konsistensi lebih utama daripada kuantitas — amalan kecil yang rutin lebih dicintai Allah daripada amalan besar yang hanya sesekali.
  5. Hormati hak-hak orang lain — jangan sampai ibadah kita mengabaikan hak keluarga, tetangga, atau orang-orang yang membutuhkan kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?